
Bab 208
"Yaudah kalo gitu sini" ucap exsel menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya
"Ngapain?" Tanya Shea binggung
"Ya nemanin aku lah. Katanya tadi, nggak mau ninggalin"
"Ishh, aku itu mau kedapur buat sarapan" ucap zhea duduk di sisi ranjang sebelah exsel
"Kan aku udah bilang, pesan aja" ucap exsel memeluk zhea yang sedang duduk, sementara dia sendiri berbaring
"Ihh, sel. Jangan kayak gini, aku risih" ucap zhea melepaskan pelukan exsel
"Makanya rebahan sama aku, biar nyaman"
Zhea pun menuruti ucapan exsel, dan exsel langsung memeluk erat zhea.
"Sel, aku rasa nggak perlu pelukan kayak gini deh"
"Kenapa? Kamu nggak suka aku peluk?" Tanya exsel menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah zhea
"Bu-bukan gitu maksud aku" ucap zhea terbatah-batah karena exsel menatapnya dengan tatapan kecewa
"Nggak apa-apa, aku ngerti kok. Maaf" ucap exsel menarik tubuhnya lebih jauh dan kembali meletakkan satu tangannya di atas dahi.
"Yaudah sini, aku peluk" ucap zhea langsung memeluk exsel.
Exsel yang mendapatkan pelukan pun tersenyum penuh kemenangan, dia membalas pelukan zhea dengan sangat erat.
10 menit berlalu....
"Sel, aku keluar dulu ya. Kayaknya, makanan udah nyampe deh"
"Heum" ucap exsel tanpa melepaskan pelukannya
"Lepasin dulu pelukan!"
Exsel melepaskan pelukannya, zhea mengambil hp kemudian pergi meninggalkan kamar.
Merasa sepi, akhirnya exsel pergi ke sofa dan tiduran di sana.
Zhea masuk ke rumah membawa makanan, "lho sel, kok tiduran di sini. Sana, balik ke kamar" ucapnya saat melihat exsel seperti orang kedinginan di sofa.
Namun exsel tak bergeming. Zhea meletakkan makanannya di atas meja, kemudian pergi ke kamar mengambil selimut dan menyelimuti exsel.
Zhea ke dapur, mengambil air dan piring untuk mereka makan.
"Sel, bangun dulu sarapan"
Exsel membuka matanya, dan beranjak duduk.
Zhea membenahi selimut exsel.
"Kamu kedinginan, aku turunin dulu suhu AC nya" ucap zhea mengambil remot AC di balik tv dan menyetelnya.
"Apa masih dingin?"
"Nggak terlalu"
"Yaudah kita sarapan dulu, abis itu balik ke kamar"
__ADS_1
Zhea menyuapi exsel makan, tetapi baru dua suap exsel sudah tidak mau lagi.
"Udah Zhe" ucapnya kembali membaringkan tubuhnya di sofa
" sel, kamu baru makan dikit lho ini"
"Udah nggak selera Zhe"
"Yaudah kalo gitu istirahat di kamar"
"Di sini aja Zhe, males ke kamar"
Zhea mengehela nafas kasar. Tapi dia tetap mengikuti kemauan exsel.
"Apa masih pusing"
Exsel mengangguk
"Sini aku pijitin" ucap zhea memindahkan kepala exsel di pangkuannya.
Exsel sedikit kaget, kemudian dia menatap zhea lekat-lekat. Rasanya sangat bahagia di perhatikan dan di perlakukan seperti ini.
"Kenapa? Apa mijitnya terlalu kuat?" Ucap zhea saat menyadari exsel manatapnya
Exsel menggeleng, lalu memejamkan matanya. Satu tangan zhea menjangkau hp yang berada di atas meja. Sementara satu tangannya lagi, tidak berhenti memijit kepala exsel.
Zhea mengirim pesan ke Rere, agar dia datang ke rumahnya dengan dokter Adnan. Dan meminta dokter Adnan membawa obat yang exsel butuhkan.
Setelah lama memijat kepala exsel, rasa kantuk menyerang zhea.
Perlahan-lahan tangan zhea tidak bergerak lagi. Exsel membuka mata, dilihatnya Zhea sudah tertidur pulas dengan satu tangan menompang kepalanya dan satu tangannya lagi berada di dahi exsel.
Exsel meraih tangan yang berada di dahinya itu, lalu menciumnya lembut.
Tangan exs terangkat untuk membelai wajah zhea. Dia membenarkan anak rambut yang menutupi wajah zhea.
Setelah puas memandangi zhea, exsel pun kembali memejamkan matanya, karena memangg kepalanya masih terasa sangat pusing.
______________________
"Dok, zhea minta kita ke rumahnya dia juga minta dokter buat bawa obat yang di butuhkan dokter exsel" ucap Rere
Adnan menganguk, sambil terus membereskan mejanya.
"Mau bareng ke sananya?"
"Gue bawa motor"
"Lho ke sana aja duluan. Gue harus ke apotik dulu, buat beli obat exsel"
"Kita kesana bareng aja. Gue ikutin dokter dari belakang"
Adnan hanya mengangguk, mereka berdua kemudian pergi ke apotik dan baru ke rumah exsel.
Rere dan Adnan langsung masuk ke rumah, karena memang rumahnya tidak zhea kunci.
Exsel menghela nafas kasar saat melihat zhea dan exsel yang terlihat sangat romantis.
"Gue dari tadi kepikiran kalo sakitnya exsel itu parah. Karena dia nggak biasanya libur kerja kalo cuma doang. Lah ini, malah mereka pamer kemesraan" protes Adnan
Sementara Rere dia malah sibuk mengambil foto zhea dan exsel dari berbagai arah.
__ADS_1
"Lho nggak ada kerjaan ya? Suka banget kayaknya fotoin orang. Jangan-jangan cita-cita lho pengen jadi fotografher ya"
"Ishhh suka-suka gue dong. Sahabat, juga sahabat gue"
"Tapi exsel sahabat gue, dia itu nggak suka di foto-foto"
"Tapi kan gue fotoin dia sama zhea. Seharusnya dia itu senang dong"
Adnan memutar bola matanya malas.
Zhea terbangun mendengar perdebatan Adnan dan Rere. "Kalian udah nyampe" ucapnya
"Udah dari tadi, sekaligus liat kemesraan kalian ini" kesal Adnan
Rere memukul lengan Adnan "nggak boleh gitu" ucapnya
"Maaf ya kalo ngerepotin kalian" ucap zhea
"Sebenarnya gue udah biasa di repotin exsel. Tapi tetap aja kesel rasanya, gue yang khawatir sejak tadi sama exsel, eh pas nyampe sini malah liat kemesraan kalian"
"Demamnya tinggi banget dari tadi malam nggak turun-turun. Coba periksa dia"
"Biasanya demam pun dia itu tetap kerja, kecuali kalo udah sekarat. Demam kayak gini mah, nggak ada apa-apanya buat dia" ucap Adnan memeriksa exsel
"Lho sengaja ya, manfaatin kesempatan biar bisa dekat dama zhea. Jangan gini lah sel, gue yang repot jadinya" bisik Adnan, yang di balas dengan pukulan pelan di lengan Adnan.
Adnan terkekeh, mengetahui sahabatnya yang sedang bucin itu.
"Kenapa ketawa? Dia nggak apa-apa kan" ucap zhea
"Tenang aja Zhe, suami lho ini nggak bakalan mati kok. Kasih obat ini, insyaallah besok udah membaik. Kalo masih demam juga, bawa dia ke rumah sakit" ucap Adnan memberikan zhea obat-obatan yang dia beli di apotik tadi.
"Gue pergi dulu, kalo ada apa-apa hubungin gue segera" sambungnya
"Cepet banget baliknya. Tunggulah di sini bentar lagi, kan kita baru nyampe" sahut Rere yang duduk bersantai di sofa
"Gue banyak urusan di rumah sakit"
"Kalo lho balik, gue juga harus balik dong bearti"
"Re, kok lho balik sih. Kan lho nggak ada pekerjaan" ucap zhea
"Gue harus ke sirkuit Zhe,lagi pula dokter exsel juga lagi sakit. Gue nggak mau gangguin waktu istirahat dia, kalo gue di sini"
"Kalo lho diem, nggak bakalan ngenganggu dia kok"
"Diamnya gue itu sama dengan tidur. Gue nggak bisa diam kalo mata gue masih seger kayak gini"
"Terserah lho deh!"
Rere dan Adnan pergi meninggalkan rumah exsel.
Shea membuka obat-obatan itu, dan memberikannya pada exsel.
"Sel, ini minum dulu obatnya" ucap zhea menyondorkan pil di tangan kiri dan segelas air di tangan kanan
Exsel beranjak duduk kemudian meminum pil itu. Zhea membantu exsel kembali berbaring.
"Dingin banget Zhe. Boleh nggak minta bantuan kamu buat peluk aku" modus exsel
Zhea mengangguk "geseran dikit" ucapnya, kemudian ikut berbaring di sofa samping exsel.
__ADS_1
Zhea ikut menyelimuti tubuhnya, sementara exsel langsung memeluk zhea