BAD GIRL

BAD GIRL
Episode 18


__ADS_3

Alesh membuka matanya, kepalanya masih terasa berat efek martini semalam. Mata Alesh mulai menyapu seisi ruangan yang jelas bukan kamarnya. Alesh mencoba untuk duduk dan refleks tangannya memegang kepalanya yang masih terasa sangat berat.


“Jangan-jangan gue diculik.” Gumam Alesh. Dia segera turun dari kasur dan berjalan berjingjit agar tidak terdengar suara langkah kakinya. Baru dia ingin membuka pintu, pintu itu sudah dibuka dari luar dan seketika matanya membulat.


“Nata? kenapa lo disini?” Tanya Alesh kepada orang yang sekarang ada didepannya. Lalu dia masuk dan membuka lemarinya untuk mengambil kaos.


“Sekarang udah inget nama gue?” Tanya Nata ketus.


“Maksud lo?”


“Tadinya mau gue bawain bola buat getok kepala lo kalau masih belum inget.”


“Kenapa gue bisa ada disini?”


“Semalem lo mabok, gue bingung mau bawa lo kemana soalnya gue nggak tau kunci apartment lo.”


Mendengar jawaban Nata, Alesh melotot lalu menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.


“Lo nggak apa-apain gue kan Nat?” Nata mengangkat sebelah alisnya, lalu berjalan kearah Alesh dan mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Alesh.


“Kalo iya, kenapa?”


“Nata gue nggak mau tau lo harus tanggung jawab.” Nata terkekeh.


“Semalem lo kaya orang kesetanan Al.”


“Bodo amat pokoknya lo harus nikahin gue sekarang juga!” tiba-tiba Alesh menangis membuat Nata bingung.


“Al, kenapa lo nangis? Gue cuma bercanda dan nggak mungkin gue ngrusak lo Alesh.”


Nata memeluk Alesh dan membenamkan kepala Alesh di dadanya yang bidang. Namun Alesh tidak juga berhenti menangis, membuat Nata semakin khawatir.


“Oke Al, gue minta maaf kalau becandaan gue udah kelewatan.” Tangis Alesh semakin keras dan membuat kaos Nata basah. Nata membiarkan Alesh menangis sepuasnya dan tidak melepas pelukannya. Nata mengelus punggung Alesh.


“Mau gue bikinin cokelat dingin?” tawar Nata.


“Mau.” Jawab Alesh dengan manja. Nata berusaha menahan tawa mendengar jawaban Alesh, lalu mengacak rambut Alesh gemas dan melepaskan pelukannya.


“Nat.” Panggil Alesh saat Nata sudah berada diambang pintu, Nata menoleh kearah Alesh.


“Hm.”


“Thanks ya Nat.” Alesh tersenyum dengan tulus dan hanya dibalas dengan anggukan kecil oleh Nata, ada rasa bahagia dalam hatinya. Jika saja Nata yang lebih dulu bertemu dengan Alesh dibanding Bara, pasti ceritanya tidak akan sepanjang ini.


Sekarang, segelas cokelat dingin sudah ada dihadapan Alesh. Dia meminumnya dan tinggal setengah.


“Kalau lo ada masalah, lebih baik lo cerita sama orang lain dari pada lo pergi ke club kaya semalem.” Ujar Nata sambil menatap lekat wajah Alesh. Alesh menghela nafasnya perlahan. Lalu meletakkan kembali gelasnya.


“I just wanna go somewhere, where nobody knows me.” Gumam Alesh pelan namun masih bisa didengar oleh Nata. “I can’t trust anyone.”


“Lo bisa percaya ke gue Al. Gue janji nggak akan hancurin kepercayaan itu.”


“Gue udah terlalu sering dijanjiin Nat, pada akhirnya janji itu hanya sebuah kata. Setelah kita percaya, lalu dengan mudah janji itu dilupakan dan diingkari.”


Nata hanya tertawa kaku dan dipaksakan.


“Oke gini aja. Sekarang lo boleh tanya apapun tentang gue, dan sebagai gantinya lo harus cerita semuanya ke gue?” ujar Nata. Alesh mengangkat sebelah alisnya.


“Males.” Jawab Alesh.


“Ah, pengecut lo Al.” Cibir Nata membuat Alesh sebal dan akhirnya setuju dengan tawaran Nata.


“Oke gue mau.” Jawab Alesh dengan malas. Nata tersenyum menang.


“Apa yang mau lo tanyain tentang gue?” tanya Nata.

__ADS_1


“Apa hal yang paling lo suka didunia ini?”


“Musik.”


“Ah basi!” Cibir Alesh. Nata terkekeh.


“Lo sendiri?”


Hening.


“Gue suka tempat yang tinggi dan nggak ada siapapun disana.” Nata mengangguk.


“Sekarang gue tanya lagi.” Lanjut Alesh.


“Gue akan jawab dengan senang hati.”


“Apa yang paling lo benci di dunia ini?” tanya Alesh lagi.


“Gue benci ketika orang lain terlalu mencampuri urusan gue.” Alesh berdecih mendengar jawaban Nata yang terlalu biasa.


“Sekarang giliran gue. Hal apa yang paling lo takuti dan lo benci?”


Alesh menelan ludahnya mendengar pertanyaan Nata. Dia ingin menghindar namun sudah tidak bisa.


“Gue takut ditinggalin. Gue benci dibohongi dan gue benci setiap kali ngeliat nyokap gue nangis. Gue juga benci setiap kali ngeliat mama masih berhubungan sama tua bangka itu.” Jawab Alesh.


“Kenapa harus takut ditinggalin?” tanya Nata.


“Karena gue udah terlalu sering ditinggalin sama orang-orang yang gue sayang. Dengan gampangnya mereka pergi gitu aja.”


“I know how it feels.” Gumam Nata namun masih bisa didengar Alesh. Alesh menggeleng.


“Nggak akan Nat. Lo nggak akan tahu.”


“Kalau boleh tahu, siapa tua bangka yang lo maksud?”


Setelah mengumpulkan keberanian dan sedikit kepercayaan kepada Nata, akhirnya Alesh menceritakan semua yang terjadi kepada Nata.


 


\\\*


 


Bara menunggu Alesh didepan apartmentnya, walaupun Alesh sudah menolaknya mentah-mentah bahkan dia sudah mengatakan bahwa tidak ingin bertemu lagi dengan Bara. Tapi, Bara tidak peduli karena dia merasa cintanya butuh perjuangan. Dia harus melakukan apa yang harus dia lakukan sesuai kata hatinya.


Sejak kejadian malam itu, Alesh memang benar-benar menghindari Bara bahkan memblokir semua kontaknya. Alesh benar-benar terpukul karena dia pernah mencintai Bara, anak dari pria yang sudah menghancurkan keluarganya. Alesh menangis karena dia merasa dipermainkan oleh takdir, takdir yang membuat dadanya sesak. Cairan bening keluar begitu saja dari sudut matanya. Bara masih keras kepala ingin menemui Alesh, dia berkali-kali memencet bel dan sesekali mengetuk pintu sambil berteriak memanggil nama Alesh.


“Pergi Bara, jangan bikin hidup gue tambah susah.” Gumam Alesh yang sejak tadi duduk di sofa. Dia beranjak dan berjalan menuju balkon apartemennya, disana sudah ada Nata yang juga sudah berdiri dibalkonnya.


“Temuin dia Al, kasian dia sampe teriak-teriak gitu.” Alesh menggeleng pelan. Nata mengangkat sebelah alisnya, “jadi kapan mau putus sama Bara? Biar gue bisa jadi pacar lo.”


Alesh menoleh kearah Nata, “modus lo Nat.”


“Namanya juga usaha Al.” Nata terkekeh.


Perasaan Alesh sedikit membaik hanya dengan berbicara dengan Nata. dia bahkan hampir lupa kalau Bara sedang berteriak memanggil namanya di depan sana.


“Al.” Panggil Nata yang sudah menatap Alesh sejak tadi, Alesh menoleh kearah Nata. sekarang mereka saling memandang.


“Apa?”


“Kalau Tuhan ngasih kesempatan gue buat bahagiain lo, lo mau gue lakuin apa buat lo?”


Pipi Alesh memanas mendengar pertanyaan Nata, namun dia segera menutupinya dengan bersikap setenang mungkin.

__ADS_1


“Kenapa lo nanya gitu?”


“Jawab aja Al!”


“Itu kan kalau Tuhan ngasih kesempatan. Mungkin sekarang belum, jadi gue nggak perlu jawab. Gue nggak mau membuat harapan-harapan yang akhirnya bikin gue kecewa.” Alesh tersenyum semanis mungkin. Nata terkekeh. Bukankah bahagia dan sedih datangnya selalu satu paket?


Bara terlihat frustasi karena sudah hampir satu jam Alesh belum juga membukakan pintu untuknya. Dia berkali-kali menghubungi Alesh, namun tidak ada jawaban. Dia mengusap wajahnya gusar. Penampilannya tidak karuan, wajahnya penuh lebam dan baju yang dikenakannya berantakan.


“Bara.” Panggil seseorang dari balik punggungnya. Dia menoleh. “Masuk.”


Lanjutnya. Bara mengikuti Nata dan masuk kedalam apartemennya.


Sekarang, Bara sudah duduk dihadapan Nata. Tidak ada percakapan diantara mereka sejak 5 menit yang lalu. Nata menatap penuh iba melihat keadaan Bara.


“Alesh belum mau ketemu sama lo Bar. Kasih dia waktu.” Kata Nata memulai percakapan. Sekarang, pandangan Bara tertuju pada Nata dengan tatapan kosong tanpa arti. Lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Sampe kapan?” tanya Bara datar.


“Gue belum tahu sampe kapan. Tapi untuk saat ini dia bener-bener nggak mau ketemu sama lo.”


Bara mengusap wajahnya gusar dan segera berdiri. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Nata tanpa berkata apapun. Nata berdecak heran dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bara yang lebih ajaib dari Alesh.


 


\*


 


Sekarang Alesh sudah berada dibalkon kamar Felish. Dia sudah menghubungi sahabatnya itu sejak 2 jam yang lalu.


“Tumben Al, ada apa?” tanya Felish sambil membawakan dua gelas orange juice dan memberikan satu untuk Alesh.


“Suntuk aja gue di apartment.” Alesh menyambar gelasnya dan meminumnya.


“Ada yang mau lo ceritain?” Alesh meletakkan gelasnya dimeja, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Dia terlihat ragu, lalu mengangguk.


“Gue siap kok jadi pendengar lo.” Lanjut Felish.


“Hidup itu penuh dengan kejutan ya Fel.” Alesh menghentikan kalimatnya sejenak. “Kadang, apa yang sudah kita yakini akan membuat kita bahagia justru takdir berkata lain.”


“Bara?” tanya Felish. Alesh mengangguk.


“Lo tahu kan gue benci banget sama si tua bangka Andri. Kalau bisa, dia lenyap dari dunia ini.”


“Apa hubungannya Bara sama dia?” Felish semakin penasaran.


“Bara anaknya Andri, Fel.” Jawab Alesh dengan pelan namun jelas. Felish membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar.


“Demi apa lo? Lo yakin?”


“Beberapa hari yang lalu Bara ngajakin gue ketemu sama orang tuanya, dan yang bikin gue shock disana ada si tua bangka itu. Artinya selama ini gue sama Bara saudara tiri.” Sekarang Felish berdiri disamping Alesh dan mengelus punggungnya.


“Gue yakin lo bisa hadapin ini Al. Lo udah melewati banyak hal lebih dari ini.” Felish mencoba menyemangati sahabatnya.


Alesh bahagia bisa menjadi sahabat Felish. Walaupun sifat mereka sangat jauh berbeda, namun perbedaan itulah yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memahami.


“Hubungan lo sama Bara gimana?” Alesh hanya menggeleng.


“Gue belum ketemu dia lagi sejak malam itu, Fel.”


“Lo masih sayang Bara?” Alesh hanya diam. Felish cukup mengerti. “Gue rasa kalian perlu bicara. Jangan lari-larian terus Al, semuanya harus jelas. Walaupun akhirnya kalian nggak akan sama-sama setidaknya kalian memperjelas semuanya. Kasian Bara kalau lo menghindar terus-terusan.” Alesh hanya mengangguk, lalu tersenyum kearah sahabatnya. Felish balas tersenyum.


"ini bukan hanya tentang perasaan gue, Felish. Tapi tentang perasaan nyokap gue."


Ucap Alesh dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2