
Percakapan dengan Nadia semalam membuat Alesh merasa lebih semangat pagi ini. Dia yakin kalau Nadia akan kembali kuliah setelah menghilang dua bulan yang lalu sejak kejadian malam itu. Alesh tersenyum sinis di depan cermin.
“Lets play the game, Alesh.” Katanya kepada diri sendiri.
“Fel.” Panggil Alesh sedikit berbisik saat kuliah sedang berlangsung.
“Hm.” Felish tak menoleh sama sekali, dia masih fokus mendengarkan dosen.
“Fel.” Alesh mengulanginya.
“Hm.”
“Feeeelll”
“Hhmm.”
“Lo tuh ya dari tadi ham hem ham hem doang.” Suara Alesh meninggi memecah keheningan dan seketika semua mata memperhatikannya. Wajah Alesh memerah, lalu ia mencakup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ada apa Alecia Andriana?” tanya Professor Ode, yang sejak tadi menjelaskan. Alesh hanya menggeleng dan nyengir lebar. Nata hanya menggeleng seperti biasa.
“Elo sih Fel.” Gerutu Alesh. Felish tertawa pelan.
“Bentar lagi paling tuh dosen keluar. Gue nggak mau ngulang mata kuliah ini, makanya gue keliatan serius gini.” Felish berbisik kepada Alesh.
“Najis lo Fel, jadi lo pura-pura serius doang?”
“Iyalah. Gila aja gue harus ngulang tahun depan.”
Alesh bisa bernafas lega saat Proffesor Ode mengakhiri perkuliahan siang ini. Alesh memang suka gitu, tiba-tiba suka nggak jelas kalau bosan di kelas. Biasanya Felish akan mengajaknya bergosip di tengah-tengah perkuliahan.
“Hai Bar.” Dengan refleks Bara menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Matanya terbelalak. Lalu dia berdiri dari duduknya.
“Nadia.”
“Iya Bar, nggak usah kaget gitu kali.” Nadia tersenyum dan memegang lengan Bara. Dengan cepat Bara melepasnya, lalu Nadia duduk di depan Bara.
“Rey, Ken apa kabar?” Nadia mencoba berbasa-basi kepada Rey dan Ken, sahabat Bara.
“Sangat baik.” Jawab Ken dan tersenyum. Rey masih sibuk dengan makanannya. Dia hanya tersenyum lalu kembali makan.
“Lo kemana aja Nad?” tanya Bara selidik.
__ADS_1
“Kenapa? Kangen ya gue tinggalin?” Nadia mengedipkan sebelah matanya.
“Kenapa lo pergi gitu aja Nad? Harusnya nggak gini, Alesh mutusin gue gitu aja. Dan sekarang dia ngomong sama gue aja udah nggak mau.”
“Gue,” Raut wajah Nadia berubah menjadi sedih dan menunduk.
“Boleh duduk disini?” tiba-tiba Alesh sudah berdiri di samping meja mereka, entah muncul dari mana. Bara terkejut, Nadia tak kalah terkejut. Tanpa aba-aba, Alesh duduk di antara Bara dan Ken. Felish heran melihat tingkah sahabatnya, lalu dia duduk disamping Rey.
“Hai Felish.” Sapa Rey dan mengedipkan matanya. Felish membalasnya dengan raut wajah jutek.
“Eh ada Nadia, apa kabar?” Nadia memandang Alesh dengan tatapan penuh kebencian. Alesh tersenyum puas.
“Gue baik.” Jawabnya singkat.
“Bara kok makanannya nggak dimakan sih? Ntar keburu dingin loh. Atau mau disuapin?” Alesh sengaja memanas-manasi Nadia.
Terlihat betul Nadia sangat jengkel. Hal itu justru membuat Ken, sahabat Bara terkekeh.
“Gue mau dong Al disuapin.” Ledek Ken dengan setengah tertawa. Pandangan Alesh kini berpindah kearah piring milik Nadia.
“Nadia juga makanannya nggak dimakan? Atau udah nggak makan nasi lagi? Ups, kan sekarang jamannya makan temen.” Kalimat Alesh jelas terdengar menyindir.
Bara dengan cepat menarik tangan Alesh dan mengajaknya pergi meninggalkan kantin karena Bara tidak mau melihat Alesh dan Nadia cakar-cakaran. Seperti biasa, Bara membawa Alesh ke lorong kampus.
“Gue? Ada yang salah?” jawab Alesh setenang mungkin.
“Oke, gue nggak ngerti dengan sikap lo barusan.”
“Apa salahnya gue nyapa temen lama gue Bar? Gue cuma pengen makan bareng kalian.” Suara Alesh terdengar sendu, gadis itu menunduk.
“Bukan gitu Al, gue cuma kaget tiba-tiba lo dateng seakan nggak terjadi apa-apa.”
Alesh mengangkat wajahnya,
“Nadia udah jelasin semuanya sama gue Bar, dan sekarang gue-”
“Nadia ngomong apa sama lo, Al?” Bara memotong kalimat Alesh.
“Kok lo panik gitu Bar?” tanya Alesh selidik.
“Bukan gitu, gue cuma nggak mau lo salah paham lagi ke gue.” Alesh tersenyum dan dibuat semanis mungkin.
__ADS_1
“Enggak kok Bar, gue udah maafin lo.” Jawab Alesh dengan tenang, mata Bara membulat.
“Maksud lo Al?”
“Ya gue udah maafin lo.”
“Itu artinya lo mau balikan sama gue, Al?” Alesh mengangguk, lalu Bara hampir memeluknya tapi Alesh menghindar.
“Sorry Al, gue kelewat seneng.” Alesh hanya tersenyum simpul. Kebahagian terlihat jelas dari wajah Bara.
“Bar.”
“Hhmm?”
“Lo tau nggak?”
“Apa?”
“Gue belum bayar makanan gue, balik ke kantin yuk.” Bara tertawa mendengarnya.
Hampir saja dia lupa tidak membayar makan siangnya karena pergi begitu saja menarik Alesh. Mereka kembali ke kantin, tangan Bara menggenggam tangan Alesh. Dada Nadia bergemuruh melihat pemandangan itu.
“Al, lo nggak kesambet kan?” tanya Felish yang tak kalah heran melihat Alesh dan Bara bergandengan. Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawabannya.
“Eh Bara, lo apain si Alesh? Pasti lo pelet sahabat gue kan?” sekarang Felish bertanya kepada Bara. Dia masih belum menemukan jawaban.
“Ck, apaan si lo Fel negative aja lo sama gue.”
“Terus itu ngapain lo pegang-pegang tangan Alesh, terus Alesh jinak gitu sama lo?” Felish menunjuk tangan mereka berdua.
“Ini?” Bara mengangkat tangannya yang masih menggenggam tangan Alesh, “gue sama Alesh balikan”
Uhuk
Nadia tersedak mendengar pernyataan Bara.
“Kenapa Nad?” tanya Alesh, “Oh ya, by the way makasih ya berkat lo gue sama Bara balikan lagi sekarang.”
Nadia tersenyum dengan paksa. Dia berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan semua ini. Baru saja semalam dia meminta Alesh untuk menjauhi Bara, sekarang dia malah balikan. Alesh memang gadis yang licik.
“Selamat ya Al.” Sahut Nadia.
__ADS_1
“Gue duluan.” Gadis itu meninggalkan makanannya yang masih separuh. Alesh melepaskan tangan Bara setelah Nadia pergi.
“Nad, kok pergi sih?” panggil Rey dengan wajah polos tanpa dosa. Ken memukul pelan kepala Rey.