BAD GIRL

BAD GIRL
Bab 260


__ADS_3

Bab 260


Ruangan yang tadinya hening kini kembali ribut karena banyaknya suara kamera yang mengambil foto mereka.



"Aku benar-benar khawatir. Kenapa pergi tanpa memberi tahuku? Kenapa minum lagi, ini membahayakan kesehatanmu." Ucap exsel pelan yang hanya bisa di dengar oleh zhea. Satu tangan exsel meraih botol alkohol itu dan melempar botol itu sehingga botol itu pecah dan air yang tersisa di dalamnya tumpah



"Bagaimana kejelasan hubungan kalian? Tuan zein dan wanita yang waktu itu prof. Exsel" ucap salah satu wartawan



"Namanya Celline. Dia hanya masa lalu"


"Ini buku nikah saya dan zhea. Kami hanya memiliki buku nikah dan tidak memiliki akta perceraian. Dan saya, tidak pernah mengucapkan kata talak pada zhea. Istriku mabuk, aku akan membawanya pulang. Jika masih ada yang ingin kalian tanyakan, kita lanjutkan di lain hari saja. dan Berhenti merekam, atau saya akan melaporkan tindakan tidak menyenangkan ke pihak kepolisian" ucap exsel menarik tangan zhea keluar dari ruangan itu


Semua wartawan pun mematikan kemera mereka. Niko, Rio, Rere, Tiffany, dan kedua orang tua Rere mengikuti exsel.


"Om, ayo kita pergi. Jangan seperti ini, zhea juga sudah pergi" ucap Zein membantu Leon berdiri


Sementara itu, exsel dan yang lainnya mengikuti zhea dari belakang. Gadis itu benar-benar mabuk. Air matanya terus mengalir tetapi dia tertawa tak ubahnya seperti orang gila.



Zhea membalikkan badannya, berdiri di hadapan exsel "kenapa membawaku pergi! Aku belum selesai bicara. Mereka pasti akan menertawakanku nanti. Aku belum mengancam mereka agar tidak tertawa"



Exsel tersenyum kemudian berucap "sudah-sudah, sekarang saatnya istirahat. Kita pulang dulu, lagi pula siapa yang berani menertawakan CEO hebat sepertimu"



"Benar juga, tidak akan ada yang berani. Jika ada yang berani, gue dan Niko akan habisi mereka" ucap zhea memperlihatkan tinjunya ke Exsel.



"Dokter, sebaiknya kita bawa zhea segera pergi dari sini" ucap Niko


"Ayo kita pulang" ucap exsel menggandeng tangan zhea


"Pulang ke rumah mama Sarah?"


"Ya, kita akan pulang ke rumah mama. Tapi, hapus dulu air matanya. Nanti mama sedih liat menantunya menangis seperti ini" ucap exsel menghapus air mata di pipi zhea


__ADS_1


"Ya. Aku adalah satu-satunya menantu mama Sarah. Tapi, mama Sarah sudah meninggal, bagaimana dia bisa melihatku?" Racau zhea


"Mama bisa melihat kita dimana pun. Hanay kita yan tidak bisa melihatnya, jadi jangan sedih ataupun menangis lagi"


"Aku tidak menangis, aku hanya sedih dan sialnya air mata ini terus saja mengalir apalagi di saat sakit"



Mendengar ucapan zhea exsel langsung memeluk istrinya itu dengan erat dan menitikkan air mata.


Sementara Niko, Rere, Rio dan kedua orang tua Rere melihat itu dengan tatapan sendu.


__________


Exsel dan yang lainnya duduk di ruang tamu, termasuk zhea yang terus saja merancau tak karuan.


"Sebaiknya kamu bawa zhea ke kamar dulu exsel" ucap papa Rere


"Jangan om. Jika dia di biarkan sendirian, dan belum tidur aku khawatir dia akan melakukan hal yang mencelakai dirinya sendiri. Beberapa hari yang lalu, di tengah malam dia menabrak pagar rumahku dalam keadaan mabuk. Dan kemarin malam, dia juga mabuk dan memanjat pagar rumah" jelas exsel


"Setiap zhea mabuk dia selalu datang ke sini?" Ucap Rio



Exsel hanya mengangguk.


"Aku juga berpikir seperti itu Tante" ucap exsel


Leon datang dan langsung menarik zhea. "Kita pulang ke mansion" ucapnya


Semua orang yang ada di sana berdiri melihat kedatangan Leon, Zein dan Raka.


Sementara zhea yang mabuk berat itu, menggosok-gosokkan kasar hidungnya yang kembali berdarah. "BERHENTI! BERHENTILAH KELUAR DARAH SIALAN! GUE NGGAK MAU MATI!" racaunya sambil menangis


Exsel langsung menarik zhea kembali, dia mendirikan zhea di sofa. Exsel menghapus darah hidung dan air mata zhea Dengan tangannya.


"Gue nggak mau mati, nggak mau" tanggis zhea menggeleng-gelengkan kepalanya.



"Zhea ayo pulang" ucap Leon kembali menarik tangan zhea namun di tepis oleh exsel


"SUDAH CUKUP SAYA MENGALAH SELAMA INI. SAYA TIDAK AKAN MEMBIARKAN ANDA ATAU SIAPAPUN ITU MEMBAWA ZHEA PERGI LAGI DARI ZHEA"


"kamu itu hanya mantan suaminya, Berhentilah bersikap sok hebat" ucap Leon


"APA ADA BUKTI BAHWA SAYA DAN ZHEA BERCERAI? AKTA PERCERAIAN KAMI BAHKAN TIDAK ADA. DAN AKU SUDAH MENANYAKAN KE SELURUH KANTOR PENGADILAN AGAMA YANG ADA DI SINI TIDAK SATUPUN DARI KANTOR ITU MENGURUS PERCERAIAN KAMI. DAN SAYA TIDAK PERNAH MENGUCAPKAN KATA TALAK PADA ZHEA. SEBELUM SAYA MELIHAT AKTA PERCERAIAN ITU, MAKA ZHEA AKAN SELALU JADI ISTRI SAYA"

__ADS_1


"saya tidak ada waktu untuk meladeni omong kosong mu itu!" Ucap Leon kembali menarik tangan zhea


Mata Leon terbelalak melihat tangan zhea yang sangat gemetaran, dia akhirnya melepaskan tangan zhea.


Exsel duduk di lantai menghadap zhea. Dia mengenggam tangan zhea yang gemetaran.


"Rio tolong ambil obat di mobil zhea. Niko, ambil infus, kotak obat dan amplop coklat di brankas samping ranjang kamar itu (menunjuk pintu kamar) , dan Rere tolong ambilkan segelas air " perintah exsel


Ketiga sahabat zhea itupun bergegas melakukan apa yang di perintahkan exsel.


"Dokter apa yang sebenarnya terjadi? Zhea kenapa? " ucap Rere



"Niko tolong bacakan surat dalam amplop itu" ucap exsel



Niko membuka surat itu dan membacanya. Semua orang terkejut mengetahui penyakit yang di derita zhea sangat parah kecuali Zein.


"Zhea sakit parah, bagaimana mungkin? Dia selama ini baik-baik saja" ucap Leon gak percaya


Exsel yang emosi langsung mengambil surat itu dan memberikannya pada Leon. "Jika anda tidka percaya anda bisa baca sendiri! Anda yang selama ini selalu bersama zhea tapi anda tidak tahu bahwa anak anda sedang sekarat. Jika saya tahu zhea sakit, saya tidak akan pergi ke luar negeri dulu dan akan mengobati zhea. Tapi sekarang, penyakit zhea bertambah parah, separuh hatinya sudah rusak. Anda memisahkan saya dan zhea karena berpikir saya tidak bisa menafkahi dan melindungi zhea. Tapi anda sendiri tidak bisa menjaga zhea. Saya menyesal pernah menyerah pada pernikahan kami. Arghhhhhhhhhhhhh" teriak exsel mengacak-acak rambutnya sendiri


"Sa-kit" rintih zhea, kemudian muntah-muntah darah.


"Sayang, apa benar-benar sakit" ucap exsel mengenggam kedua tangan zhea


"Sangat sa-sakit" ucap zhea terbatah-batah.


Exsel langsung mengambil satu pil dan meletakkan di mulut zhea. Namun, zhea yang terus menerus mual itu malah memuntahkan pil itu bersamaan Dengan darah yang keluar.



Exsel mengambil satu pil lagi dia memasukkan pil itu ke mulutnya, lalu mencium bibir zhea. Exsel mendorong pil itu dengan lidahnya ke mulut zhea. Setelah memastikan zhea menelan pil itu, exsel melepaskan ciumannya.



"Zhe, minum dulu" ucap Rere membantu zhea minum.


Exsel menyuntikkan beberapa obat ke infus kemudian menusukkan jarum ke tangan zhea dna kembali menginfus zhea.


"Sayang, jangan tidur oke. Ayo kita bicara sepanjang malam" ucap exsel mengenggam tangan zhea yang gemetaran.



"Niko tolong telpon Adnan biar dia menyiapkan ruangan khusus untuk zhea. Rere tolong pegang infusnya kita ke rumah sakit sekarang. Aku benar-benar Takut, semoga saja dugaanku salah" ucap exsel

__ADS_1


__ADS_2