
"Enggak mungkin Celina ku ikut dalam kecelakaan itu enggak mungkin" Lirih Yogi yang ada di dalam mobil.
Yogi memutar mobil nya meninggalkan tempat kecelakaan yang terjadi kemarin, Yogi mendatangi rumah sakit dimana tempat Celina dengan ketiga saudaranya.
Yogi menanyakan dimana letak pasien yang kecelakaan kemarin malam atas nama Celina, tapi resepsionis tidak mau mengatakan dimana kamar rawat Celina dengan yang lain berada.
Yogi memaksa resepsionis tapi tetap saja tidak mau mengatakannya karena pihak keluarga tidak mengijinkan siapapun untuk tau dimana putri dan menantunya di rawat. Apalagi kemungkinan besar mereka buka murni kecelakan tapi sengaja dicelakai orang.
Yogi sangat frustasi bagaimana dia bisa melihat keadaan cintanya jika dia tidak bisa menemukan dimana Celina dirawat saat ini. Dia sangat menyesal bagaimana bisa dia mencelakai cintanya sendiri, padahal dia ingin hidup bersama dengan nya selamanya.
"Bagaimana aku bisa memastikan Celina baik baik saja??" Batin Yogi yang tengah duduk di kursi depan IGD.
Sedangkan di gedung yang sama di lantai yang berbeda Celina tengah tertidur sangat pulas di ruang ICU, sedangkan Putri sadang di ruangan khusus. Rian dan Irwan mengalami patah tulang di kaki yang kini sudah ada di ruang rawat inap.
Siska dan Melati saling berpelukan diruang tunggu yang ada di depan ruang ICU dan ruang khusus. "Mbak anak dan menantu ku"
Melati dan Siska menangis saling pelukan mereka sangat terpukul mendengar kabar yang membuat mereka hancur, anak dan menantu nya dalam keadaan tidak baik baik saja.
Dua wanita hamil itu menatap miris ruangan yang bersebelahan itu, mereka melihat dua remaja cantik yang berbeda tempat harus berjuang dari maut. Celina yang di nyatakan koma membuat kedua orang tuanya dan juga mertuanya sangat terpukul, sedangkan Putri tengah kritis setelah menjalankan operasi.
"Ma, sabar Ma"
"Bagaimana bisa sabar Pa, Putra dan Putri ku terbaring di dalam sana"
"Ma, kita berdoa saja untuk kesembuhan anak anak"
"Aku selalu berdoa agar mereka cepat sembuh Pa, Pa jangan biarkan orang yang mencelakai anak dan menantu kita lepas begitu saja"
"Iyah Ma, Mama tenang saja. Aku dan Mas Ruddy sudah mengusahakan untuk mencari orang yang mencelakai anak dan menantu kita" Patra sebenar nya sangat rapuh melihat Menantu dan anak nya dalam keadaan baik baik saja.
Patra merasa bersalah sebagai orang tua, dia merasa tidak bisa menjadi Papa yang baik untuk anak anak nya sampai kejadian ini menimpah mereka berempat.
Ditempat Lain Ayu tengah menatap Putranya yang belum bangun, dia dengan suaminya menatap Irwan dengan perasaan yang dicabik cabik, apa lagi melihat menantu nya Ayu sangat tidak tega dadanya sangat sesak.
"Pa aku mau orang yang mencelakai Putra dan menantu ku harus segara ada di dalam jeruju besi"
"Iyah Ma, semua ini sudah di urus oleh Ruddy dengan Patara.
__ADS_1
"Apa Putri sudah bangun Pa??"
"Belum Ma"
"Bagaimana dengan Celina???"
"Dia, dia koma Ma"
"Apa Pa???"
Ayu semakin bersedih mendengar Putri dan Celina sangar menghawatirkan, Ayu menatap Irwan yang masih belum sadar. "Aku melihat Putri dulu Pa"
"Iyah Ma"
Ayu beranjak dari duduk nya berjalan keluar dari kamar rawat Irwan, Ayu masuk kedalam kamar Rian yang di sana ada Ruddy yang menunggu Rian. "Mas"
"Yu"
"Apa sudah ada kabar Mas???"
"Yah sudah Mas aku mau melihat Putri dan Celina"
"Celina hanya bisa di lihat dari kaca Yu"
Ayu menarik napas dalam untuk mengurangi sesak di dada nya, mendengar apa yang di katakan oleh Ruddy ayah Celina.
Ayu keluar dari dalam kamar Rian dia berjalan kearah lift, Aura keluar dari dalam lift yang mengantarnya naik kelantai Empat dimana Celina dengan Putri. Ayu menatap miris dua ibu hamil itu tangah berpelukan.
"Mbak Sis, mbak Mell"
Melati dengan Siska menolah kearah samping dimana ada Ayu yang tersenyum kepadanya. "Yu, gimana Irwan dan Rian???" tanya Melati dengan wajah yang kusam, rambut yang tertata rapi"
"Mereka belum sadar Mbak"
"Aku sudah sangat Lelah"
"Kamu istirahat dulu, jangan sampai kurang istirahat Mbak. Biar aku yang menunggu di sini kasihan janin yang kalian"
__ADS_1
"Aku tidak bisa memejamkan mataku, aku lelah ingin istirahat tapi mata ini sulit terpejam"
"Yang penting rebahan, mungkin nanti akan tertidur dengan sendirinya"
"Kita bagaimana bisa tidur Yu, sedangkan menantu dan Putri ku masih belum sadar"
"Mbak kalau mereka sadar juga tidak akan mau melihat Ibu dan Mama nya dalam keadaan kacau begini"
Dengan segala bujukan Ayu dua wanita hamil itu mau pulang untuk mengistirahatkan dirinya karena dari kecelakaan dua wanita hamil itu belum tidur, mereka menatap putri nya tengah ada di dalam ruangan yang mungkin saja sedang berjuang hidup.
Siska menatap Celina dengan air mata mengalir tanpa henti, begitupun dengan melati wanita berhijab itu sudah sangat pucat. Setelah menatap Celina dari kaca mereka, mereka masuk kedalam ruangan Putri menggunakan baju khusus.
Siska dan Melati berjalan keluar dari dalam lift bersama dengan patra, Patra akan mengantar dua wanita cantik itu untuk pulang ke rumah, sebelum mengantar Melati, Patra dan Melati mengantar Siska.
"Pak, Bu, Maaf"
Siska, Melati dan Patra menoleh kearah orang asing yanga ada di samping mereka, Melati dan Siska menatap orang itu heran pasalnya mereka tidak mengenalnya.
"Iyah, anda siapa???"
"Saya guru yang mengajar Siska dan Putri"
"Oh ada apa yah pak???"
"Saya ingin melihat keadaan anak didik saya" Yogi menatap Siska, Patra dan melati sebagai sosok guru yang baik padahal dia yang membuat mereka celaka.
"Ah saya akan langsung menyampaikan keadaan Putra putri kami kepada kepala sekolah dan tidak sembarang orang" tegas Siska yang menatap tidak suka dengan Yogi.
"Baiklah Bu, kalau begitu"
Tanpa menjawab ketiga orang tua itu melanjutkan langka mereka meninggalkan Yogi yang tengah kesal, Marah, dan juga khawatir. Marah karena tidak diberi tahu dimana ruangan Celina, kesal merasa tidak di hargai, khawatir dengan cinta nya yang ikut dalam kecelakaan kemari karena ula nya.
Tidak mendapat hasil Yogi meninggalkan rumah sakit untuk pulang ke Apartemennya, dia akan datang ke sekolah, mungkin nanti dia akan mendapat kabar Celina. Yogi melajukan mobilnya dengan perasaan berkecamuk.
"Cell, sayang kamu kenapa ikut laki laki sialan itu?? Kapan kamu masuk kedalam mobil sayang?? Apa sebelum aku datang" Lirih Yogi dengan mengendari mobilnya membelah jalan sudah sangat padat.
Yogi sampai di Apartemen nya dengan keadaan kacau, dia masuk kedalam Apartemennya, setelah satu jam berlalu Yogi keluar dari dalam Apartemen nya untuk berangkat ke sekolah. Dia melangkah dengan sangat cool, terlihat sangat tampan dan tampang laki laki baik baik, tidak tau saja dia seorang yang berambisi tinggi untuk mendapatkan apa yang tidak mungkin dia dapatkan
__ADS_1