BAD GIRL

BAD GIRL
Episode 17


__ADS_3

Sesuai janjinya kepada Bara, hari ini dia akan bertemu dengan orang tua Bara di sebuah restaurant. Bara menawarkan untuk menjemputnya, namun Alesh menolak dan meminta Bara untuk menunggu di depan restaurant. Bara tersenyum melihat Alesh turun dari mobilnya. Bara mengenggam tangan Alesh, dan dibalas dengan senyuman termanis Alesh yang membuat jantung Bara jungkir balik sekarang. Bara menghentikan langkahnya, lalu menatap Alesh.


“Al, dengerin gue. Apapun yang terjadi didalam nanti percaya sama gue kalau gue nggak akan pernah ninggalin lo. Oke.”


Alesh tidak mengerti maksud Bara, dia hanya mengangguk. Lalu mereka kembali berjalan menuju meja orang tua Bara.


Alesh shock melihat laki-laki paruh baya yang ada didepannya sekarang, matanya membulat tidak percaya. Disana juga ada Nadia yang sudah duduk dengan manis disebelah Selly, mama Bara.


Apa sebenarnya hubungan Bara dengan Nadia? Dan siapa sebenarnya laki-laki itu? Kenapa dia ada disini bersama keluarga Bara? Nafas Alesh memburu dan kakinya terasa seperti jelly, lemas tidak terkendali. Nadia tersenyum mengejek melihat reaksi Alesh sekarang, dia mengangkat sebelah alisnya.


Tatapan mata laki-laki itu bertemu dengan mata Alesh, dia sama kagetnya dengan Alesh dan segera melempar pandangannya kearah lain.


“Al.” Bara menjentikkan jarinya didepan wajah Alesh yang masih terpaku melihat sosok didepannya. Bara menggeser kursi untuk Alesh dan membimbingnya untuk duduk. Bara duduk disebelahnya. Alesh sibuk dengan pikirannya sendiri, terlalu banyak hal mengejutkan disini. Dia menganggkat wajahnya dan menatap Nadia yang sedang tersenyum licik kearahnya.


“Dia siapa Bar?” tanya Selly.


“Dia pacar Bara, namanya Alesh.” Jawab Bara dengan tenang, Selly melotot kearah Bara.


“Apa-apaan kamu Bara? Malam ini pertemuan keluarga kita dengan keluarga Nadia. Untuk apa kamu bawa dia kesini? Dan sebentar lagi mereka sampai.” Ujar laki-laki berjas hitam itu dengan nada suara yang tinggi. Tangan Bara menggenggam erat tangan Alesh yang dingin.


“Aku sudah pernah bilang sama papa kalau aku nggak mau tunangan sama Nadia. Aku berhak memilih calon istriku sendiri.”


Jantung Alesh berpacu lebih cepat dari biasanya. Apa dia salah dengar? Tunangan? Lelucon apa ini?


“Sekarang cepat kamu suruh perempuan itu pulang!” Kata laki-laki itu dengan matanya yang mulai merah. Suaranya terlalu tinggi, membuat pengunjung lain menoleh kearahnya.


“Enggak pah!” jawab Bara membantah.


“Untuk apa kamu masih disini?” tanya laki-laki itu kearah Alesh.


“Bara sudah nak lebih baik kamu turuti kemauan papamu.” Ujar Selly memohon.


“Kenapa? Takut kalau rahasia anda akan terbongkar sekarang?” tanya Alesh memberanikan diri.


Laki-laki itu memicingkan matanya lalu berdiri dari duduknya dan menarik tangan Alesh dengan begitu kasar.


“Sekarang kamu pergi dan jauhi anak saya!” bentaknya kepada Alesh. Dengan cepat Bara menahan lengan Alesh dan menepis cekalan tangan papanya.

__ADS_1


“Lepasin tangan Alesh! Papa nggak berhak sentuh dia.”


“Dia hanya akan menghancurkan kebahagiaan kamu, Bara! Dia bukan perempuan baik-baik. Dia nggak pantas jadi istri kamu, dia cuma perempuan murahan.” Dia menunjuk kewajah Alesh. Alesh segera menepis tangan orang itu, nafasnya semakin memburu.


“Anda nggak usah nunjuk-nunjuk saya seperti itu, anda kira anda siapa? Ha? Anda kira saya yang mengejar Bara? Asal anda tahu dia yang selalu datang kepada saya. Kalau saya perempuan murahan lalu apa bedanya dengan anda?”


Kini adegan mereka menjadi tontonan gratis seluruh pengunjung restaurant. Selly hanya menonton, begitupula dengan Nadia. Dia menunggu kalimat Alesh yang selanjutnya.


“Atau jangan-jangan istri dan anak anda belum tahu kalau sebenarnya anda adalah seorang pecundang rendahan?” kalimat Alesh barusan membuat Selly dan Bara terkejut. Nadia hanya diam sejak tadi, tidak ada ekspresi apapun diwajahnya.


“Apa maksud kamu?” tanya Selly pada Alesh.


“Dasar perempuan murahan!” bentak laki-laki itu dan ingin menampar Alesh, namun Bara kembali menepisnya.


“Kalau saya murahan, anda apa? laki-laki rendahan? Atau pecundang yang nggak tahu diri? Atau-”


“DIAM, ******!”


“Apa saya harus memberi tahu semua orang disini kalau anda adalah ayah tiri saya? Orang yang sudah menghancurkan keluarga orang lain? Orang yang sudah membuat satu keluarga saling membenci?”


“Jangan sekali-kali kamu mencoba menghancurkan keluarga saya, ******!” kata Andri dengan suara beratnya.


“ANDA YANG SUDAH MENGHANCURKAN KELUARGA SAYA, BRENGSEK!”


Teriak Alesh lalu dia meninggalkan restaurant. Pipinya sudah basah air mata. Bara masih terpaku ditempatnya. Dia masih mencerna semua kalimat Alesh barusan.


“Al tunggu!” panggil Nadia saat Alesh sudah hampir membuka pintu mobilnya. Alesh tidak menoleh kearahnya dan tetap masuk kedalam juke merahnya.


Alesh melajukan mobilnya meninggalkan restaurant dan keluarga Bara. Hatinya kacau, dia begitu frustasi atas kejadian barusan. Ia berkali-kali menyeka air matanya.


Alesh sudah meninggalkan dunia malam seperti sekarang, tapi malam ini entah kenapa kakinya tergerak untuk datang ketempat sialan itu lagi.


“Segelas martini lagi.” Ucap Alesh dengan mata yang sudah sayu. Seorang bartender memberikan pesanan Alesh, dengan cepat Alesh menenggaknya seperti orang kesetanan.


“Udah lama baru datang lagi, ada masalah?” tanya Joe ,bartender yang memang sudah kenal dengan Alesh. Alesh tidak menjawabnya, dia langsung berdiri dan berjalan kearah dance floor.


Alesh langsung menari mengikuti irama tanpa menghiraukan apa yang disekitarnya. Ini adalah cara terbaik melupakan masalahnya menurut Alesh. Seorang lelaki yang ikut menari tepat dibelakangnya membuat Alesh risih. Laki-laki itu melingkarkan tangannya dipinggang Alesh. Tapi dengan cepat Alesh menyikutnya hingga laki-laki itu berteriak namun suaranya kalah oleh musik yang menggema.

__ADS_1


“Sialan.” Pekik laki-laki itu sambil menahan sakit.


Alesh keluar dari dalam bar karena dia merasa terusik oleh laki-laki yang tadi menari dibelakangnya. Alesh terus berjalan dengan sempoyongan. Dia sudah benar-benar mabuk.


“Semua orang pecundang! Penghianat! Semuanya munafik!” gumam Alesh.


Alesh berjalan kearah mobilnya, lalu dia mencari kunci mobil yang berada didalam tas tangannya.


“Kenapa nggak bisa dibuka sih?” Alesh kesal sendiri karena sejak tadi pintu mobilnya tidak bisa terbuka.


“Alesh.” Panggil seorang cowok dibelakang Alesh, Alesh menolehkan kepalanya lalu menatapnya dengan tatapan sayu.


“Apa lo? Lo kan yang ngambil kunci mobil gue? Sini balikin.” Tanya Alesh sambil menunjuk wajah cowok itu.


“Al, lo mabok?” tanya orang itu. Alesh menyipitkan matanya, lalu memperhatikan cowok itu masih dengan tatapan sayu.


“Ah, gue kayaknya pernah lihat lo. Pasti lo mata-mata kan?” ujar Alesh. Dia benar-benar mabuk kali ini.


“Al, ini gue Nata. Lo kenapa mabuk gini?” Nata merebut kunci mobil dari tangan Alesh.


“Nata? Nata siapa? Oh ya lo tetangga gue kan mahasiswa baru dikelas gue. Hahaha lo ngapain disini? Mau minum juga?”


pertanyaan Alesh semakin ngawur. Nata segera memapah tubuh Alesh untuk masuk kedalam mobilnya.


“Mobil gue disana ****!” Alesh mencoba melepaskan tangan Nata yang masih memapahnya.


“Itu bukan mobil lo.” Jawab Nata datar.


“Lo pasti mau nyulik gue! Iya kan lo penculik? Ngaku lo!” Nata tidak menghiraukan ocehan Alesh yang semakin ngawur, lalu membuka pintu mobil dan membantu Alesh duduk. Nata duduk di kursi kemudi dan mengambil ponsel dari saku kemejanya.


“Pak tolong ambil mobil saya di depan club dekat apartement. Terimakasih.” Nata mematikan ponselnya setelah mendapat jawaban dari seseorang diseberang sana. Beberapa menit kemudian Alesh memejamkan matanya, Nata segera memasangkan seat belt.


“Ngapain lo ketempat kaya gini sih Al? Kenapa lo keliatan kacau begini?” tanya Nata walaupun tidak direspon oleh Alesh, tangan kirinya mengelus rambut Alesh dengan lembut.


“Lo terlalu banyak memendam kesedihan buat lo simpen sendiri Al.” Ucap Nata sedih.


Nata menghela nafasnya, lalu melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat yang tidak seharusnya menjadi pelarian untuk Alesh

__ADS_1


__ADS_2