BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 114


__ADS_3

Bab 114


"Ini nggak ada hubungannya sama Tasya atau wanita manapun re"


"Oh ya?" Ucap Rere dengan nada mengejek


"Terserah lho deh re, gue capek, dan gue malas debat"


"Ternyata gini ya, kelakuan lho yang sebenarnya"


"Gue pergi demi kebaikan lho juga re"


"Kebaikan gue lho bilang? Gue nggak salah dengar hah! Bukankah karena keinginan lho sendiri"


"Gue mau lho mandiri re, dan nggak bergantung lagi sama gue"


"Udahlah Yo, nggak usah banyak alasan"


"Gue nggak lagi beralasan re. Gue cuma mau lho bisa tanpa gue. Kita udah dewasa, dan kita memiliki batasan"


"Batasan, batasan, batasan! Muak gue dengarnya"


"Emang itu kenyataannya re. Jika kita terus sama-sama, baik gue ataupun lho, pada akhirnya nggak bakalan ada orang yang mau ngedekatin karena kedekatan kita re"

__ADS_1


"Oh ya? Terus kenapa harus pergi di saat gue nggak ada. Kenapa nggak ngomong baik-baik kayak Niko dulu? Dan bukannya lho bilang mau kuliah di sini saat Niko kembali?"


"Kalo gue ngomong, apa lho bakalan gue pergi? Nggak kan re"


"Setidaknya lho ngomong! Walaupun gue keberatan, kalo lho ngomong baik-baik kayak Niko, gue bakalan ngerti kok"


"Ini adalah yang terbaik buat kita re"


"Basi tahu nggak!"


"Kita tuh cuma sahabatan. Baik gue maupun Niko, selalu lho atur-atur"


"Cuma sahabat lho bilang. Oh, jadi, persahabatan kita selama ini nggak ada artinya buat lho! gue peduli dan gue sayang sama lho dan juga Niko. Makanya gue posesif sama kalian"


"Udah-udah nggak usah ribut-ribut. Kita duduk dulu, bicarain baik-baik" ucap Niko menengahi


"Nggak bisa nik, dia pergi dengan cara yang nggak baik, kenapa sekarang harus bicara dengan dia secara baik-baik"


"Dengarin gue, lho mau menjauh dari gue kan? Ok, gue turutin. Gue, nggak bakal nyari lho lagi, telpon ataupun Chat lho lagi, dan bakal gue buktiin sama lho, kalo gue bisa tanpa lho Rio adinata. Pegang omongan gue". Ucap Rere tidak lagi berteriak-teriak, tali bicara penuh penekanan .


"Dan satu lagi, apapun ikatan yang ada di antara lho dan gue. Semuanya udah nggak bearti lagi. Mulai sekarang, jangan datang kerumah orang tua gue lagi, jangan panggil kedua orang tua gue dengan panggilan "mama/papa" lagi"


"Lho nggak bisa gitu dong re"

__ADS_1


"Bisa! Kenapa juga nggak bisa. Lho itu cuma orang asing di keluarga gue, jika lho lupa."


"Tapi mereka sudah menganggap gue sebagai putra mereka. Dan lho nggak bisa mutusin ikatan kita"


"Mereka memang menganggap lho sebagai putranya. Tapi lho? Apa lho nganggap mereka seperti orang tua Sekarang?"


"Dari dulu, gue selalu ngehormati mereka"


"Kalo lho ngehormati mereka. Kenapa lho nggak bilang ke mereka kalo lho pindah kuliah di sini. Jangankan bilang, nanya pendapat mereka aja nggak"


"Gue punya alasan untuk itu"


"Kenapa? Lho merasa hebat sekarang? Karena prestasi balapan lho selama ini, dan sekarang sudah berada di titik ini. Makanya lho nggak butuh mereka lagi. Lho lupa? Jika bukan karena mereka lho nggak bisa kayak gini Yo. Pendidikan yang lho jalani hingga bisa ke sini, itu karena orang tua gue yo"


"Gue tahu dan gue nggak mungkin ngelupain itu"


"Kalo lho nggak lupa? Seharusnya lho nggak kayak gini Yo! Mikir! Punya otak kan lho"


Baik Rere ataupun Rio, keduanya tidak tahu rahasia yang di simpan rapat oleh kedua orang tua Rere.


"Apapun yang bilang, nggak ada satu ikatan pun yang putus. Lho dan gue tetap sahabatan, dan orang tua lho, juga orang tua gue"


Rere terkekeh kemudian berucap "nggak tahu malu banget lho ya Yo. Lho pikir gue masih mau punya sahabat kayak lho? Nggak! Lho mau ngejauhin gue kan? Gue turuti, lho hanya orang asing bagi gue. Dan jika kita bertemu suatu hari nanti, anggap saja nggak pernah terjadi apapun di antara kita" ucap Rere kemudian keluar dari kos-kosan Niko.

__ADS_1


__ADS_2