BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 157


__ADS_3

Bab 157


Mendengar cerita Rere, membuat hati Rio sakit mendengarnya. Rio beranjak pergi, untuk menghubungi seseorang.


"Lho kak, mau kemana?" Tanya Tasya


Rio tidak merespon ucapan Tasya, dia beranjak pergi dari sana tanpa mempedulikan Tasya.


Celline menepuk-nepuk tangan Tasya, ketika melihat wajah adiknya itu berubah sedih.


"Kamu punya nomornya dokter exsel kan? Coba hubungi dia dan minta bantuan ke dia"


"Ada sih nik. Cuma, gue nggak enak aja ngerepotin dia. Dia itu sibuk banget, di kampus dan rumah sakit. Oh iya, gue dengar kayak ada suara cewek."


"Ada celline sama Tasya di sini."


"Oh, apa gue nganggu kalian?" Kali ini Rere tidak lagi memprotes Niko dan Rio dekat dengan cewek lain. Karena, ada rasa kecewa di hatinya.


"Nggak kok. Sekarang lho gimana dong, lho harus cepat-cepat kerumah sakit"


"Ya nggak apa-apa lah Nik, nunggu pembersih-bersih datang aja. Palingan bentar lagi juga datang, tapi jangan dimatiin dulu panggilannya, temanin gue"


" Lho buat gue takut tahu nggak"


"Hahaha. Santai aja Nik, cuma kaki gue yang sakit" ucap Rere membaringkan tubuhnya di jalanan sirkuit.


"Apa ada lagi yang sakit?"

__ADS_1


Rere menggeleng, dia merasa tubuhnya semakin lemah.


Rere menutup matanya, karena tiba-tiba kepalanya terasa sakit.


"Re, Rere. Jangan buat gue khawatir dong. Buka mata lho"


Rere membuka matanya, tatapannya sayu dia tersenyum lalu berucap "gue cuma capek nik"


Sementara itu, Rio menelpon exsel agar exsel membantu Rere. Setelah beberapa kali menghubungi exsel dan tidak di jawab. Akhirnya exsel menjawab panggilannya.


"Hallo dok, tolongin saya, bantuin Rere di sirkuit. Dia kecelakaan di sana, dan di sana nggak ada orang sama sekali" ucap Rio to the point.


"Apa? Oke-oke, saya ke sana sekarang. Kirimkan alamatnya"


Rio langsung memutuskan sambungan telponnya, kemudian mengirimkan alamat sirkuit.


"Re, lho nggak apa-apa kan? Rere please kali ini aja jawab gue" ucap Rio kepanikan.


Tasya melihat reaksi Rio segitu khawatirnya, dia pergi tanpa sepatah katapun karena sakit hati, celline yang melihat itupun mengikuti langkah adiknya itu.


Sementara itu, Rere mulai kehilangan kesadarannya. Sehingga hp yang dia pegang jatuh.


Hal itu, membuat Rio dan Niko bertambah khawatir.


"Re, Rere! Lho bisa dengar gue kan?" Teriak Rio.


"Yo, Yo, Yo. Kendalikan diri lho, lho jadi pusat perhatian. Coba lho hubungin, siapa saja orang yang kira-kira bisa bantu Rere. Dia pingsan ini"

__ADS_1


"Gue udah ngehubungi dokter exsel tadi. Semoga aja, dia cepat datang nolongin Rere"


"Ya, kita tenang aja dulu. Panggilannya juga belum terputus, kita bisa dengar jika mereka datang nanti".


Exsel dan Adnan dalam perjalanan membantu Rere. Exsel yang awalnya hanya ingin meminjam mobil pada Adnan untuk membantu Rere, tali Adnan malah memilih untuk ikut dengannya.


"Lho tau dari mana si Rere kecelakaan?" Tanya adnan


"Rio yang ngasih tahu"


"Rio?"


"Sahabat cowok zhea sama Rere"


"Oh iya-iya gue ingat"


20 menit kemudian, exsel dan Adnan sampai di sirkuit.


"Nan, nan. Angakt dia bawa ke mobil cepat" Adnan menganguk, kemudian segera mengendong Rere dan membawanya masuk ke mobil.


Exsel mendengar suara orang memanggilnya. Suara itu berasal dari hp Rere karena panggilan video tidak terputus.


"Kalian tenang aja, saya dan Adnan akan membawa Rere ke rumah sakit sekarang"


"Dok, tolong beritahu saya tentang keadaan Rere nanti"


Exsel menganguk. "saya tutup dulu" ucap exsel memutuskan panggilan video itu dan langsung masuk ke dalam mobil, menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2