
Bab 246
Di perjalanan menuju kos-kosan Niko. Zhea teringat semua percakapannya dengan exsel tadi. Dia mengingat jelas exsel memamerkan cincin pernikahan. Dan pertanyaan-pertanyaannya dari wartawan
Zhea menambah kecepatan mobilnya, tak peduli jika banyak pengendara lain, yang mungkin saja mengakibatkan kecelakaan.
Zhea mengurungkan niatnya datang ke kos-kosan Niko. Dia datang ke tempatnya belajar bela diri dulu untuk melampiaskan amarahnya.
"Zhea, sudah lama kamu tidak ke sini" ucap gurunya
"Saya sibuk guru selama ini"
"Ah, saya mengerti. kamu orang penting sekarang, pastilah sangat sibuk"
"Aku kesini untuk memastikan apakah masih sehebat dulu atau tidak. Sudah hampir 2 tahun saya tidak datang untuk latihan"
"Baiklah, guru akan mencari orang yang tepat untuk menjadi lawanmu"
Zhea berganti pakaian dengan seragam bela diri. Dia sekarang sudah berhadapan dengan lawannya.
Keduanya membukkan badan sebelum memulai pertandingan.
"Keluarkan semua kemampuanmu. Jangan coba-coba untuk mengalah" ucap zhea mulai menyerang.
Awalnya zhea menyerang dengan segala kemampuannya, dan lawan pun hampir kalah.
Zhea tersenyum smirk ketika teringat akan Leon yang hanya mementingkan perusahaan. Bahkan, baru kemarin Leon memujinya. Tapi hari ini, Leon kembali memperlihatkan keegoisannya.
Zhea tersadar saat lawan memukulnya sehingga dia terjatuh ke lantai. Sudut bibir Shea robek, saat ingin membalas zhea mengurungkan niatnya dan merasa tidak ada gunanya lagi dia hidup. Zhea mengalah tak membalas sedikitpun pukulan dari lawan.
Guru yang melihat zhea sengaja tak melawan pun meleraikan pertandingan.
"Zhea kenapa tak melawan" ucap guru
Zhea mencoba bangkit kemudian berucap "maaf guru, emosi saya sedang tidak baik sekarang"
"Bukankah sudah saya bilang, jangan membawa urusan pribadi saat pertandingan"
"Maaf guru, saya mengaku salah" ucap zhea beranjak pergi.
Setelah berganti pakaian zhea kembali ke mobil menuju club. Sebelum keluar dari mobil, zhea memakai masker dan topinya
__ADS_1
"Kosongkan club' untuk malam ini" ucap zhea pada pemilik club dengan memamerkan kartu hitamnya.
Club pun di kosongkan, walau banyak pelanggan yang protes.
"Bawakan semua minuman yang kalian punya ke sini" ucap zhea
30 menit berlalu..... Tak terhitung betapa banyak botol alkohol yang zhea minum.
"Aku harus pulang. Exsel pasti menungguku di rumah" ucap zhea yang sudah terpengaruhi alkohol itu.
Saat berdiri, banyak botol alkohol yang tersenggol dan pecah olehnya. Bahkan dia beberapa kali jatuh karena menginjak botol yang berserakan di lantai, sehingga telapak tangannya terluka karena menekan beling.
"Sialan! Siapa yang menaruh botol-botol bodoh ini di sini!" Umpat zhea. Dia mengambil satu botol alkohol lagi.
Karena hari sudah menunjukkan pukul 01:15 dini hari, jalanan tampak sepi. Zhea melajukan mobilnya ugal-ugalan.
Polisi jalan yang melihat zhea pun mengejarnya. Namun, dengan kemampuan balapannya para polisi itu kehilangan jejak.
Zhea menabrak pagar rumah Exsel. Kepalanya terbentur sehingga dahinya berdarah.
Zhea mengambil botol alkohol itu kemudian keluar dari mobil. Zhea meminum alkohol itu, sambil menepuk-nepuk pagar dan meneriakkan nama exsel.
"Exsel, gue belum pulang. Kenapa pagarnya di kunci"
"Exselllllll...!"
Exsel dan Adnan yang terkejut mendengar suara keras dari luar rumah pun langsung berlari ke sumber suara.
"Zhea, sel Zhea" ucap adnan yang terkejut dan membukakan kunci pagar.
__ADS_1
Saat melihat exsel, Shea langsung mendekat.
"Kenapa kau mengunci pagarnya? Aku bahkan belum pulang. Apa kau melupakan aku?" Gumam zhea
"Kamu mabuk!" Ucap exsel merebut botol minuman itu dan memecahkannya
"Kenapa di buang, jadi pecahkan. Itu minuman ku yang terakhir"
"Kamu terluka?" ucap exsel yang melihat dua telapak tangan zhea yang terluka dan masih ada pecahan beling yang menancap. Exsel melihat dahi zhea yang juga mengeluarkan darah.
"Ini, luka ini karena kamu. Kenapa megunci pagarnya, padahal aku belum pulang" ucap zhea menunjuk kepalanya.
"Baiklah, baiklah. Aku salah, Kita masuk ke rumah sekarang" ucap exsel langsung mengendong zhea masuk ke kamar yang di tempati zhea dulu.
Exsel membaringkan zhea di ranjang. Exsel melepas sepatu dan jaket zhea.
Exsel terkejut melihat banyaknya lebam bekas pukulan di tangan zhea. Saat zhea menggeliat, bajunya sedikit tersingkap dan exsel juga melihat lebam di sana.
Exsel menyingkap baju zhea sedikit ke atas, lebam itu tepat berada di bekas jahitan luka zhea.
"Siapa yang melakukan ini kepadamu zhea? Apa orang-orang tuan marga? Tapi kenapa? Untung pukulannya tidak merobek jahitannya" ucap exsel
Exsel mengobati semua luka zhea, setelah selesai dia menatap wajah zhea lekat-lekat. Entah kenapa air matanya menetes bergitu saja. Exsel membelai wajah zhea dari dahinya yang terluka dan terakhir di sudut bibir zhea yabg terluka. Exsel mengusap-usap lembut sudut bibir zhea.
"Kamu kenapa begini? Tahukah kamu, bahwa hatiku sakit melihat kamu seperti ini" ucap exsel menggenggam tangan zhea
"Kenapa harus ada perceraian zhea? Sulit bagiku menerima semua ini. Apalagi melihat dan mendengar kamu yang selalu menyebutkan nama Zein. AKU TERLUKA ZHEA, AKU KECEWA, AKU MARAH TAPI AKU TIDAK BISA BERHENTI MEMIKIRKANMU. JIKA BOLEH MEMILIH AKU SANGAT INGIN MEMBENCIMU KARENA SUDAH SEMENA-MENA MENGAMBIL KEPUTUSAN DARI PERNIKAHAN KITA. TAPI, RASA SAKIT ITU, RASA KECEWA, MARAH DAN BENCI KALAH DARI RASA CINTAKU PADAMU"
"aku harap di saat kamu bangun nanti kamu mengatakan bahwa kita belum bercerai. Kamu masih istriku, aku sangat mengharapkan itu zhea. Tolong penuhi keinginanku. Walaupun orangtuamu mengekang hubungan kita, aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Aku benar-benar yakin, bahwa aku masih suamimu zhea. Dan perceraian kita tidak pernah terjadi"
Exsel menjeda ucapannya, dia menghapus air mata yang terus saja mengalir tanpa di pinta setiap dia menyuarakan isi hatinya.
"Apa kamu merindukanku? Aku sangat merindukanmu zhea. Satu tahun yang lalu aku menahan agar tidak memelukmu. Dan berusaha terlihat baisa saja di depanmu dan Zein. Apa kau tahu apa yang aku rasakan waktu itu? Sakit Shea sangat sakit melihatmu sangat bergantung dengan pria lain"
Exsel mencium lama tangan zhea, kemudian beralih ke dahi, Mata, pipi kanan dan kiri. Menyatukan hidung mereka dan terakhir mengecup singkat bibir zhea.
Sementara Adnan memilih pergi dari rumah exsel, dia ingin memberikan waktu untuk exsel dan zhea.
__ADS_1
Exsel menjaga zhea semalaman. Karena zhea selalu terjaga dan muntah-muntah karena terlalu banyak minum.