BAD GIRL

BAD GIRL
Bab 217


__ADS_3

Bab 117


"Kenapa lho lakuin itu Zhe? Apa lho mikir resikonya bakal gimana di kehidupan lho nantinya"


"Gue hanya ingin Tante Sarah hidup lebih lama, walaupun waktu itu gue tahu, percuma aja gue donorin ginjal karena Tante juga mengidap penyakit mematikan lainnya. Tapi, gue tetap ingin donorin ginjal gue dan maksa dokter Adnan untuk melakukannya. Gue ingin Tante Sarah bisa selamat, karena dia sama kayak kalian yang tulus banget dan baik ke gue, padahal gue bukan siapa-siapa nya dia waktu itu. Dia ngerawat gue kayak karabatnya sendiri, itulah kenapa gue berharap Tante bisa hidup lebih lama"


"Tapikan...nggak bisa gitu juga dong Zhe" ucap Rere


Niko hanya diam mendengar penjelasan Zhea.


"Nik, gue minta maaf ya kalo gue ngecewain lho dan kalian semua" ucap zhea memegang satu tangan niko


Niko tampak berpikir, dia memikirkan zgea dan aktivitasnya. Dia yakin zgea nggak mungkin meninggalkan aktivitas yang dia lakukan itu meskipun exsel melarangnya.


"Nik...."


"Gue minta lho berhenti silat dan balapan"


"Lho ngomong Apaan sih nik?" Ucap zhea melepaskan tangan Niko


"Itu yang terbaik buat kesehatan lho Zhe"


"Gue nggak mau! Lho tahu sendirikan, alasan gue sering kabur dari mansion karena ingin bebas bisa balapan dan bela diri"


"Apa yang di katakan Niko benar Zhe, ini buat kebaikan lho" ucap Rio


"Gue nggak bisa"


"Kalo gitu gue bakal berenti kuliah dan ikut balapan demi jaga lho!" Ucap Niko


"Nik, lho jangan mojokin gue kayak gini dong"


"Semua pilihan ada di tangan lho Zhe. Kalo gue nggak kayak gini, gue yakin seberapa kerasnya usaha dokter exsel buat melarang lho, lho tetap bakalan pergi dengan aktivitas-aktivitas lho itu"


"Gue nggak bisa milih nik!"


"Kalo gitu gue bakalan korbanin masa depan gue demi jagain lho"


"Nik, lho kok kayak gini sih sama gue"


"Lho terlalu keras kepala Zhe!"


Hening


"Bagaimana jika kita ambil jalan tengahnya saja" ucap exsel


"Maksud dokter?"


"Zhea boleh balapan, saya yang akan menemaninya. Tapi,dia tidak boleh ikut kelas bela diri lagi. Karena jujur saja, dari dulu saya ingin melarang zhea untuk berlatih silat" ucap exsel


"Ide bagus. Gimana Zhe? Lho setuju?" Ucap rio


"Oke!" Ucap zhea dengan penuh keterpaksaan

__ADS_1


"Gimana nik? Lho setuju kan?" Ucap Rere


"Gue setuju jika benar dokter exsel yang akan menemani zhea balapan. Silat terlalu beresiko dan bahaya buat lho Zhe. Walaupun balapan jauh lebih berbahaya tapi kita selalu memakai pengamanan sebelum balapan. Sementara silat, bisa saja lawan lho nanti mengetahui kelemahan lho dan menggunakan kelemahan lho itu buat ngalahin lho. Iya kalo cuma buat nagalahin, bagaimana jika ada yang berniat menyakiti lho Zhe. Kita tahu sendiri bagaimana orang-orang di kelas bela diri itu. Mereka selalu saja nggak ingin kalah"


"Iya nik, gue ngerti. Sesuai keinginan lho, gue nggak bakalan datang ke kelas bela diri lagi"


"Bagusss" ucap Niko mengacak-acak rambut zhea.


Exsel hanya tersenyum melihat interaksi persahabatan mereka. Zhea sangat beruntung memiliki sahabat yang begitu peduli dan sayang padanya. Walaupun dia tahu, Niko mempunyai perasaan lebih ke zhea, tapi semua yang di lakukan Niko adalah untuk melindungi dan menjaga zhea. Sebenarnya exsel merasa iri dan kalah dari Niko, karena Niko tahu segalanya mengenai zhea dan bisa membuat zhea menurut. Tapi, di lain sisi exsel juga senang, karena Niko bisa membuat zhea tak berkutik


-----------------


Saat ini semua orang sedang merayakan ultahnya zhea dan Rere, karena kondisi zhea yang belum setabil mereka merayakan ultah di saat jam pulang kampus.


"Aneh ya re, ngerayain ultah sore hari kayak gini" ucap zhea, mereka sekarang berada di restoran biasa mereka ngumpul


"Iya sih, biasanya kan kita rayain ya di jam 12 malam. Tapi nggak apa-apa, yang penting Rio sama Niko ada di sini" ucap Rere


"Kondisi tubuh kamu tuh masih lemah Zhe. jadi, kita rayain sore-sore gini aja. Nanti malam, juga ada undangan dari orang tua kamu. Kita juga nggak bisa rayain malam ini, kalo rayain malam-malam lainnya kan nggak mungkin, tanggalnya udah beda" ucap exsel


"Undangan mereka tuh nggak penting. Biasanya juga nggak pernah ingat"


"Udah nggak apa-apa Zhe, yang pentingkan di rayain" ucap Rere


"Rio, Niko kadonya mana? Kalian udah lewat satu bulan lho ngasih kado ke gue" sambung rere


"Ngomongnya nanti lagi ya, tiup lilinnya dulu. Keburu mati lilinya ntar" ucap Rio


Niko tertawa kemudian berucap "kita nggak mungkin lupa re. Kalo kita lupa, mendingan kita nggak usah rayain deh nih ultah. Bisa di amuk kita ntar sama lho, ya nggak Yo" ucap Niko menyenggol Rio


"Awas aja kalo kadonya nggak ada. Benar-benar gue amukin kalian" ucap rere


Mereka pun mulai menyanyikan lagu ulang tahun, Rere dan zhea lalu meniupi lilin.


"Buat permintaan dulu, baru tiup lilinnya" ucap Rio


"Gue harap, kalian menang balapan dan menjadi pembalap go internasional, dan kita bakalan nyusul tahun depannya" ucap Rere lantang


"Yang namanya permintaan itu di ucapin dalam hati re" ucap Niko


Rere dan zhea menutup mata membuat permintaan


"Gue harap, kita semua bisa gapai cita-cita kita menjadi pembalap internasional. Dan, exsel selalu ada di samping gue" batin zhea


"Selain ingin jadi pembalap yang hebat, gue juga ingin apa yang mama papa inginkan tercapai. Dan Rio mau nikahin gue" batin Rere


Keduanya lalu membuka matanya dan meniupi lilin.


"Jadi, kadonya mana?" Ucap Rere


"Ini" ucap Rio memberikan paper bag ke Rere


"Punya zhea mana Yo? Lho nik? Kado lho mana"ucap Rere

__ADS_1


"Hadiah itu dari gue dan Rio. Buka aja, punya zhea juga ada, nggak mungkin dong kita melupakan adik kesayangan kita ini" ucap Niko merangkul zhea. Sementara zhea hanya tersenyum.


"Wah" ucap Rere ketika membuka kadonya.


Hadiah yang di berikan oleh Rio dan Niko berupa jam tangan limited edition terbaru.


"Berapa harganya? Pasti mahal banget kan?" Ucap Rere yang masih takjub melihat jam tangannya


"Pakai aja, nggak usah banyak tanya" ucap Rio memasangkan jam itu ke tangan Rere


"Cantik" Sambungnya


"Gue mah, mau pakai apa aja selalu cantik" ucap Rere


"Nggak usah di puji Yo, terbang dia ntar" ucap zhea


"Iyain aja Zhe, kan di ngaku-ngakunya Queen kecantikan tuh" sahut Niko


"Bukan ngaku-ngaku ya nik, emang gue cantik kok, pakai banget malahan" ucap Rere bangga


Sementara itu, zhea membuka kadonya, hadiah yang sama seperti Rere sebuah jam tangan.


"Bagus banget kak Zhe" ucap Rere ketika zhea memakai jam tangan itu


"Udah pasti bagus re, orang harganya nggak kaleng-kaleng" ucap zhea mereka semua lalu tertawa


Exsel yang sedari tadi diam, tiba-tiba mendapatkan telpon.


"Kalian lanjutan saja, saya angkat telpon sebentar"


"Zhe, dokter exsel nggak ngasih lho kado gitu" ucap Rere ketika exsel pergi


Zhea hanya mengendikkan bahunya karena memang dia belum mendapatkan kado dari exsel


"Ishh dah, nggak romantis banget. Biasanya tuh ya di drama-drama, seorang suami akan ajak dinner istrinya di rooftop, terus ngasih suprise dan perhiasan"


"Itu drama re, bedalah dengan kenyataan" ucap Rio


"Mungkin, dokter exsel memang membuat kejutan kali. Makanya dia belum ngasih kado ke zhea" sahut niko


"Udahlah gue juga nggak berharap apa-apa sama dia. Dia baik dan mau nerima gue aja, udah hadiah kok bagi gue" ucap zhea


Exsel kembali dengan raut wajah panik.


"Ada apa dok?" Tanya Niko


"Mm, maaf. Sepertinya saya tidak bisa mengikuti acara ini Sampai selesai. Ada operasi mendadak di rumah sakit. Sementara Adnan dan profesor tidak ada di rumah sakit sekarang"


Semua orang yang ada di sana mengangguk memahami posisi exsel.


"Zhea aku pergi dulu ya. Maaf nggak bisa lama-lama. Selamat ulang tahun istriku, semoga selalu bahagia dan hal-hal baik lainnya datang ke kamu" ucap exsel mengecup dahi zhea agak lama, lalu memasangkan kalung di leher zhea.


"Aku pergi dulu" sambungnya kemudian berlari keluar dari restoran

__ADS_1


__ADS_2