
Bab 263
3 hari berlalu sejak zhea memasuki ruangan exsel. Dia hanya mematung di sana, tidak bicara sedikitpun bahkan dengan ketiga sahabatnya. Dia juga tidak menemui siapapun yang ingin menjenguknya. Dia tidak mempedulikan orang lain. Orang-,orang ingin melihatnya harus beralasan melihat exsel, itupun tidak berhasil membuat zhea membuka mulutnya. Tidak memakan sedikitpun, hanya bergantung pada infus. Seolah-olah menghukum dirinya sendiri
"Zhe, kmau nggak bisa kayak gini terus. Kamu juga harus sarapan, walaupun infus membuat kamu ada tenaga, tapi dengan sarapan kamu bisa cepat pulih. Jika sudah pulih, bisa merawat exsel. exsel pasti sangat senang melihat kamu sehat saat dia sadar nanti" ucap Adnan setelah memasang infus di tangan zhea
"Kapan dia akan sadar? Lho selalu bilang kayak gitu, tapi sampai sekarang exsel juga belum sadar" untuk pertama kalinya, setelah bicara dengan ketiga sahabatnya 3 hari yang lalu zhea bersuara.
"Tapi jangan kayak gini Zhe, jangan buat pengorbanan exsel sia-sia kalo lho kembali sakit nantinya. Semua orang menunggu lho di luar, orang tua, sahabat-sahabat lho, Zein dan yang lainnya juga ada"
Zhea tak lagi mempedulikan ucapan Adnan dia hanya menatap exsel . Adnan juga tidak bisa memaksa zhea kembali ke ruangannya takut zhea akan memberontak.
"Jika ada apa-apa, tekan bellnya. Gue keluar dulu" ucap adnan sebelum meninggalkan ruangan exsel.
Zhea menatap cincin yang melingkar indah di jarinya. Semenjak mengetahui itu cincin pernikahannya dengan exsel, karena ada nama mereka di dalamnya, zhea hanya memutar-mutar cincin di jari manisnya itu.
Beberapa saat kemudian, zhea melepaskan infus yang baru saja Adnan pasang di punggung tangannya, dia mencoba berdiri dengan berpegangan dengan brankar exsel.
Perlahan-lahan zhea berjalan mendekati wajah exsel. Air mata yang selama ini ditahan tidak bisa di bendung lagi ketika melihat wajah exsel sedekat mungkin.
"Bangun sel, kenapa jadi lho yang terbaring kayak gini. Lho tahu nggak? Dengan lho nyelamatin hidup gue, semuanya nggak bakal berubah gue udah nggak punya harapan untuk hidup atau bahagia. Kenapa lho nyelamatin gue? Akan lebih baik kalo gue mati aja. Lho nyelamatin nyawa gue karena lho ngerasa gue bakal sembuh dan bisa hidup bahagia sama lho? NGGAK SEL NGGAK! JIKA LHO TAHU KEKURANGAN GUE, GUE YAKIN LHI BAKAL NYESAL KARENA UDAH PERTARUHIN NYAWA LHO BUAT GUE"
"BANGUN EXSEL! LHO HARUS LIHAT GUE, LHO MAU GUE SEMBUH KAN? GUE UDAH SEMBUH SEKARANG! BUKA MATA LHO, ATAU GUE YANG BAKAL BUNUH LHO!" UCAP ZHEA FRUSTASI DENGAN MENARIK-NARIK KERAH BAJU PASIEN EXSEL.
"LHO MAU HIDUP DAN MATI BARENG GUE KAN? KENAPA LHO KAYAK GINI? ADNAN BILANG LHO BISA DENGAR SUARA GUE, DENGAR INI BAIK-BAIK. KALO LHO NGGAK BUKA MATA LHO SEKARANG JUGA, LEBIH BAIK KITA BERDUA MATI. PERCUMA LHO KAYAK GINI, HIDUO NGGAK MATIPUN NGGAK. JADI, LEBIH BAIK BUKA MATA LHO SEKARANG ATAU MATI SEKARANG JUGA!"
Nafas zhea terengah-engah menahan amarah dan air mata. Zhea melihat pisau buah di sampingnya, dia mengambil pisau buah itu dan melukai tangannya sendiri.
Tes
__ADS_1
Air mata menetes, seiring tangan yang gemetaran karena berhasil melukai diri sendiri.
"LHO NGGAK MAU BANGUN KAN SEL? JADI, AYO MATI BERSAMA!"
Zhea mendorong tiang gantungan infus exsel, sehingga terdengar suara berisik dari ruangan itu. Saat zhea ingin memotong alat pernafasan exsel dengan pisau yang sudah dikotori oleh darahnya itu, Adnan datang dan menghalanginya.
"Zheaaaa!" Teriak Adnan dengan segera menarik zhea menjauh dari exsel.
Adnan terkejut melihat pisau yang di pegang zhea berlumuran darah, Adnan segera mendekati exsel untuk melihat apakah zhea melukai sahabatnya itu.
"Lho gila ya zhea! Lho mau bunuh exsel!"
Mendengar suara ribut-ribut dari ruangan exsel, ketiga sahabat zhea pun datang.
Adnan berbalik menatap zhea setelah memeriksa exsel yang ternyata tidak terluka. Mata Adnan melotot melihat pergelangan tangan zhea berdarah.
"Zhea, lho mau bunuh diri!" Ucap Adnan mendekat, namun saat itu juga zhea kehilangan ke sandaran.
"Apa yang terjadi?" Ucap Rere yang masih kebingungan
"Niko cepat bawa zhea ke ruangannya" ucap Adnan
Niko langsung mengendong zhea membawa ke ruangannya, saat itu juga pisau yang di pegang zhea terjatuh.
Mata Rere terbelalak melihat pisau yang di lumuri darah dan bekas-bekas darah yang menetes di lantai.
"Yo, zhea mau bunuh diri?" Ucap Rere panik, langsung menyusul Niko.
"Nik, zhea nggak apa-apa kan?" Ucap Rere yang melihat Niko berdiri diri ruangan zhea
Niko hanya menggeleng melemah
__ADS_1
"Tenang sayang, zhea pasti baik-baik aja" ucap Rio memeluk Rere untuk menenangkannya
"Tapi Yo, darahnya itu banyak banget yang keluar, bagaimana kalo zhea nggak bisa selamat. Dia kan belum terlalu pulih" tangis Rere
"Suttt, nggak boleh ngomong kayak gitu. Zhea pasti baik-baik aja. Diakan wanita hebat pasti bisa bertahan"
"Apa yang gue takutin, akhirnya terjadi juga. Zhea sudah banyak menerima tekanan selama ini, gue takut jika dia bangun dia kembali menyakiti diri karena frustasi. Hanya dokter exsel yang bisa nenangin dia, tapi dokter exsel sampai sekarang belum juga bangun" ucap Niko menghela nafas kasar
"Nik, re KITA harus positif thinking. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal support zhea. Kita nggak boleh lemah kayak gini, ingat cuma kita yang zhea punya, dan zhea berpengangan hidup dengan kita selama ini. Apapun yang terjadi sama zhea, bagaimanapun kondisinya kita harus support dia. Sefruatasi apapun zhea, sekecewa apapun dia, kita harus cari cara agar mentalnya sembuh. ZHEA ITU ADIK BUNGSU KITA, KESAYANGAN KITA, BERTAHUN-TAHUN HIDUP DAN DEWASA BERSAMA, ZHEA ITU WANITA YANG KUAT, GUE PERCAYA DIA AKAN BAIK-BAIK AJA. KITA BERDO'A DAN MEMINTA AGAR KITA BISA KUMPUL SEPERTI DULU LAGI SAMA ZHEA" ucap Rio menepuk-nepuk bahu Niko sambil terus memeluk Rere
"Dok, zhea nggak apa-apa kan?" Tanya Niko saat Adnan keluar dari ruangan zhea
"Untung kita cepat menyadari apa yang terjadi tadi. Kalo nggak zhea benar-benar bakalan pergi untuk selamanya, dan pengorbanan exsel akan sia-sia" ucap Adnan menghela nafas kasar
Di lain ruangan, exsel perlahan-lahan membuka matanya. Karena pusing, exsel kembali memejamkan matanya. Sesaat kemudian, exsel teringat apa yang membuatnya terbaring di rumah sakit seperti ini. "Zheaa" ucapnya pelan
Exsel meraba-raba bell yang berada di atas kepalanya. Setelah berhasil menekan bel itu, exsel kembali memejamkan matanya karena terasa sangat pusing.
"Dokter Adnan, ayo keruangan dokter exsel. Mungkin dokter exsel sudah sadar sekarang, karena ada yang menekan bel di ruangannya" ucap seorang suster.
Adnan mengangguk, dan langsung masuk ke ruangan exsel.
"Dokter exsel sudah sadar? Bearti udah nggak ada masalah lagi dong? Zhea juga akan sehat kan Yo, nik" ucap Rere berlari melihat exsel dari balik pintu
"Kita do'a kan saja yang terbaik untuk mereka. Perjalanan cinta mereka sangat sulit, habis ini semoga mereka bisa bahagia selamanya" ucap Niko
"Gue juga berharap lho bisa bertemu dan bahagia dengan orang yang lho cintai nik. Gue tahu lho selama ini punya perasaan ke zhea. jika zhea memang bukan jodoh lho, semoga lho bisa dapat orang yang jauh lebih baik dari zhea dan yang pastinya bisa buat lho bahagai dan yang mencintai lho, seperti gue yang berhasil mendapatkan Rere" batin Rio. Rio tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Niko. Rio tahu, bahwa Niko mempunyai perasaan lebih pada zhea, pasti sangat sulit berada di posisi Niko sekarang
__ADS_1