BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 225


__ADS_3

Bab 225


Zhea melepas kaca matanya, di ruangan itu, ada Adnan yang sedang memeriksa keadaan exsel.


"Zhea?" Ucap Adnan yang kaget melihat zhea yang baru terlihat sekarang


"Gimana keadaan exsel?"


"Seperti yang kamu lihat Zhe. Dia dari kemarin belum sadarkan diri. Terlalu banyak bekas pukulan di tubuhnya. Dia juga kritis kemarin malam, tapi syukurlah dia sudah melewati masa kritisnya?"


"Apa ada luka yang berbahaya?"


"Tidak ada. Cuma banyak bekas-bekas memar bekas pukulan di tubuhnya. Sekarang kita hanya menunggunya sadar saja"


Zhea hanya mengangguk


"Sebenarnya apa yang terjadi Zhe?"


Zhea hanya menggelengkan kepalanya Pelan, dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Melihat exsel seperti saat ini terbaring tak berdaya dan banyak memar-memar di tubuhnya bahkan wajahnya pun hampir tidak di kenali lagi.


"Baiklah, jika kamu tidak mau cerita. Aku keluar dulu. Jika ada apa-apa tekan belnya" ucap Adnan langsung keluar dari ruangan exsel


Adnan terkejut melihat banyaknya orang berpakaian hitam-hitam di d pan ruangan exsel. Tasya langsung menarik Adnan pergi dari sana.



"Mereka itu siapa?" Tanya Adnan terus melihat ke arah ruangan exsel


Tasya berhenti melangkah, dia juga melihat ke arah ruangan exsel


"Aku nggak tahu mereka siapa? Yang pastinya orang-orang itu sepertinya sedang mengawasi kak zhea"


"Ya, mereka datang bersama kak zhea"


Adnan mengangguk, dan mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit banyaknya, Adnan tahu tentang kondisi pernikahan exsel dan zhea karena exsel selalu bercerita padanya.



Dengan langkah pelan zhea melangkah mendekat ke arah brankar exsel. Tangis zhea pecah ketika dia melihat dengan jelas wajah babak belur exsel.



Zhea menggenggam tangan exsel lalu "maafin gue sel" isaknya


"Gue Nyesal minta lho nikahin gue, gue benar-benar minta maaf sel, gue Nyesal. Jika aja lho nggak nikah sama gue, lho Nggak akan mengalami banyak kesulitan

__ADS_1


Memang sebaiknya kita berpisah sel. Gue nggak mau lho di siksa sama mereka nantinya"


Tangis zhea makin pecah "gu-gue nggak mau sel pisah sama lho. Gue nggak rela, jika lho dimiliki orang lain. Tapi gue banyak kekurangan sel. Gue juga sakit parah, umur gue juga mungkin nggak bakalan lama lagi. Gue nggak mau lho sedih dengan penyakit gue ataupun lho terpukul nantinya dengan kepergian gue. Lebih baik kita berpisah, jika nantinya gue pergi lho nggak ngerasa sedih dan terpukul


Bangun sel, lihat gue kali ini aja please sel, hiks....hiks...hikss.


Gue minta maaf sel, selama pernikahan kita, gue nggak bisa jadi istri yang baik buat lho. Maafin gue juga, nggak bisa sama-sama lho lagi. Lho boleh kok sel nikah lagi, dapetin cewek yang sempurna dan bisa kasih lho keturunan. Lho boleh sel nikah lagi, boleh" Hati zhea terasa tercabik-cabik mengucapkan kata-kata itu.


"Lho harus nikah sama orang yang bisa buat lho bahagia dan orang yang lho cintai. Orang kayak lho nggak pantas sama cewek kayak gue sel" ucap zhea panjang lebar pada exsel yang tak sadarkan diri itu


Shea menghapus air matanya, dia lalu mencium dahi exsel agak lama dan tanpa terasa air matanya jatuh di pipi exsel "gue sayang banget sama lho sel, nggak tahu kenapa gue nggak rela harus berpisah dari lho. Tapi ini yang terbaik buat kita sel, selain penyakitan gue juga nggak bisa kasih lho keturunan nantinya. SELAMAT TINGGAL SAYANG, SELAMAT TINGGAL EXSEL ALEXANDER" bisik zhea di telinga exsel



exsel seakan merespond ucapan zhea dari sudut matanya mengeluarkan air mata, dan tangannya pun sedikit bergerak.



Merasa ada pergerakan dari tangan EXSEL, zhea langsung menekan bel. EXSEL semakin mengenggam erat tangan zhea. Zhea melepaskan tangan EXSEL darinya. Namun salah satu jari EXSEL tersangkut di gelang zhea.


Gelang itu adalah gelang almarhum mamanya EXSEL yang EXSEL kasih ke zhea. Zhea melepaskan gelang itu. Dia lalu melatakkan gelang itu ke dalam genggaman EXSEL.


"Kasih gelang ini ke istri lho nanti sel" ucap zhea melatakkan tangan EXSEL di balik selimut


Zhea menatap EXSEL sebentar. "Selamat tinggal exsel dan selamat tinggal suamiku" ucap zhea kemudian keluar dari ruangan exsel. Tidak lupa dia memakai kembali akca mata hitamnya karena tidka ingin orang-orang melihatnya sedang menangis.


"Ada apa?" Ucap Adnan panik


"Tangannya tadi bergerak"


Adnan mengangguk kemudian langsung masuk.



Zhea melangkah pergi, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Tiffany.


"Mau kemana lagi kamu zhea? Kak EXSEL bahkan belum sadar, lho udah mau pergi aja. Istri macam apa lho!" Ucap Tiffany yang sengaja menyudutkan zhea karena dia tahu zhea pasti tidak akan bisa lama di sana karena marga


"Nggak tahu diri banget lho ya. Gue yakin Alex kayak gini juga gara-gara lho, dia udah baik banget sama lho tapi ini balasan lho ke dia. Istri macam apaan lho! Sebaiknya lho CERAIN Alex, biar gue yang jaga dan ngegantiin lho. Gue jauh lebih mengerti dan mengenal Alex di bandingkan lho!" Sahut Celline


"Jika begitu, kalian berdua bisa bersaing untuk mendapatkan EXSEL. Itupun, jika EXSEL mau sama kalian" ucap zhea menoleh sedikit kebelakang, kemudian melanjutkan langkahnya


"Lhooo!" Ucap celline dan Tiffany bersamaan


Sementara itu, EXSEL perlahan-lahan membuka matanya.

__ADS_1


"Zheaaa" lirihnya


"Sel, lho udah sadar" ucap Adnan


"Zhea ada di sini kan nan?"


Adnan menganguk kemudian berucap "sebelum lho sadar dia di sini tadi. Sekarang, dia ada di luar"


"Benaran nan. Lho nggak bohong kan?" Ucap EXSEL tak percaya. Karena dia ingat dengan jelas orang-orang marga membawa zhea darinya. Dan zhea jelas tidak mungkin bisa menemuinya, jika tertangkap oleh leon marga yang jelas-jelas ingin memisahkan mereka.


"Iya sel, dia ada di luar. Gue panggilin dulu. Tapi, ada begitu banyak orang yang mengawalnya"


"Apa? Gue harus ketemu sama zhea nan" ucap EXSEL mencoba berdiri


"Lho mau kemana sel? Biar gue panggilin zheanya, lho di sini aja"


"Gue nggak yakin kalo zhea masih ada di sini nan"


"Yaudah, ayo gue bantu. Pakai kursi roda, kondisi lho masih lemah"


Zhea berada di parkiran, saat dia ingin masuk ke mobil. Suara teriakan Rere menghentikannya.


"Zheaaaaa" ucap Rere yang ingin mendekati zhea, namun di hadang oleh pengawal-pengawal zhea.


Rere, Rio dan Niko mendapat kabar dari Adnan jika EXSEL sudah sadar. Setelah Rere selesai balapan mereka langsung ke rumah sakit untuk menanyakan pada EXSEL apa yang terjadi.



"Lepasin mereka! Dan jangan sentuh mereka!" Ucap zhea yang tidak suka mihat para pengawal itu menghalanginya untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya itu.



Zhea sangat membutuhkan ke tiga sahabatnya itu sekarang. Dia akan menceritakan apa yang terjadi tapi tidak dengan penyakit yang di deritanya


"Maaf nona, tuan tidak memperbolehkan Nina bertemu dengan siapapun"


"Lepasin mereka gue bilang! Lho dnegar omongan gue nggak sih!"


"Maaf nona, kami hanya menjalankan tugas kami. Sebaiknya, nona masuk ke mobil sekarang"


"Zhe, lho nggak apa-apa kan" ucap Niko


"Gue nggak apa-apa. Lho bertiga datang ke mansion marga sekarang. Kita bicara di sana" ucap zhea. Yang hanya di angguki oleh ketiganya tanpa banyak bertanya.


Zhea pun kembali membuka pintu mobil, namun lagi-lagi ada seseorang yang meneriaki namanya. Dia adalah EXSEL yang sedang duduk di kursi roda Dengan Adnan yang mendorong.

__ADS_1


"Zheaaaaa!!"


__ADS_2