
Bab 159
"Jangan bilang lho mau ngulang kuliah dari awal lagi di Indonesia"
"Kita lihat aja nanti" ucap Rio beranjak pergi menarik kopernya
"Yo, Yo tunggu dulu. Lho jangan becanda deh"
"Apa sih yang gue becandain ke lho nik. Dari tadi tuh gue serius, ngomongnya"
"Oke gini deh. Gue bakalan usahain buat ngizinin lho, asal lho balik lagi ke sini setelah lihat keadaan Rere"
"Gue udah bilang kita lihat aja nanti"
"Yo! Please deh. Jangan bodoh, dengan mengulang kuliah dari awal lagi. Lho mau kita bertiga udah lulus terus lho sendiri yang masih kuliah hah! Pikir Yo, biaya kuliah itu nggak sedikit. Dan lho udah habisin banyak uang demi pindah ke sini. Kuliah yang niat Yo, jangan main-main kayak gini. Dan satu hal lagi, bagaimana dengan balapan?"
"Mau gue di sini ataupun di sana, gue pastiin bakalan selalu datang selama balapan itu berlangsung. Udahlah Nik, nanti kita bicarain lagi, gue harus buru-buru. Lebih baik lho sekarang antarin gue ke bandara"
"pakai motor gue aja" ucap Niko menyerah dalam perdebatan itu.
Hari berganti, zhea menunggu Rere dengan tatapan yang tak beralih dari Rere. Semenjak melihat Rere terkulai lemas tak sadarkan diri, tak satupun kata yang keluar dari mulutnya. Ntahlah apa yang dia pikirkan, bahkan exsel pun di abaikannya.
Sementara itu, exsel hanya berdiri mengawasi kedua wanita itu.
"Rere belum sadar juga?" ucap Adnan yang baru sampai di rumah sakit, dan langsung memasuki ruangan Rere.
__ADS_1
Hanya di respond dengan anggukan oleh exsel.
"Bagaimana dengan zhea?"
"Kayak yang lho lihat, nggak ngomong apapun"
"Aneh sih, Rere yang terbaring nggak sadarkan diri, tapi bini lho yang membisu"
Zhea tidak bicara satu katapun, karena dia merasa bersalah atas kecelakaan Rere. Dia menyesali karena memilih latihan mobil ketimbang latihan di sirkuit bersama Rere.
Zhea tidak memperlihatkan ke sedihannya, dia hanya memasang wajah datar. Sehingga orang-orang hanya menganggapnya khawatir akan keadaan Rere.
Matanya menatap lekat ke arah Rere, tangannya bersidekap di dada, sementara pada pikirannya menyesali apa yang terjadi.
"Rere analisa berada di ruangan berapa?"
"207, mas"
Rio pun langsung bergegas ke ruangan Rere.
Saat membuka pintu, dan tanpa memperhatikan orang yang ada dalam ruangan itu, Rio langsung memeluk tubuh Rere yang terbaring tak sadarkan diri itu.
"Maaf, maaf...maaf" bisiknya di telinga Rere
Exsel dan Adnan hanya saling pandang melihat kehadiran Rio, sementara zhea beralih menatap Rio.
__ADS_1
"Yo, sorry" lirih zhea menatap lekat rio
Rio melepaskan pelukannya pada Rere, dia kemudian memeluk zhea.
"Rere nggak apa-apa kan Zhe?"
Zhea membalas pelukan Rio kemudian berucap "maaf, ini semua salah gue"
"Kenapa?" Ucap Rio melepaskan pelukannya
"Karena gue nggak nemanin Rere latihan. Padahal, dia selalu nemanin gue kemanapun tanpa protes. Gue egois banget ya Yo?"
Terlihat jelas kesedihan dan kekhawatiran di wajah zhea. Exsel yang melihat itu merasa zhea tidak nyaman bersamanya. Terbukti dengan zhea yang tidak mau berbagi kesedihan kepadanya.
Merasa di abaikan exsel memilih keluar dari ruangan Rere, begitu juga dengan Adnan.
"Lho nggak egois kok Zhe, ini bukan salah lho. Kalo aja gue nggak ninggalin kalian, ini mungkin nggak bakalan terjadi"
"Gue salah Yo. Gue nggak bisa jagain Rere"
"Lho nggak salah Zhe, yang salah tuh gue. Lagian, seharusnya yang jagain lho itu Rere, karena dia lebih tua dari lho"
"Tapi kan..."
"Udah, udah" ucap Rio menenangkan zhea dengan memeluknya.
__ADS_1