
Exsel memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper.
"Kenapa di masukin ke koper pakaiannya? Kita masih 4 hari lagi di sini"
"Sayang, tadi Adnan telpon dia bilang kalo Niko kecelakaan. Jadi, kita harus segera pulang" bohong exsel. Ini adalah rencana yang di buat Raka dan Niko agar zhea setuju untuk kembali
"Apa? Tapi Niko nggak apa-apa kan?"
"Aku juga nggak tahu sayang. Tapi, Zein mengirim asistennya untuk menjemput kita"
"Jemput kita? Itu bearti Niko kenapa-napa dong?" Panik zhea
"Sayang jangan panik dulu. Kita do'a kan niko baik-baik saja"
"Maaf Zhe, aku harus bohong. Aku ngagk mau kamu menyesal jika tidak ada di saat-saat terakhir mamamu" batin exsel
"A-aku ke kamar Rio dan Rere dulu. Mereka pasti belum tahu tentang ini" ucap zhea segera beranjak pergi
Exsel mengirimkan pesan ke Rio dan memberitahu apa yang terjadi. Exsel takut nanti Rio akan sama paniknya dengan Zhea
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di rumah sakit dan mengikuti langkah Raka menuju ruangan lara.
Zhea terlihat sangat panik dan exsel terus menggenggam tangan zhea.lain halnya dengan Rere, saat zhea mengatakan Niko kecelakaan dia sama paniknya dengan zhea. Namun, pada saat mereka berada di jet, Rio meneruskan pesan yang exsel kirimkan ke Rere agar istrinya itu tenang. Setelah membaca pesan itupun Rere menjadi lebih tenang,dia senang karena Niko tidak apa-apa. Walau di sisi lain, dia juga mengkhawatirkan keadaan lara.
Saat memasuki ruangan itu, zhea terkejut melihat Niko yang ternyata berdiri di samping brankar.
"Niko, lho...." Namun ucapan zhea terhenti ketika melihat Tiffany menangis dna ternyata yang berada di brankar adalah lara mama kandungnya yang sedang sekarat.
Zhea memundurkan langkahnya, namun matanya tetap melihat lara.
"Sayang..." Ucap exsel. Namun zhea dengan cepat menggelengkan kepalanya agar exsel tak meneruskan ucapannya
"Z-zhea" ucap lara terbatah-batah
"Zhea gue mohon mendekatlah, mama dari kemarin-kemarin nyariin lho. Gue mohon zhea kali ini aja" teriak Tiffany dengan tangis pilunya
Zhea ingin melangkah pergi, namun di tahan oleh exsel "sayang, kali ini aja. Karena mungkin kamu tidak bisa bicara dengan Tante lara lagi setelah ini"
Zhea nampak berpikir sejenak, kemudian dengan langkah perlahan dia mendekati brankar lara. Jadilah Tiffany dan zhea brlerada di sisi kanan-kirinya lara.
"Z-zhe-zhea mama min-ta ma-maaf sama kam-mu ssa-yang, kare-na mam-ma kamu ha-rus men-de-rita. Ambillah gi-ginjal ma-ma nan-ti, agar ka-kamu bisa hi-hidup de-dengan ba-baik. Ma-maaf kan mama, ka-rena ti-dak bisa men-jadi i-bu yang b-baik bu-at kk-kamu. Mam-ma bangg-ga dan ber-syukur memi-liki ka-mu. B-bolehkah mam-ma men-ciummu ss-sayang" ucap lara terbatah-batah
Zhea mengepalkan kedua tangannya, hatinya tidak menerima keadaan lara yang seperti ini. Namun, jika mengingat lara yang meninggalkannya membuat hatinya juga menolak untuk dekat dengan ibu kandungnya itu.
"Zhe..please" ucap Tiffany agar zhea mau di cium oleh lara
Akhirnya zhea pun mendekatkan wajahnya ke lara, lara mencium Lama dahi zhea.
"Teri-maka..."
Tittttttttt...... Suara monitor terdengar keras dan lara menutup mata untuk selamanya.
Air mata zhea lolos begitu saja, dan tepat mengenai wajah lara.
"MAMAAAAAAAAA" TERIAK TIFFANY SAMBIL MEMELUK TUBUH LARA. SEMENTARA ZHEA DIAM MEMATUNG DAN HANYA AIR MATA YANG MENGALIR
__ADS_1
exsel langsung memeluk zhea, tali zhea tetap mematung "menangis lah jika ingin menangis sayang" ucap exsel mengelus-elus rambut zhea
"Mama bangun. Jangan tinggalin Tiffany. MAMA"
"Tiffany, Tiffany sabar ya. Biar Tante tenang di sana" ucap Zein yang juga memeluk Tiffany.
Semua orang yang ada di sana merasakan kesedihan yang sama.
"Zein, papa dimana? Dari tadi aku belum ketemu papa. Papa harus tahu mama udah ninggalin kita Zein. Gu-gue"
"Tiffany tenang dulu ya. Tante udah ketemu om di syurga"
"Mak-maksud lho" ucap Tiffany linglung
"Lho wanita yang kuat kan tif, om udah meninggal 3 hari yang lalu saat kalian kecelakaan" jelas Zein
"Nggak nggak nggak mungkin. Lho pasti bohong kan Zein. Bilang kalo lho bohong Zein"
"Ini kebenarannya tif, lho harus kuat. Biar Tante dan om tenang ninggalin lho di sini. Mereka udah pasti bahagia di sana"
"MAMA PAPAAAAAA" TERIAK TIFFANY MEROSOT KELANTAI DALAM PELUKAN ZEIN. DAN TAK LAMA KEMUDIAN DIA SUDHA TIDAK SADARKAN DIRI.
_____________
SETELAH SELESAI BERDO'A SATU PERSATU ORANG YANG ADA DI SANA PERGI. SEHINGGA TINGGALLAH ZHEA, EXSEL, RERE, NIKO, RIO, TIFFANY, ZEIN DAN RAKA.
ZHEA MENABURKAN BUNGA KE KUBURAN LARA, DAN AIR MATA PUN TAK BISA DI TAHAN LAGI.
"sayang menangis lah jika ingin menangis. Tapi, setelah itu ikhlaskan kepergian Tante" saat mendengar ucapan exsel itu, tangis zhea benar-benar pecah dan pilu. Semua orang yang mendengar tangisnya pun merasa hatinya tersayat dan ikut dalam kesedihan.
"Kenapa di detik-detik terakhir baru bilang bangga dan bersyukur. Kenapa nggak dari dulu-dulu KENAPA?" TERIAK ZHEA. EXSEL LANGSUNG MEMELUK ISTRINYA ITU, DIA TIDAK INGIN MELIHAT ZHEA MENANGIS TAPI JUKA ZHEA HANYA MEMENDAMNYA JUGA ITU AKAN MEMBUATNYA TERTEKAN. HANYA PELUKAN YANG EXSEL BERIKAN SEBAGAI DUKUNGAN
"SAYANG SABAR YA KITA DO'AKAN TANTE TENANG DI SISINYA ALLAH" UCAP EXSEL MENGELUS-ELUS PUNGGUNG ZHEA
"PAPA, MAMA KENAPA KALIAN NINGGALIN TIFFANY SENDIRIAN. TIFFANY NANTI SAMA SIAPA? TIFFANY TAKUT SENDIRI. KENAPA KALIAN NGGAK BAWA TIFFANY IKUT KALIAN AJA" PILU TIFFANY.
"Tiffany nggak boleh ngomong kayak gitu. Jangan sedih kayak gini, om dan tante pasti juga sedih liat kamu di sana. Yang harus kita lakukan adalah berdo'a untuk mereka bukan meratapi kayak gini"
Hari beranjak sore, hanya tinggal zhea, exsel, Tiffany dan Zein di pemakaman.
"Sayang, ini udah sore. Kita pulang dulu ya, besok-besok kita ke sini lagi. Kamu juga belum sarapan dari kemarin" ucap exsel lembut
Zhea hanya mengangguk, saat berdiri tiba-tiba penglihatannya buram, dan dia pun kehilangan kesadaran.
"Sayang..." Ucap exsel langsung mengendong zhea dan beranjak pergi dari sana.
"Zhea..." Gumamal Tiffany yang melihat zhea sudah di bawa pergi oleh exsel.
"Sebaiknya kita juga pergi dari sini tif" ucap Zein
__ADS_1
"Lho kalo mau pergi ya pergi aja. Gue pulang juga percuma nggak ada siapa-siapa di sana" ucap Tiffany kembali menangis
"Lho harus perhatikan kesehatan lho tif. Sejak sadar lho belum makan apapun. Jangan sampai lho pingsan lagi nanti. Kita juga harus siapkan tahlilan buat om dna Tante"
"Tapi ini udah sore, apa masih sempat?"
"Sahabat-sahabat zhea sudah pergi dan mempersiapkan tahlilan di mansion kalian. Mungkin, dokter exsel juga bawa zhea ke sana"
______________
Hari berganti hari, malam ini adalah malam ketujuhnya tahlilan Dimas dan lara.
"Alhamdulillah, acaranya berjalan lancar" ucap exsel. Zhea hanya mengangguk
"Zhe, Tiffany, Zein, dokter exsel kita pamit pergi dulu ya" ucap Niko
"Makasih ya nik, Rio dan lho juga re atas semuanya"
"Santai aja. Jangan sedih-sedih lagi, oke" ucap Rere Tiffany hanya mengangguk dan tersenyum
"Kalo gitu kita pergi dulu" ucap Rio
"Oh iya kalian tunggu di sini sebentar ya" ucap Tiffany beranjak pergi
"Zein gue minta sama lho buat jagain tiffany. Dia benar-benar sendiri sekarang. Jangan sampai dia putus asa dan nekad nantinya" ucap zhea
"Kenapa harus gue Zhe?"
"Karena lho yang paling ngerti dia. Gue nggak mau dia ngerasa kesepian sama kayak gue dulu. Dia berada dalam keadaan paling buruk sekarang"
"Zhe, ini" ucap Tiffany memberikan sesuatu ke zhea
Zhea pun membuka kotak itu, dan ternyata isinya adalah kalung
"Sebelum lho datang mama minta gue buat kasih kalung ini ke lho. Kalung ini mama beli saat gue lulus SMA dan kita liburan ke Italia. Mama bilang bakal kasih kalung ini ke anaknya sebagai hadiah pernikahan. Gue kira Kalung ini buat gue dulu, karena waktu itu gue belum tahu kalo mama punya anak kandung. Terima ya Zhe, jangan buat mama sedih. Lho juga udah nolak ginjal dari mama"
Zhea hanya mengangguk, dan menutup kembali kotak kalung itu.
_________
Zhea dan exsel kembali ke mansion dan berada di kamar mereka.
"Sayang, apa kamu lelah?" Ucap exsel duduk di samping zhea
Zhea menyandarkan kepalanya ke bahu exsel dan exsel pun MENGELUS-ELUS rambut zhea.
"Nggak. Cuma nggak nyangka aja mama bakal ninggalin aku secepat ini, bahkan tanpa menebus kesalahan-kesalahan yang dia buat ke aku selama ini"
"Udahlah sayang, maafin semua kesalahan mama. Biar dia bisa tenang di sana dan ikhlasin juga kepergian dia. Heum"
Zhea mengangguk "rumah sakit gimana? Kapan selesai renovasinya"
"Adnan bilang sekitar dua bulan lagi. Sekarang kita istirahat ya, beberapa hari ini pasti sangat melelahkan"
Zhea menganguk mereka berudua lalu berbaring dan saling berpelukan.
__ADS_1