
Bab 143
"Lihat nih kaki gue. Di tendang sama guru lacknat" ucap Rere memperlihatkan kakinya
Adnan yang mendengar itu, mencoba menahan tawanya.
"Hahahaha, itu namanya badan lho nggak seimbang re. Oh iya, nih Rio baru balik dari beli makanan, mau ngomong sama dia?"
"Nggak! Kalo sampai lho kasih hp lho ke dia, gue nggak mau lagi ngangkat telpon dari lho"
"Bisa ngancam juga nih cewek" batin adnan
"Jangan gitu lah re, marahnya jangan lama-lama,. Ntar cepat tua lho"
"Gue nggak peduli! Udah akh, gue tutup dulu mau istirahat" ucap Rere memutuskan sambungan video call dari Niko, dia melempar hpnya ke sembarang arah, sehingga mengenai kakinya yang sakit.
"Auuuuu" pekiknya
"Hahahahahahah" tawa Adnan pecah melihat ke konyol Rere.
"Senang banget lho ya lihat orang menderita"
"Derita lho itu, lho sendiri yang ciptain"
Zhea kembali lagi ke ruangan Rere dengan membawa beberapa minuman di dalam plastik.
"Nih gue bawain minuman buat lho. Lho pasti haus kan abis teriak-teriak dari tadi" ucap zhea memberi plastik itu pada Rere
"Hehe, tahu aja lho kalo gue lagi haus" ucap Rere cengengesan
"Udah hafal gue"
__ADS_1
"Boss suami lho dimana?" Ucap Adnan
"Diakan dokter, udah pasti meriksa pasienlah. Lagian, lho manggil gue pake nama aja, nggak usah boss- boss segala"
"Ya lho kan pemilik rumah sakit ini. Tapi, mau di panggil nama asli atau istrinya dokter exsel nih"
"Heh" bentak zhea
"Hehe, kan cuma nanya. Kalo nggak Mau gue panggilnya nyonya Alexander aja"
"Alexander?"
"Ya, Alexander. Nama lengkap suami lho kan Exel Alexander, masa nama suami sendiri lupa"
"Bukannya lupa, emang gue nggak pernah tahu aja"
"Kan waktu kalian nikah di sebutin tuh nama aslinya"
"Astaga" ucap Adnan kehabisan kata-kata.
"Gue udah boleh pergi kan? Nggak betah gue lama-lama di sini" ucap Rere
"Tentu saja boleh. Lagian cuma terkilir doang" sahut Adnan
"Eh lho nggak ngerasa aja gimana sakitnya"
"Dulu tangan gue patah, biasa aja tuh gue. Nggak teriak-teriak kayak lho"
"Itu tangan bukan kaki. Lagian lho kan cowok masa iya teriak-teriak, banci lho kalo kayak gitu"
"Eh lho ngomong apaan tadi"
__ADS_1
"Lho banci. B A N C I. banci"
"Ngeselin juga lho ya lama-lama"
"Emang kenapa? Lagian lho pikir lho nggak ngeselin gitu?"
"Ada apa sih kalian ribut-ribut. Pasien yang lagi istirahat keganggu dengar suara kalian" ucap exsel, yang mendengar suara mereka dari ruangan lain dan langsung datang untuk meleraikan perdebatan mereka.
"Lagi memperebutkan gelar nyeselin mereka" ucap zhea yang sedari tadi diam beranjak duduk di sofa.
"Stop bikin keributan. Kamu juga nan, seharusnya kamu nggak buat keributan sama pasien sendiri" ucap exsel
"Dengarin tuh" sahut rere
"Kalo pasienya kayak dia, gimana nggak emosi coba"
Zein mengirimkan banyak pesan ancaman buat zhea. Zhea yang membaca isi pesan itu hanya menyeringai. Begitupun dengan Leon, yang mengatakan tidak mengagapnya sebagai putrinya lagi jika zhea tidak meninggalkan exsel.
"Zhe, senyum lho kok ngeri banget lihatnya ada apa?" Ucap Rere
"Ah, bukan apa-apa, gue hanya baca artikel lucu aja" bohong zhea
"Artikel lucu? Emang ada ya"
"Ada banyak malahan, kalo nggak percaya cari aja di internet"
"Terserah lho deh Zhe. Ornag dimana-mana tuh kalo lucu ketawa atau kalo nggak senyum yang ikhlas lah ya, ini menyeringai kayak mau bunuh orang. Jangan bohongin gue lho Zhe, gue tahu isi pikiran lho"
"Kalo tahu ngapain masih nanya coba"
"Ishh" ucap Rere memutar bola matanya
__ADS_1