
Yogi datang ke sekolah dengan sangat biasa selalu tersenyum kepada orang yang dia jumpai entah murid atau para guru, Yogi sangat terkenal rama dengan siapa saja. Dia juga terkenal baik dalam kesehariannya, apalagi saat mengajar dia selalu sabar kepada murid nya.
Yogi masuk kedalam ruangannya dia kembali murung, dia merasa takut kehilangan Celina yang sudah mengisi hatinya selama ini. "Aku harus bagaimana ini untuk bisa mendapat kabar kalau Celina baik baik saja dan pria itu sudah mati"
Yogi sangat frustasi di dalam ruangannya, dia merasa bersalah dengan apa yang di lakukan. Dia menyesal bukan untuk mencelakai Rian tapi menyesal karena melukai Celina.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu tidak membuat Yogi tersadar dari lamunannya, dia terus berfikir bagaimana keadaan Celina. Yang ada di dalam pikiran nya hanya Celina, Celina, Celina dan Celina.
Tok tok tok..
Ketukan pintu kembali terdengar, ketukan yang kedua mampu menyadarkan Yogi dari lamunannya. "Masuk"
"Maaf pak, ini tugas rumah yang bapak suru mengumpulkan hari ini.
" Ah iya terima kasih yah"
"Iyah pak sama sama"
Murid tadi meninggalkan ruangan Yogi, setelah kepergian murid tadi Yogi mengambil beberapa buku tebal untuk dia mengajar di kelas Celina.
Yogi berjalan kearah kelas Celina dan Putri, Yogi masuk kedalam kelas, seketika murid murid pada diam dan bungkam. "Selamat pagi anak anak???"
"Pagi pak"
"Lho yang dua kemana???"
"Apa bapak belum tau kalau Celina dan Putri ada di rumah sakit??"
"Kenapa dengan mereka??"
"Kecelakaan pak" Salah satu murid menjawab pertanyaan Yogi, tentu saja Yogi berpura pura tidak tau.
"Apa?? Lalu bagaiman keadaan mereka??"
"Putri baru sadar setelah operasi, sedangkan Celina dia koma pak"
Deg..
Seakan apa yang di katakan salah satu murid membuat dada Yogi seakan berhenti berdegup, dada nya sesak mendengar nya, tapi Yogi berusaha menyembunyikan kegelisahan nya,
Meninggalkan Yogi yang ada di ruang kelas, di rumah sakit tengah terlihat perempuan tengah menatap Putrinya yang terbaring di ranjang rumah saki. Dia menatap Putrinya dengan penuh kasih sayang yang dalam.
"Kapan kamu bangun nak???"
"Mbak..."
__ADS_1
"Mell, kamu ada di sini?? Bagaimana Rian??"
"Dia tidak mau bicara Mbak setelah dia mendengar kalau Celina belum sadar, sedangkan Putri baru saja sadar"
"Nanti aku akan mencoba untuk mengajaknya bicara Mell" Siska mencoba lebih tegar karena bukan hanya putrinya yang terlibat kecelakan melainkan ada menantu nya yang kemarin sadar.
"Terima kasih mbak" Melati wanita berjilbab itu sangat bersyukur karena Siska mau membantunya. untuk menguatkan Rian yang mungkin saja saat ini tengah terpuruk.
Mereka berdua melihat Celina yang tak kunjung bangun dari tidur pulas nya, Celina mengistirahatkan dirinya, karena merasa sangat lelah untuk menjalani hidup dengan teror.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Siska, kini wanita hamil itu sudah ada di ruangan Rian, mencoba berbicara dengan menantunya. Siska berharap dia akan berhasil untuk menyuruh nya minum obat.
"Rian, bagaimana keadaan kamu nak???
Rian tidak menjawab dia menatap kosong langit langit rumah sakit, entah apa yang dia pikirkan sampai dia tidak menghiraukan orang di sekitar.
"Nak apa yang kamu pikirkan???"
Rian hanya diam tidak menoleh atau pun menjawab Siska yang mengajak nya berbicara, Rian menatap langit langit kamar nya yang mungkin langit kamar nya lebih menarik.
"Dengar nak!! Celina juga tidak mau melihat suaminya kurus kering, tidak berotot Celina akan mencari pria lain yang berotot"
Rian mendengar semua apa yang di katakan mertua nya yang menurutnya benar adanya, apalagi Celina cantik, baik dan selalu mengerti, Rian menatap mertuanya yang ada di samping nya dengan berlinang air mata, Rian menangis didepan mertuanya.
"Nak sabar lah jangan kamu siksa diri kamu sendiri, Celina butuh dukungan Suami nya bukan orang lain. Kita dukung Celina bersama nak"
"Ini bukan salah kamu nak, ini kecelakaan"
"Kecelakaan!! Ibu semua pasti ula sih Yogi sialan itu Bu"
"Yogi??? Siapa nak Yogi???"
Rian menjelaskan semua tentang Yogi, mulai dari Yogi yang menyukai Celina dan punya niatan untuk merebut Celina dari dirinya, Yogi yang selalu mendekati Celina sampai dia mengirim kado ke Apartemen nya, belum lagi Yogi yang mengancam Celina. Rian juga mengatakan kalau Yogi guru Celina di sekolahan lama dan sekolahan baru.
Siska mendengarkan semua cerita Rian tanpa menyela sedikitpun, Siska juga menduga kalau ini semua ula Yogi. Karena Celina juga perna di ancam oleh Yogi, Siska memandang Rian seakan dia lebih banyak cerita lagi.
"Yogi Permana Putra"
"Apa itu nama nya nak??"
"Iyah bu, dia mengajar di sekolah Celina dan Putri"
"Yah sudah, nanti kita bahas lagi nak. Sekarang kamu makan ibu suapi"
Siska mengambil makanan yang belum di sentuh Rian sama sekali sejak tadi pagi, Siska menatap Miris menantu nya, Siska menyuapi Rian sampai Rian menghabiskan makanannya, walau Siska banyak membujuk Rian tapi akhirnya Rian mau memakan makanan nya.
Setelah menyuapi Rian, Siska jaga memberikan Rian obat agar menantu nya cepat sembuh, dia kasihan dengan Rian harus seperti ini dari orang yang terobsesi dengan Putrinya. "Ibu tinggal dulu yah nak, karena ibu ingin memberi tahu Ayah dulu dan juga kedua orang tua kamu"
__ADS_1
"Yah bu, masukkan laki laki sialan itu kedalam penjara"
"Iyah nak sabar"
Siska mengusap kepala Rian dengan sayang, setelah itu dia melangka keluar kamar rawat Rian, dengan perasaan yang tidak menentu, Dia naik kelantai atas dimana suaminya tengah bersama Patra dan Melati.
Siska berjalan lunglai mendekat kearah ketiga orang yang tengah duduk di kursi ruang tunggu, dia mendekat kearah tiga orang yang menatapnya dengan heran, Siska duduk di kursi tunggu lalu menceritakan apa yang di ceritakan oleh Rian kepadanya.
"Apa dia laki laki yang kemarin datang ke rumah sakit menanyakan soal Celina dan Putri, padahal dia belum datang ke sekolah" Perkataan melati menarik perhatian ketiga orang tang ada di sisi kanan kirinya.
"Maksud kamu laki laki muda yang mengaku guru Celina???"
"Iyah Mas"..
" Siapa nama nya??"
"Tidak tau mas, kita tidak sempat bertanya kepada dia"
"Kalau kata Rian namanya Yogi Permana Putra"
"Baik lah aku Patra tinggal dulu kekantor polisi, kalian berdua di sini saja"
"Iyah Mas"
Patra dan Ruddy meninggalkan kedua wanita hamil itu di rumah sakit, mereka akan kekantor polisi menceritakan apa yang mereka ketahui.
Ruddy dan Patra kini sudah ada di kantor polisi menceritakan apa yang mereka ketahui, polisi akan mencari tahu tentang orang yang dilaporkan oleh Ruddy dan Patra.
...****************...
Tiga hari sudah polisi mencari bukti aras kasus kecelakaan yang menimpah ketiga keluarga terpandang, polisi kini sudah menangkap pelaku yang memang sengaja menabrak mobil Rian hingga Mobi yang di tumpangi Rian berserta istri dan adik nya terpental sampai terguling guling di jalan.
Pelaku mengaku kalau tindakannya karena dia menyukai korban. Dan tidak suka kalau korban dekat dengan yang lain, karena itu korban merencanakan untuk melenyapkan laki laki yang bersama Korban, yaitu suami korban sendiri.
Ketiga orang tau yang mendengar kalau Yogi sudah di tangkap, datang kekantor polisi. Dengan Amara ketiga orang tua apalagi para ibu yang tidak terima anak anak yang menjadi korban kegilaan Yogi.
Plak plak
Plak plak
Plak plak
Yogi mendapat bolak balik dari dua wanita hamil dan juga Ayu ibu Irwan. Yogi yang sudah mendapat tamparan bukannya meminta Maaf malah di bertanya keadaan Celina, tentu saja Siska langsung menjambak rambut Yogi lalu melepaskan secara kasar, Siska ingat kalau putrinya koma gara gara laki laki yang ada di depan nya.
Ruddy berusaha menenangkan Siska yang tengah emosi, setelah Siska tenang Ruddy mengajak Siska dan yang lain untuk kembali ke rumah sakit.
Yogi di kenakan hukuman semur hidup, dengan penyesalan telah melukai cinta nya, dan membuat dia koma dan entah kapan Celina akan sadar.
__ADS_1