
Bab 155
Tiffany mengepalkan kedua tangannya karena terbakar api cemburu.
"Sel, gue pergi dulu, gue udah telat nih ke rumah sakit"
"Ok. Thanks ya"
Saat Adnan ingin pergi, lagi-lagi silya menahannya.
"Kaka Adnan" ucap silya dengan memasang wajah menyedihkan
Adnan menarik nafas kasar, dia membalikkan tubuhnya di mana Rere masih stay berdiri di belakangnya.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Jika nggak ada urusan penting di rumah sakit, nanti aku jemput kamu pulang. Belajar yang benar okee" ucap Adnan mengelus-elus rambut Rere dengan senyuman manisnya.
Rere membulatkan mata, mendengar ucapan dan perilaku Adnan Adnan padanya. Begitu juga dengan zhea dan exsel yang terkejut melihat interaksi kedua orang itu. Sementara Tiffany dan silya keduanya sama-sama tersalut amarah dan kecemburuan.
Silya mehentakkan kakinya, kemudian kembali duduk di tempatnya. Melihat silya sudah duduk, Adnan langsung beranjak pergi dari sana.
Rere pun kembali ke tempat duduknya.
"Boleh juga akting kalian" bisik zhea ke Rere.
----------
__ADS_1
Di bagian lain negara, di sore hari. Niko dan Rio baru menyelesaikan kelas mereka.
Tasya yang sedari tadi menunggu mereka keluar pun langsung menghampiri mereka ketika dosen keluar dari kelas.
"Kak Rio, ini sudah satu Minggu lho. Katanya kakak mau jalan-jalan sama aku. Besok juga udah weekend, jadi kita jalan-jalannya hari ini aja ya". Ucap Tasya
Rio yang selama ini selalu menghindar dan mencari alasan ketika di ajak Tasya untuk jalan. Sekarang dia kehabisan alasan untuk menolaknya lagi, dan dengan berat hati menerima ajakan Tasya.
"Gue pergi, kalo Niko ikut" ucap Rio yang nggak mau berduaan dengan Tasya
"Lah kok jadi gue sih?" Protes Niko
"Lho kan udah lumayan lama di sini, pasti tahu dong tempat-tempat yang bagus"
"Ayolah kak Niko, ikut aja ya. Sekalian, kakak dengan kak celline, pleasee, ikut ya" ucap Tasya memelas
"Kalian pergi aja, aku masih ada urusan" ucap celline
"Ayolah kak, jangan kayak gini. Nggak mungkin dong kak Niko ikut kalo kakak nggak ikut, dia nggak ada temannya nanti"
"Maksud kamu nggak ada teman, Gimana? Kan ada gue" ucap Rio
"Masalahnya kalo kak celline nggak ikut, gue bakal di cuekin ntar sama lho" batin Tasya
"Pokoknya kak celline urusannya nanti aja ya. Sekali aja please, ikut ya" mohon Tasya
__ADS_1
Dnegan terpaksa celline setuju ikut. Padahal, dia tidak ingin adik sepupunya itu berharap lebih tinggi lagi untuk mendapatkan Rio. Karena dia tahu, itu sepertinya mustahil terjadi.
"Oke, oke. Cuma kali ini aja, lain kalo gue nggak mau lagi ngikutin kemauan lho"
"Ihhh, makasih banyak kak. Lho emang sepupu gue yang paling the best" ucap Tasya memeluk celline.
"Lho udah makan?" Tanya Rio
Tasya dengan cepat menggeleng.
"Bagus, kita cari makan sekarang" ucap Rio kemudian beranjak pergi menuju parkiran.
"Kita mau kemana Yo?" Ucap Niko menaiki motornya
"Udah, ikutin gue aja"
"Lah, kalo lho udah tahu tempatnya ngapain ngajak gue"
"Gue yang traktir, udah ikut aja nggak usah banyak protes" ucap Rio.
Mereka meninggalkan universitas menuju restoran. Dimana Rio mengandeng Tasya dan Niko mengandeng celline.
Tasya mengambil kesempatan memeluk erat pinggang Rio dari belakang.
"Tas, nggak usah meluk kayak gini, gue nggak nyaman" ucap Rio mencoba melepaskan tangan Tasya dari perutnya
__ADS_1
"Aku takut jatoh kak" ucap Tasya beralasan.
Mendengar itu, Rio pun membiarkan Tasya memeluknya sampai mereka sampai di restoran.