
Bab 176
Niko dan Rio bersiap-siap untuk balapan. Zhea memeriksa motor Niko dan Rio bergantian.
"Lho ngapain sih Zhe?" Ucap Niko
"Cuma ngecek motor lho aja. Gue takut ada yang nyabotase motor kalian"
"Lho kepikiran sama ancaman Zein dulu?" Ucap Niko
"Sekarang pun dia dan tuan marga selalu ngancam gue"
"Motor kita itu nggak kenapa-kenapa Zhe. Buktinya kemaren saat latihan nggak ada Masalah"
Zhea mengganguk "gue cuma khawatir sama kalian. Saat balapan nanti, lakuin dengan santai dan rileks, tapi harus fokus. Nggak usah tegang, pokoknya santai aja"
"Iya-iya. Tapi, kalo terlalu santai kalah dong kita ntar"
"Maksud gue bukannya santai kayak gitu"
"Haha, iya-iya gue ngerti. Nggak usah khawatir, kita bakalan ngelakuin sebaik mungkin. Ya kan Yo?"
"Iya Zhe. Lho tenang aja"
Tasya datang menghampiri mereka. Melihat Rio sedang memasang kaos tangannya, dia pun merebut kaos tangan Rio dan membantu Rio memakainya.
"Sini Kak biar aku bantu pasangin"
"Gue bisa sendiri"
"Nggak apa-apa kak, aku aja yang bantuin"
__ADS_1
Rio melihat Rere karena takut Rere akan bertambah marah padanya. Tapi, Rere malah bersikap santai melihat interaksi keduanya.
"Semangat ya kak, kakak pasti bisa menangin balapan ini"
"Heum. Makasih"
Sementara itu, exsel dan Adnan baru sampai di lokasi balapan.
"Benar ini lokasi yang di maksud" ucap exsel
"Kayaknya sih iya" ucap Adnan
"Ini kan arena balapan. Buat apa mereka minta kita datang ke sini"
"Ya mana gue tahu"
"Kalian baru sampai?" Ucap Zein
"Iya, gue. Ini kedua kalinya kita bertemu kan? Di hari pernikahan lho sama zhea dan sekarang"
Exsel hanya mengangguk.
"Apa lho tahu, kalo kalian bisa datang ke sini itu, karena gue?"
"Maksud lho?" Ucap Adnan
"Ya, karena gue yang meminta mereka untuk menghubungi kalian dan meminta kalian datang ke sini"
"Pantas saja" ucap exsel
"Ya, kalian tahu lah kan siapa gue. Bahkan, acara ini berlangsung karena campur tangan gue juga"
__ADS_1
Acara pertandingan di mulai. Zhea dan Rere berada di barisan paling depan, begitu juga dengan Tasya yang mengikuti mereka.
Sementara celline, berada di tengah-tengah pembalap, siap memberi aba-aba balapan akan di mulai.
"One"
"Two"
"Three"
Balapan pun di mulai.
Exsel dan Adnan juga menonton balapan itu dari tenda yang sudah di siapkan untuk mereka.
"Bukannya yang di tengah-tengah pembalap itu celline ya?"
"Heum, itu benar dia"
"Lah kok bisa?"
"Mana gue tahu. Lho tahu sendirikan, sejak 2 tahun yang lalu dia ngilang tanpa kabar"
"Benar juga. Tapi, aneh aja ngeliat dia berada di sana"
Celline adalah satu-satunya mantannya exsel. Mereka berhubungan 3 tahun lamanya. Namun, Celline memutuskan hubungannya dengan exsel karena ingin melanjutkan pendidikannya di AS. dia memang memutuskan exsel, tapi dia dan exsel membuat komitmen untuk saling menunggu satu sama lain. Sampai akhirnya celline kembali dan mereka menikah. Tapi, pada saat celline berada di AS, tiba-tiba exsel tidak bisa menghubungi celline. Begitupun dengan celline yang tidak pernah menghubunginya. Ntah apa sebabnya celline seperti itu, namun pada kenyataannya mereka tidak berkomunikasi lagi setelah exsel melepas kepergian celline di bandara 2 tahun yang lalu.
"Dua pembalap terdepan itu, sahabatnya zhea kan?"
"Heum, itu Rio dan Niko"
"Kalo gitu, zhea juga berada di sini dong. Puncuk di cinta Wulan pun tiba, ini namanya. Apa gue bilang, lho pasti bisa ketemu sama zhea di sini, tapi lho nggak pernah percaya sama omongan gue. Kalian tuh benar-benar berjodoh, sejauh manapun pergi akhirnya bertemu kembali"
__ADS_1
"Nggak usah ngelebih-lebihin, lebay tahu nggak"