
Bab 88
"Kau sudah sadar" ucap Adnan
"Bagaimana dengan operasi Tante Sarah. Apakah lancar?"
"lancar, dan Dokter Wahid sendiri yang turun tangan. Apa kau tahu Tante Sarah terkena kanker" Zhea hanya mengangguk
"Jika sudah tahu, kenapa masih ingin mendonorkan ginjalmu. Kita tidak tahu seberapa lama Tante sarah akan bertahan, dan percuma juga kau mendonorkan ginjalmu. Jika aku tahu dari awal Tante Sarah terkena kanker aku tidak akan membiarkanmu mendonorkan ginajlmu. Ini justru sangat merugikan kesehatanmu"
Rio dan Rere datang untuk menjenguk zhea. Melihat mereka berdua memasuki ruangan, Adnan pun beranjak pergi.
"Kondisi lho kok, kelihatannya lebih lemah dari kemarin. Kemarin juga lho nggak sepucat dan selemah ini" ucap rere
"Iya Zhe, lho nggak apa-apa kan" ucap Rio
"Ini karena gue nggak makan-makan dari kemaren. Makanan di sini nggak ada rasanya hambar" bohong zhea
"Lho yakin hanya itu Zhe" ucap Rio yang meragukan ucapan zhea
"Yakinlah. Emangnya apa lagi" ucap zhea tersenyum sinis untuk menutupi kegugupannya
"Lho mau makan apa, biar gue pesanin" ucap Rere
"Nggak perlu. Gue mau balik ke kos-kosan aja" ucap zhea beranjak duduk
__ADS_1
"Kondisi lho masih lemah Zhe. Tungga aja di sini satu atau dua hari lagi"
"Gue udah bosan di sini Yo. Yang ada gue mati kelaparan kali tinggal di sini lebih lama lagi" ucap zhea melepaskan selang infusnya
Zhea lalu mencoba untuk berdiri, namun karena kondisinya yang sangat lemah diapun terjatuh.
Zhea memegang perutnya, karena bagian ginjal yang di ambil itu terasa sakit.
"Are you oke Zhe" ucap Rio memantu zhea berdiri
Zhea mengangguk, kemudian berucap "bawa gue pergi dari sini"
"Nggak bisa Zhe. Lihat, lho bahkan nggak kuat berdiri. Lho harus di rawat dulu di sini sampai sembuh" ucap Rere
"Kalian lupa hah, tuan marga juga di rawat di sini. Bisa-bisa dia nyuruh orang-orangnya buat nangkap gue. Kalo gue nggak pergi sekarang" ucap zhea, yang sebenarnya dia ingin cepat-cepat pergi dari rumah sakit agar tidak di curigai exsel bahwa dia yang telah mendonorkan ginjal untuk Sarah
"Kok kalian berdua malah membopong gue kayak gini sih. Yang ada gue susah jalannya"
"Apa lho mau pakai kursi roda aja Zhe" ucap Rio
"Nggak perlu, gue masih sanggup jalan kok"
"Yaudah kalo lho nggak mau pakai kursi roda nurut aja, kita bakalan memapah lho" ucap Rere dengan suara agak tinggi dan dengan tatapan tajamnya
"Iya deh iya. Nggak usah melototin gue kayak gitu juga, takut gue" ucap zhea terkekeh
__ADS_1
"Ketawa lho ya. Orang khawatir juga"
"Iya.deh iya gue nurut sama Nona Rere yang cantik jelita ini, melebihi kecantikan hantu Suzana"
"Ihh kok hantu Suzana sih. Ya jelas-jelas cantikan gue kemana-mana lah" ucap Rere kesal. Sementara Rio dan zhea hanya terkekeh
"Ketawa aja terossss... Ketawan. Gue aduin kalian sama Niko ntar, biar kena marah" ucap zhea melotot
"Yang ada Niko juga ikutan godain lho re" ucap Rio kembali tertawa begitupun dengan zhea.
Rere memanyunkan bibirnya, dia sangat kesal karena Rio dan zhea terus menggodanya.
"Iya deh iya lho itu cantik, cantik banget malah" ucap Rio
"Cantikan mana gue sama Kim jiso black pink"
"Gimana ya"ucap Rio
"Cepat jawab!"
"Cantikan sahabat gue lah" ucap zhea
"Lho emang cantik re. Tapi, jiso black pink itu jauhhhhhhhh lebih cantik dari lho"
Rere yang semulanya senyum kembali kesal, melihat itupun zhea dan Rio kembali terkekeh.
__ADS_1
Baca terus kelanjutan ceritanya yaπ
Dan jangan lupa baca juga karya author yang lainnya yang berjudul "COLD CEO IN LOVE" dan "SILENT DEADLY" Ya reader's tercinta βΊοΈππ»