
Bab 108
"Jika semuanya menolak bagaimana?"
"Udah deh, saya malas debat dengan anda. Urusi saja Perusahaan anda, tidak perlu repot-repot memikirkan saya"
"Tidak perlu memikirkan kamu, kamu bilang. Zhea, kamu itu anak saya jadi dengarin dan patuhi aturan saya",
"Aturan apa yang harus diikuti? Diam di rumah, menuruskan bisnis anda dan menikah dengan Zein begitu?"
"Memeng Seperti itu seharusnya,"
"Sudahlah tidak perlu berharap! Sampai matipun apa yang anda harapkan dari saya, itu tidak akan pernah terjadi"
"Zheaaa" Leon ingin menampar zhea, tapi di cegah oleh exsel.
"Maaf, tuan. Jangan membuat keributan di sini. Lagi pula zhea juga belum di keluarkan dari universitas ini. Saya akan membawanya kembali ke kelas" ucap exsel menarik zhea pergi.
Leon menarik nafas dalam-dalam kemudian pergi meninggalkan universitas itu.
"Lepas!" Ucap zhea menghempaskan tangannya
"Belum puas kamu membuat keributan"
"Apapun itu nggak ada urusannya sama lho"
"Oke, memang nggak ada urusannya sama saya. Tapi, kamu itu salah satu mahasiswi saya, dan apapun masalah yang kamu perbuat juga berdampak pada saya. Aku kamu mengerti. Tidak bisakah kau mengikuti aturan di universitas ini. Jika tidak ingin saya menjadi dosen pembimbing kamu oke, fine tidak masalah. Tapi, tolong patuhi aturan yang berlaku di universitas dan kelas. Kau mengerti"
__ADS_1
"Gue udah bilang sama lho, itu bukan urusan lho!"
"Sekarang, lakukan apa yang kau mau. Dan lebih baik kau mengundurkan diri dari universitas ini dari pada kau di keluarkan. Kau mengerti!"
Tiba-tiba ponsel exsel berdering, dan yang menelponnya adalah Adnan.
Exsel langsung menerima panggilan telpon itu.
"Ya, nan ada apa"
"Cepatlah kerumah sakit, Tante...." Belum selesai Adnan bicara. Exsel langsung mematikan sambungan telponnya. Dan beranjak masuk ke mobil.
Merasa ada yang ngeganjal zhea pun mengikutinya"
"Zhe, lho mau kemana" teriak Rere
"Terus kita sekarang, kemana dong" ucap Rere
"Ngikutin zhea aja" ucap Rio
Mereka berdua lalu berlari ke parkiran motor.
Sesampainya di rumah sakit, exsel langsung memasuki ruangan Sarah. Dimana Sarah sudah di tutupi selimut. Adnan dan para suster lainnya hanya menunduk diam.
Seketika tubuh exsel melemah, melihat jenqzqh mamanya itu.
"Mama...." Tangis exsel pecah memeluk jenazah sang mama
__ADS_1
"Maaf sel, 5 menit yang lalu tiba-tiba kondisi Tante ngedrop Dan kita nggak bisa berbuat apa-apa"
"Nggak ma... Bangun ma. Please" ucap exsel
"Sabar sel, mungkin ini yang terbaik untuk Tante. Dia juga sudah tidak merasakan kesakitan lagi sekarang"
Exsel jatuh kelantai, tidak bisa berkata-kata, lagi.
"Kau tetaplah disini, dan bersabarlah. Aku akan mengurus semuanya termasuk pemakaman Tante. Yang sabar sel, Tante udah tenang di sana" ucap Adnan menepuk-nepuk bahu exsel, kemudian beranjak pergi.
Sementara zhea, Rere dan Rio melihat semua kejadian itu dari luar ruangan.
"Kalian, bantulah dokter Adnan mengurusi semuanya" ucap zhea. Rio dan Rere pun mengangguk setuju.
---------
3 jam kemudian, pemakaman Sarah pun Selesai. Exsel memandangi kuburan mamanya itu dengan tatapan kosong, sambil menaburkan bunga.
"Maaf, tidak ada di samping mama di saat-saat terakhir mama" ucap exsel
"Lho udah ngelakuin yang terbaik sel" ucap Adnan
Rere menangis di dalam pelukan Rio.
"Gue mau pulang. Gue mau ketemu sama mama, gue nggak mau kejadian ini terjadi juga sama gue. Gue juga tiba-tiba kangen sama mama. Pesanin gue tiket pesawat yo" ucap Rere di tengah tangisnya.
"Iya-iya kita pulang sekarang. Zhe, ayo pulang" ucap Rio
__ADS_1