
Bab 156
Mereka sampai di restoran ternama di sana, dan duduk di meja dekat kolam renang. Dengan suasana yang romantis.
"Wahh, restoran ini bagus banget. Kakak tahu dari mana tentang restoran ini" ucap tasya
"Lihat internet. Pesan aja makanan apa aja yang kalian mau" ucap Rio singkat, lalu menghidupkan laptopnya.
"Kakak lagi ngapain, kan kita mau makan ini"
"Ngerjain tugas. Lagian yang lapar itu lho bukan gue"
"Ngerjain tugasnya nanti aja kak. Sekarang kita makan dulu"
"Gue nggak ada waktu. Gue sibuk latihan"
Tasya terdiam tak bisa lagi berkata-kata. Sementara itu celline dan Niko merasa nggak enak dalam situasi mereka saat ini.
Celline yang malu karena ulah Tasya, Niko yang ga enakan dengan celline karena sikap Rio yang acuh pada Tasya.
Makanan memenuhi meja mereka. Mereka menikmati makanan mereka dengan perasaan tak menentu. Kecuali Rio yang hanya berfokus pada layar laptopnya.
Hp Niko berdering, panggilan video call dari Rere.
"Rere" ucap Niko bersemangat, menerima panggilan video.
Rio menghentikan aktivitasnya, ketika nama Rere di sebut.
__ADS_1
"Ya, re. Gimana kabar lho hari ini?" Ucap Niko
"Kurang baik nik"
"Kenapa?"
"Liat tuh" Rere mengalihkan kameranya ke belakang. Memperlihatkan motor Niko yang tergeletak agak jauh darinya.
"Lho jatoh dari motor" ucap Niko yang menebak kejadian yang di alami Rere.
"Heum" ucap Rere membalikkan kembali kamera
"Kok bisa? Terus zhea di mana?"
"Zhea latihan mobil, sepulang ngampus kita mencar"
"Terus? Lho gimana apa ada yang luka?"
"Liat nih" Rere memperlihatkan luka di salah satu lututnya dan luka di tangannya
"Gue kan udah bilang, jangan ke sirkuit sendirian" ucap Rio
"Apaan sih lho, lho tuh nggak di ajak tahu nggak. Pergi sana, atau gue matiin nih panggilan"
"Udah Yo, duduk aja dulu. Biar gue yang ngomong sama Rere, buat nanya keadaannya"
Dengan berat hati Rio kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Tasya sakit hati, melihat ke khawatiran di wajah Rio pada Rere. Bahkan dnegan dirinya, Rio tidak peduli sedikitpun.
"Terus gimana? Bisa jalan nggak?" Ucap Rio
"Kaki gue sakit banget dan susah di gerakin"
"Apa tertindih motor"
Rere hanya mengangguk.
"Astaga re, makanya hati-hati. Lain kali, lho nggak boleh pergi ke sirkuit sendirian"
"Gue nggak ada kerjaan nik, gue bosan kalo cuma di apartemen doang. Zhea juga sibuk"
"Terus? Kenapa lho nggak ikut sama zhea aja"
"Bosan gue, nungguin dia latihan itu Alma banget. Lho tahu sendirikan zhea gimana?"
"Iya,iya. Sekarang lho Telpon orang buat jemput lho dari sana , abis itu ke rumah sakit, buat ngecek kaki lho"
"Nelpon siapa? Gue tadi ngehubungi zhea, tapi nggak di angkat. Tahu sendiri zhea kalo udah latihan nggak peduli apapun lagi. Makanya gue ngehubungi lho"
"Kalo kayak gitu lho nggak bisa pergi dong re dari sana. Coba deh lho hubungin orang yang bisa bantuin lho"
"Siapa yang bisa bantuin gue? Lho tahu sendiri, gue nggak punya keluarga di sini. Gue cuma punya kalian bertiga, lho di sana dan zhea sibuk" Rere sengaja tidak menyebut nama Rio, karena masih marah
Rio benar-benar merasa bersalah meninggalkan Rere. Terlintas di pikirannya, kembali lagi ke Indonesia dan menjaga Rere Seperti dulu.
__ADS_1
"Coba lho berdiri, kira-kira bisa jalan nggak"
"Nggak bisa nik, gue udah coba tadi, kaki gue sakit banget kalo di gerakin. Ini aja gue merangkak karena hp gue jatoh di sini. Untung hpnya nggak rusak, jadi bisa hubungin lho"