
Bab 97
"Zhea kan seorang pembalap. Dia pasti bisa menghasilkan uang sendiri, makanya kehidupannya tidak terpengaruh jika kau memblokir black card-nya"ucap Sebastian
"Punya anak cewek satu, rasa nya seperti menjaga tujuh orang anak cowok"
----------
Keesokan harinya...
di rumah sakit, keadaan Sarah makin memburuk.
"Apa lho udah ambil keputusan buat bawa Tante Sarah ke Singapore. Keadaan Tante makin memburuk sel, kota harus memberikan yang terbaik sebelum lho Nyesal nantinya" ucap Adnan
"Dengan keadaan mama Seperti ini, apa kita bisa membawanya ke sana"
"Aku juga tidak tahu. Tapi, di sini juga tidak ada yang bisa kita lakukan"
"Kira-kira berapa biaya pengobatan di sana"
"Kau tak perlu memikirkan hal itu sel. Temanku akan membantu kita, dia pemilik rumah sakit terbesar di sana. Kau tidak perlu memikirkan biaya. jika ku ingin pergi aku bisa menemanimu di sana"
"Benarkah"
"Aku aku terlihat sedang becanda sekarang"
"Terimakasih nan, kau benar-benar telah banyak membantuku. Aku benar-benar berhutang Budi padamu"
"Seharusnya kau berterimakasih pada zhea sel. Dialah satu-satunya orang yang paling berhak menerima ucapan terimakasihmu"
"Udah santai aja. Jadi gimana? Mau pergi ke Singapore sekarang"
__ADS_1
Exsel mengangguk ragu.
"Tenang, kita sekarang sedang melakukan yang terbaik buat Tante. Gue urus masalah penerbangan dulu. Gue udah cek penerbangan hari ini satu jam lagi. Gue akan urus semuanya, lho tunggu aja disini temanin Tante. Setengah jam lagi gue bakal jemput kalian, kita kebandara"
Sementara itu, di lain Tempat tepatnya di kos-kosan. Rere dan Rio sudah siap-siap ke kampus.
"Zhe, lho kok nggak siap-siap sih. Lho nggak masuk kuliah lagi hari ini" ucap Rere
"Nggak. Gue ada pelatihan mobil hari ini"
"Gimana kalo dosen nanyain lho"
"Bilang aja gue lagi sakit re, ribet amat"
"Oh iya, gue udah majuin penerbangan kita ke AS nanti sore. Soalnya Niko mau kita udah ada di sana sehari sebelum dia balapan" ucap Rio
"Bagus dong. Jadi, kita bisa jalan-jalan dulu di sana" ucap zhea
"Giliran belanja aja paling gercep lho re" ucap Rio
"Ya iyalah. Tugas lho diapain duit buat gue belanja"
"Udah kayak istri gue aja lho re. Tiap kali mau belanja minta duitnya ke gue"
"Lho kan ATM berjalannya gue"
"Untung gue sayang. Kalo nggak, udah gue tinggalin lho selama-lamanya"
"Emangnya lho bisa gitu tanpa gue"
"Lho kali yang nggak bisa tanpa gue"
__ADS_1
"Dihhh. Ke PD an"
"Kenyataannya emang begitukan. Untung gue jomblo, kalo gue punya pacar bisa-bisa putus gue sama pacar gue karena lho"
"Dihhh. Emangnya ada gitu cewek yang mau sama lho"
"Banyak kali. Karena lho nya aja yang nempel terus sama gue. Jadinya nggak ada yang benari dekatin gue"
"Itu bearti mereka nggak ada bandingannya sama gue"
"Udah, udah, udah. Pusing gue dengarin kalian berantem Mulu. Ini tuh masih pagi, sebaiknya kalian pergi ke kampus deh sekarang dari pada telat entar"
"Kalo sampai kita telat, ini gara-gara lho ya Yo"
"Lah, kok gue sih re. Prasaan gue Mulu deh yang di salahin"
"Emang lho kok yang salah. Kan lho duluan yang ngajak ribut"
"Astagaaaa Rere" ucap Rio prustasi
"Kalian masih mau debat di sini dan benaran terlambat ke kampus. Atau pergi ke kampus Sekarang" ucap zhea yang sudah capek mendengar perdebatan kedua sahabatnya itu yang tiada akhirnya
"Lebih baik gue berangkat sekarang. Oh iya Zhe, sehabis latihan langsung pulang lho. Kita berangkat ntar sore. Ntar lho lupa lagi" ucap Rio
"Iya, iya gue ingat Rio adinata Pratama. Lho nggak usah khawatir" ucap zhea
"Gue cuma ngewanti-wanti lho aja. Soalnya lho itu kalo latihan suka lupa waktu" ucap Rio
Baca terus kelanjutan ceritanya ya ☺️
Dan jangan lupa baca juga Karya author yang berjudul "COLD CEO IN LOVE" dan "SILENT DEADLY" ya reader's tercinta ☺️🙏🏻
__ADS_1