
Bab 111
"Zheaaa!" Teriak exsel langsung berlari mendekati istrinya itu. Sementara, truk itu langsung pergi begitu saja.
Exsel membuka helm zhea, Shea terlihat dnagat ke sakitan. Dia terus memegangi kepalanya.
"Zhe, ayo kita ke rumah sakit" ucap exsel ingin mengendong zhea
"Pergi!" Ucap zhea mendorong exsel menjauh darinya
"Zhe, kita harus ke rumah sakit sekarang!"
"Gue nggak butuh rasa kasihan dari lho!"
"Zhea, jangan keras kepala"
Zhea tidak menghiraukan ucapan exsel. Dia yang melihat motornya hancur pun menjadi kesal.
Zhea menendang-nendang motornya melampiaskan kemarahannya. Hal itu mengakibatkan, jahitan karena kecelakaannya dulu terbuka. Awalnya hanya terbuka sedkut saat zhea terpental ke pohon. Namun saat ini, darah sudah mengalir, karena zgea dengan sekuat tenaga menendang motor itu untuk melampiaskan emosi dan amarah yang sedari tadi dia pendam.
Zhea memegangi perutnya, tidak ingin exsel tahu, akhirnya dia melangkah dan masuk ke dalam mobil.
Exsel yang sedari tadi sengaja mendiamkan zhea untuk merendahkan amarahnya pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil.
Tanpa banyak bicara, exsel langsung melajukan mobilnya.
"Zhea, kamu nggak boleh seperti ini lagi, terutama berbuat kasar pada orang lain. Kamu bukan hanya membahayakan nyawa orang lain, tapi juga nyawa kamu!" Ucap exsel
Namun, zhea tak merespon apapun.
"Zhea, kau mendengarkan aku kan. Aku nggak mau hal ini terulang lagi. Kau mengerti" ucap exsel penuh penekanan.
"Gue sangat ngerti! Gue bakalan urus perceraian tapi kalo lho mau cepat, lho bisa talak gue sekarang" ucap zhea tanpa membuka matanya
Exsel seketika menghentikan mobilnya ketika mendengar ucapan zhea. Untung hari sudah malam hari jalanan agak sepi, kalau tidak mereka mungkin sudah bertabrakan dengan mobil kain karena exsel menghentikan mobil mendadak.
Exsel menatap zhea penuh emosi "tatap aku zhea!" Bentaknya meraih tubuh zhea menghadapnya.
__ADS_1
Zhea menatap exsel sayu, bibirnya sudah tidak sanggup lagi di buka.
Exsel yang tidka menyangka bahwa tubuh zhea akan selemah itu pun langsung panik. Terlebih lagi, saat exsel melihat di bagian perut zhea banyak darah mengalir. Bahkan jok tempat zhea duduk pun sudah di kotori darahnya.
Exsel tidka menyangka kecelakaan tadi akan berdampak seperti itu. Karena zhea terjatuh di bagian rerumputan, makanya exsel tidak terllau mengkhawatirkannya. Terlebih lagi saat melihat zhea mampu berdiri dan menendang-nendang motornya.
"Zhea, tetaplah sadar. Aku mohon, bertahanlah kita akan segera ke rumah sakit" ucap exsel menyenderkan zhea kembali dan memasang seatbelt zhea.
Exsel melajukan mobil Dnegan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
"Zhea tetap buka matamu, kau harus tetap sadar zhea" ucap exsel menggoyang-goyangkan tubuh zhea dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya, tetap menyetir.
Ke khawatiran di wajah exsel semakin terlihat, ketika zhea tak lagi membuka matanya.
20 menit kemudian, merekapun sampai di rumah sakit. Exsel dengan cepat menggendong zhea dan berlari masuk ke rumah sakit.
"Sel, zhea kenapa?" Ucap adnan yang berpapasan dengan exsel yang menggendong zhea.
Exsel tak menjawab, dia berlari memasuki rumah rawat dan segera memeriksa keadaan zhea. Ternyata, jahitan lama zhea terbuka lebar dan karena bukan hanya jahitan luka bekas kecelakaan yang terbuka, tetapi jahitan saat dia mendonorkan ginjal juga terbuka.
Exsel terdiam melihat perut zhea menganga itu, tak heran jika banyak darah yang keluar.
"Apa kau ingin aku saja yang menjahitnya sel" ucap Adnan yang melihat exsel hanya terdiam melihat robekkan di perut zhea. Padahal dia sering menemui luka yang lebih parah dari pada itu, dan fia bersikap biasa saja. Tapi kali ini, yang berada di sana adalah istrinya, tentu exsel pasti merasa sangat sedih dan khawatir.
"Aku bisa melakukannya, kau tetaplah di sini" ucap exsel kemudian mulai menjahit perut zhea.
Exsel rasanya tak sanggup untuk menjahitnya, tapi dia harus bisa. Karena dia tidak mau orang lain yang menyentuh zhea.
Beberapa kali exsel memejamkan matanya, karena tak kuat melihat darah yang terus mengalir. Dan tanpa terasa air mata mengalir begitu saja.
Ada rasa marah dan kecewa dengan sikap zhea, tapi rasa bersalahnya karena memaksa zhea untuk berbicara lebih mendominasi karena kecelakaan itu tidak akan terjadi jika dia tidak mengejar zhea.
"Ambil darahku, zhea membutuhkan darah sekarang" ucap exsel melepas sarung tangannya setelah selesai menjahit luka zhea.
Adnan mengangguk, exsel duduk di kursi samping brankar zhea sementara Adnan mengambilnya darahnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sel?" Tanya adnna setah berhasil mengambil sekantong darah dari exsel.
"Kami bertengkar" ucap exsel tertunduk
__ADS_1
"Kenapa? Lho juga baru balik satu jam yang lalu kan"
"Ceritanya panjang nan"
"Oke, kalau gitu gue tinggal dulu.kalo ada apa-apa cari gue di ruangan" karena memang Adnan mendapatkan shif malam saat ini
Exsel hanya mengangguk, Adnan pun pergi meninggalkan ruangan zhea.
Exsel mengenggam erat tangan zhea, dia menciumnya "maaf, aku terlalu bodoh" gumamnya
3 hari berlalu, tapi zhea belum juga sadar.
Exsel dan yang lainnya menunggu di depan ruangan zhea.
"Ini udah 3 hari, tapi zhea belum juga sadar. Sebenarnya ini ada apa sih? Kenapa bisa kecelakaan? Dokter exsel!" Ucap Rere geram, karena exsel hanya mengatakan zhea kecelakaan tanpa menjelaskan apapun
"Re, namanya juga kecelakaan. Kita mana tahu kan, kalo itu bakal terjadi sama zhea" sahut Rio
"Tapi aneh aja. Kalian bilang pas gue tidur zhea balik lagi ke kos-kosan. Dan nggak lama dokter exsel juga datang, dan mereka pergi. Besok paginya kita dapat kabar zhea kecelakaan....."
"Apa dokter dan zhea bertengkar malam itu" sela Niko memotong ucapan Rere
Exsel hanya mengangguk lemah.
"Kalian bertengkar? Tapi, bukannya selama ini hubungan kalian terlihat sangat dekat? Bagaimana bisa bertengkar. Lagi pula, zhea bukan tipe orang yang mempermasalahkan hal kecil. Jika kalian bertengkar itu pasti karena masalahnya besar" ucap Rere
"Iya dok, zhea itu bukan tipe orang yang suka bertengkar. Jika bukan menyangkut tentang balapan, tentang kita (sahabatnya, Niko,Rio dan Rere), dan tentang keluarganya" ucap Rio
"Apa dokter melarang zhea buat balapan?" sahut Niko
"Saya tidak pernah melarang dia melakukan apapun, walaupun saya menginginkannya" ucap exsel
"Terus masalahnya apa? Kenapa kalian bisa bertengkar. Zhea juga nggak cerita apapun lagi sama kita waktu itu" ucap Rere emosi
"Malam itu, saya lihat zhea sedang mencekik Celline. Saya mencoba menghentikannya, tapi dia terlihat sangat marah, dan nekad ingin membunuh Celline. Dari itu saya marah karena sifat kasarnya, dia pergi dan daya menyusulnya ingin mengajaknya berbicara. Tapi, dia kabur, saya terus mengejarnya. Dan dengan sekejap mata, kecelakaan itu terjadi" jelas Rere
"What! Zhea ingin membunuh Celline? Mana mungkin" ucap Rere tak percaya
__ADS_1
"Itu benar, Alex sudah melihatnya sendiri. Jika Alex nggak datang tepat waktu, mungkin aku hanya tinggal nama sekarang" sahut Celline