
Bab 162
"Jadi begini, orang tua Tiffany meminta kamu, exsel, sebagai dosen pembimbingnya Tiffany. Karena, ada beberapa nilai Tiffany yang katanya menurun"
"Tapi prof. Saya kan sudah di tugaskan sebagai dosen pembimbingnya zhea" ucap exsel
"Bagus dong kalo gitu. Jadi, aku belajar ada tamannya. Apa lagi sodara sendiri" sahut Tiffany mencoba tersenyum ramah. Padahal dia sangat takut jika exsel menolak.
"Kamu tidak ada pilihan lain exsel, terlebih lagi orangtuanya Tiffany memberi bantuan bangunan ke universitas kita. Jika kita menolak, bukankah kita di anggap tidak menghargai mereka"
"Saya tanyakan pada zhea dulu, pendapatnya sangat penting karena dia istri saya" ucap exsel menatap zhea. Exsel berada di tengah-tengah antara Tiffany dan zhea.
"Profesional saja, jangan mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan. Anda yang menjalani, jadi anda harus memutuskan pilihan anda sendiri" ucap zhea menatap exsel sambil menaikkan alisnya. Mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin ikut campur dengan keputusan exsel..
"Tapikan..."
__ADS_1
"Dengarkan dulu, saya bum selesai bicara" ucap profesor
"Silahkan lanjutkan prof."
"Dan zhea, papamu menarik semua biaya yang dia keluarkan selama ini untuk membayar uang kuliahmu. Dan uang itu, dia donasikan untuk bangunan. Jadi, kamu harus membayar semua biaya kuliah kamu dari awal semester sampai sekarang"
"What gue nggak salah dengar nih. Kalo kayak gini kan bearti bokapnya zhea nggak mau berpartisipasi lagi dengan zhea, gue bakal gunain kesempatan ini buat ngehempas zhea dari universitas ini. Terlebih lagi, Daddy sudah menyuntikkan dana di sini, otomatis mereka bakalan ngehormatin gue dong" batin Tiffany
Zhea hanya tersenyum miring, dia mengeluarkan ATM yang di berikan exsel kemudian memberikannya pada profesor.
"Saya tidak tahu berapa banyak jumlah uang yang ada dalam kartu itu. Tapi, saya rasa uang di dalamnya juga tidak cukup membiayai kuliah saya selama ini. Jadi, berapa pun kurangnya, akan saya bayar dengan segera"
"Apa boleh Zhe?" Tanya exsel
"Kalo mau ya silahkan aja. Nggak ada yang ngelarang"
__ADS_1
"Tapi prof. Kita tahu sendiri gimana hubungan zhea dan Tiffany. Saya rasa, saya tidak bisa mengajari mereka di waktu yang bersamaan. Terlebih lagi, saya juga harus bekerja di rumah sakit" ucap exsel mencoba menolak menjadi dosen pembimbing Tiffany.
"Kalo begitu kamu harus pilih satu dari mereka. Dan pikirkan baik-baik keputusan kamu"
"Pastinya saya akan memilih zhea, dia istri saya. Terlebih lagi, dia yang lebih dulu profesor pinta untuk saya bimbing"
"Kamu yakin?" Ucap profesor
Merasa jika profesor tidak menyukai exsel memilihnya, zhea pun berucap "pilih Tiffany saja. Kita kan tinggal serumah, anda bahkan bisa mengajari saya 24 jam, jika saya mau iya kan"
Exsel menatap zhea lekat-lekat, tidak setuju dengan keputusan zhea.
"Benar tuh kak apa yang di bilang zhea" ucap Tiffany mengenggam tangan exsel.
"Hanya ini kan yang ingin di bahas, jika tidak ada lagi saya pergi" ucap.zhea beranjak pergi.
__ADS_1
"Tunggu" exsel mengambil kembali ATM yang zhea letakkan di depan profesor, dan memberinya kembali kepada zhea.
"Ambil dan simpan kembali, ATM ini. dan profesor, masalah biaya kuliah zhea, anda bisa membicarakannya pada saya. Saya yang akan membayar semuanya, karena saya suaminya"