
Hari ini, Alesh dan Bara sedang menikmati angin sore di rooftop. Mereka duduk di bibir atap. Salah satu tangan Bara menggenggam erat tangan Alesh, tangan yang lain mengusap rambutnya. Alesh hampir saja terbuai sesaat sebelum dia sadar.
“Gue mau kenalin lo sama orang tua gue, lo mau?” tanya Bara.
Alesh terdiam, lalu melempar pandangannya ke arah lain.
“Gue nggak yakin Bar, mereka mau nerima gue atau nggak.”
Bara mencakup dagu Alesh agar Alesh bisa menatapnya, “Kalau mereka nggak nerima lo, gue akan perjuangin lo. Karena gue sayang lo.” Bara menyelipkan rambut ke belakang telinga Alesh.
“Buat apa lo perjuangin gue kalau akhirnya kita nggak akan sama-sama?”
Bara memegang wajah Alesh dengan kedua tangannya.
“Bagaimanapun lo, sekarang atau nanti perasaaan gue akan tetap sama dan nggak akan pernah berubah. Dan gue akan berjuang sampai akhir agar kita bisa terus sama-sama, ngerti?”
“Lo nggak malu? Orang tua gue cerai dan sekarang mereka udah punya kehidupan masing-masing. Hidup gue nggak jelas, nggak kaya yang lain.”
Bara tertawa pelan mendengar penjelasan Alesh.
“Al, gue nggak peduli. Yang jelas gue sayang lo. Udah nggak usah ngebantah.”
“Karna lo sayang gue, jadinya lo nggak peduli.”
Bara mengelus rambut Alesh lembut. “Itu lo tau.”
“Bar, bisa kasih gue waktu? Gue belum siap ketemu keluarga lo.”
Alesh menatap wajah Bara sendu. Bara mengangguk dan tersenyum.
“Kapanpun sampai lo siap, Al. Gue cuma nggak mau kehilangan lo untuk kedua kalinya.”
"maaf Bara, semuanya udah nggak kaya dulu. semuanya udah berubah. Termasuk perasaan gue." Ucap Alesh dalam hati.
Alesh hanya tersenyum tipis, hatinya merasa bersalah pada Bara. Dia tidak menyangka akan sejauh ini hanya karena dendamnya kepada Nadia. Memang benar kata orang, hidup menyimpan dendam itu hanya akan membuat hidup kita susah.
“Bar, Nadia sayang lo. Lo tau?” tanya Alesh.
__ADS_1
“Tapi gue sayang lo.” Jawab Bara singkat.
“Kalau ada yang sayang sama lo lebih dari gue, lo mau apa?”
“Peduli setan gue sama yang lain. Gue cuma sayang lo.”
“Dasar egois.” Bara terkekeh.
Alesh dan Bara kembali turun ke lantai 12. Disaat yang sama Nata juga baru sampai di apartment. Mereka bertemu saat ketiganya baru saja keluar dari lift. Tatapan Alesh bertemu dengan tatapan Nata yang dingin.
“Nata.” Panggil Alesh, Nata hanya tersenyum tipis saat berhadapan dengan Alesh dan Bara. Dia memandang Bara sebentar.
“Oh ya Bar, ini Nata. Tetangga gue dia tinggal di apartment sebelah gue. Dan Nata, ini Bara.” Alesh mengenalkan keduanya. Bara mengulurkan tangan kepada Nata, dia menerima uluran tangan Bara.
Bara pergi setelah sedikit berbasa-basi kepada Nata. Sekarang hanya ada Nata dan Alesh disana. Rasanya canggung.
“Mau mampir?” tanya Nata. Alesh hanya tersenyum kecil, lalu mengangguk. Nata benar-benar ajaib. Nata yang selalu bersikap dingin dan ketus tiba-tiba menjadi ramah, rasanya ajaib untuk Alesh. Mungkin mood Nata sedang bagus hari ini.
Sekarang Alesh sudah duduk di sofa yang ada diruang tamu Apartment Nata. Sedangkan Nata ke dapur membuatkan Alesh minuman. Tatapannya menyapu ke sebuah benda yang di letakkan tak jauh dari sana. Nata datang dengan membawa dua gelas lemonade.
“Lo suka main biola?” tanya Alesh tanpa basa-basi.
Alesh menautkan kedua alisnya, “Kenapa?” tanya Alesh.
“Menurut gue, musik itu bahasa dunia untuk mengungkapkan perasaan, walaupun itu terdengar klise tapi itu nyata.” Alesh tersenyum mendengar penjelasan Nata.
“Mau lihat gue main?” tanya Nata, Alesh mengangguk dengan semangat. Nata berdiri dari duduknya menuju tempat dia menyimpan biola.
Nata berdiri dengan posisi pungung yang lurus. Tangan kirinya memegang leher biola dan meletakkan sisi yang lain pada bahunya. Tangan kanannya memegang bow, lalu mulai terdengar alunan yang indah dari permainan Nata. Alesh menatap takjub tak berkedip. Nata memainkan lagu True colors dari Justin Timberlake ft. Anna Kendrick.
Nata benar-benar membuat Alesh terperangah melihat aksinya. Untuk pertama kalinya dia mengakui dalam hatinya bahwa dia terpesona kepada Nata. Alesh senyum-senyum sendiri sejak tadi. Ah, musik memang mengubah segalanya.
Lima menit berlalu, Nata menghentikan permainan biolanya dan mengembalikannya ke tempat semula.
“Asli lo keren banget Nat!” puji Alesh dengan mata berbinar.
“Lo suka?”
__ADS_1
“Suka banget.”
“Sama gue?”
“Eh?” wajah Alesh memerah mendengar pertanyaan Nata, lalu meneguk lemonadenya yang masih utuh.
“Nggak usah salting gitu.”
“Sejak kapan lo main biola?” tanya Alesh mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung.
“Sejak gue kecil.” Alesh hanya membulatkan mulutnya. “Kalo lo?”
“Apa?” Alesh mendadak telmi.
“Lo suka sama gue apa permainan biola gue tadi?” Mata Alesh membulat mendengar pernyataan Nata. Entah sejak kapan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
“Ck. Apaan sih Nat. Sama lo lah! Ah maksud gue sama permainan biola lo lah!” Jawab Alesh berusaha senormal mungkin. Nata terbahak melihat sisi lain Alesh yang cukup imut. Jadi Nata bisa tertawa juga.
“Kalau pacar lo nggak bisa bahagiain lo, gue siap bahagiain lo.” Ujar Nata dengan santainya.
“Ha?”
“Buruan putus sama cowok itu. Gue tahu lo nggak bahagia sama dia.” Nata benar, Alesh memang tidak merasakan kebahagiaan bersama Bara.
“Nat, gue balik.” Alesh beranjak dari duduknya dan segera keluar dari apartment Nata, Nata hanya menggeleng heran melihat sikap Alesh yang absurd.
Dengan langkah seribu Alesh masuk ke apartmentnya. Dia berdiri dari balik pintu lalu memegang dadanya, merasakan degup jantungnya yang mendadak balapan tidak beraturan. Disaat dia tidak ingin mencintai, tiba-tiba dia merasakan perasaan yang tidak seharusnya. Ada Nata yang tiba-tiba memenuhi isi kepalanya. Alesh menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ponselnya bergetar lama, isyarat ada sebuah panggil masuk.
“Mama.” Gumam Alesh, lalu menggeser tanda hijau dan menempelkannya di telinga.
“Ada apa?” tanya Alesh
“………”
“Nggak”
“………”
__ADS_1
“Nggak bisa Alesh capek mau istirahat.” Alesh mematikan telfonnya secara sepihak lalu sedikit melemparnya ke atas meja.
*****