BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 239


__ADS_3

BAB 239


3 bulan berlalu......


Kesehatan zhea dari hari ke hari makin memburuk. Selama bekerja di perusahaan, zhea meminta tinggal di apartemen. Karena dia tidak mau Leon mencurigai bahwa kesehatannya memburuk. Leon pun tanpa curiga menyetujuinya, asalkan zhea tetap mengurus perusahaan.



Zein datang ke apartemen zhea, dia terkejut melihat zhea tergeletak di lantai. Zhea sebenarnya tidak pingsan, dia dalam keadaan setengah sadar. Namun, anggota badannya sama sekali tak bisa di gerakkan.


"Zheaaa bertahanlah" pekik Zein.


Zein membawa zhea ke rumah sakit. Dan zhea langsung di tangani oleh dokter viola



"Bagiamana keadaannya dokter?" Ucap Zein



"100% separuh hati nona sudah benar-benar rusak"



"Apa ada cara untuk menyembuhkannya??"



"Jika nona bersedia untuk berobat dan mengikuti saranku dulu, mungkin penyakitnya masih bisa di atasi. Dan sepertinya, selama ini Nona juga tidak mengonsumsi obatnya"



"Berikan resep obatnya padaku, aku akan memberikannya"



Dokter viola hanya mengangguk, Kemudian mencatat resep obat untuk zhea.



Zein segera menebus obat, Kemudian kembali lagi ke ruangan zhea.



Ponsel Zein berdering dan yang menelpon adalah Raka.


"Kamu dimana? 15 menit lagi meeting. Kenapa belum ke kantor"


"Ada sesuatu yang harus aku dan zhea kerjakan. Hubungi Rere, biar dia yang mewakili zhea datang ke sana" ucap Zein langsung memutuskan sambungan telpon


____________


Rere dan Zein berada di restoran. Sekarang, mereka baru selesai meeting.


"Zhea sama Zein itu kemana sih? Kebiasaan banget sih ngilang-ngilang kayak gini. Untung aja kliennya nggak ke singgung karena mereka nggak datang" ucap Rere


"Gue juga nggak tahu. Sebelum zhea terjun ke dunia bisnis, Zein selalu on time saat bekerja. Dia nggak pernah telat ataupun suka ngecancel pertemuan sembarangan. Zein bilang mereka ada urusan, lho tahu nggak urusan apa yang di maksud?"


"Kalo gue Tahu, gue nggak mungkin nanya Meraka kemana kan?"


____________


"Kamu sudah sadar" ucap exsel ketika merasakan pergerakan di tangan zhea.



"Minum Dulu" ucap Zein menyondorkan segelas air pada zhea. Zhea pun meminum air itu, setelah selesai Zein meletakkan kembali gelas itu di atas meja.



"Kondisi kamu makin memburuk zhea. Aku akan mengurus semuanya agar kamu bisa menjalankan pengobatan di luar negeri"

__ADS_1



"Gue nggak mau Zein! Udah berapa kali gue bilang sama lho"bentak zhea



"Terus lho mau terus-terusan kayak gini? Mau lho bergantung dengan selang infus terus,iya?. Kalo iya, cepat atau lambat om Leon akan tahu semuanya. Bukan cuma om Leon, tapi sahabat-sahabat lho juga akan tahu. Lho pikir Rere dan Raka nggak curiga sama kita selama ini karena sering ngilang. Bagaimana jika mereka mencari tahu?"



"Mereka nggak akan tahu kalo lho nggak ngasih tahu"



"Bukan cuma gue yang tahu Zhe, Cathlin dan dokter viola juga tahu"



"Mereka juga nggak akan ngasih tahu"


"Oke, tapi apa lho mau bergantung dengan infus terus Zhe? Semua keinginan lho masih setengah jalan Zhe. Tapi kondisi lho udah nggak memungkinkan lagi"


"Gue pasti bisa Zein. Selagi gue masih hidup gue akan berusaha keras mengapai keinginan tuan marga"



"Kalo gitu lho harus minum obat ini. Lho harus minum obat ini rutin, kalo lho nggak mau semua orang tahu dan lho juga bisa bertahan tanpa selang infus"



Zhea akhirnya menurut dengan menelan pil itu.


"Lho harus bawa obat ini kemana pun lho pergi. Lho juga harus minum obat ini setiap hari. Gue nggak mau liat lho pingsan-pingsan kayak tadi lagi"


Beberapa hari kemudian, zhea kembali bekerja ke kantor.



"Lho kemana aja 4 hari ini Zhe?" Ucap Rere


"Masa sih? Kok Raka juga nggak tahu. Lho dan Zein sering banget pergi-pergi kayak gitu. Mana nggak bisa di hubungi lagi, lho nggak diam-diam ngedate sama Zein kan?"



"Ngomong apa sih re. Ya nggak mungkin lah"


"Ya mungkin-mungkin aja kan. Kalian juga keliatan dekat banget sekarang"


"Gue kan belajar bisnis dari dia, dan perusahaan tuan marga sama perusahaan Zein itu bekerjasama. Dua perusahaan ini juga, punya klien yang sama. Lho tahu itu kan?"



Zein dan raka masuk ke ruangan zhea.



"Ada sesuatu yang harus kita kompromi" ucap Zein duduk di sofa dengan Raka



Zhea dan Rere pun ikut duduk di sana.


"Balapan Niko dan Rio sepuluh hari lagi. Kalian tahu kan? Perusahaan gue bersponsor dengan acara itu?"


"Terus?" Ucap Rere


"Gue ke sini cuma mau minta usul sama kalian. Ini kan balapan akhir, kita harus membuat acara lebih menarik dari sebelumnya"



"Apa balapannya tetap di lakukan di AS?" ucap zhea

__ADS_1


"Ya, apa kamu mau. mengadakan balapan itu di lain tempat?"


Zhea mengaguk Kemudian berucap "gimana kalo balapannya di Jerman aja?"


"Jerman? Tapi Kitakan baru 3 bulan yang lalu ke sana Zhe" ucap Rere


"Karena itu, gue pengen balapannya di laksanakan di sana. Negara itu indah, para pembalap bisa refreshing dan healing dulu sebelum balapan agar rilex"


"Tapi, persiapan di AS udah setengah selesai. Jika kita ingin mengganti tempat, kita harus membayar semua yang sudah siap itu. Dan kita akan mengeluarkan uang perusahaan untuk membiayai semua pembalap di sana. Belum lagi, persiapan yang akan di lakukan membutuhkan biaya besar. Kita harus m nyewa beberapa saluran tv, wartawa dan Tim medis. Semuanya di pindah tangankan ke kita. Tapi kita yang akan menjadi tuan rumahnya " sahut raka



"Atur semuanya. Semua biaya akan gue tanggung secara pribadi"



"Tapi, biayanya nggak kecil lho Zhe. Itu bisa mencapai ratusan Miliar" ucap Zein



"Lakukan saja. Yang terpenting harus balapan itu Jerman"



"Emangnya ada apa di Jerman Zhe?" Ucap Rere


"Gue juga nggak tahu. Gue ngerasa ada sesuatu yang berharga di sana"


"Baiklah. Karena perusahaan gue yang bersponsor, gue akan bantu setengah dari biayanya"


"Nggak perlu Zein. Ini bukan tentang perusahaan, tapi keinginan pribadi gue. Dan, cinta gue terhadap balapan"



Zein mengangguk "kalo gitu, Raka dan Rere urus semuanya di sana. Waktu kalian hanya satu Minggu, dan gue mau dalam satu Minggu semuanya sudah selesai. Dan waktu tiga hari yang tersisa bisa di gunakan para pembalap untuk latihan di sana"



"What satu Minggu? Itu bukan masalah kecil lho Zein. Mana mungkin bisa di selesain secepat itu" protes Rere



"Ada Raka. Dia pasti bisa menghandle semuanya"


"CK, sok hebat banget" ucap Rere


"Gue bukan sok hebat re. Hanya saja, gue nggak pernah ngeluh sama pekerjaan gue"


"Iya deh iya. Yang paling pekerja keras"


"Klien kita Yang di AS dan Jerman akan membantu kalian mengurus semuanya" ucap zein


______________________


Satu Minggu berlalu, Rere dan Raka mengantar 10 orang pembalap ke asrama yang mereka sediakan.



"Yo, nik. Semoga nyaman ya kalian di sini. Semangat latihannya, gue yakin kalian pasti pemenangnya" ucap Rere



"Makasih supportnya. Nggak nyangka banget deh, adek yang manja minta ampun sekarang bisa buat acara plus kerja di kantoran. Ya nggak yo" ucap niko menyenggol lengan rio


"Kalo bukan karena zhea, gue juga nggak mau kali kerja kayak ginian. Capek!"


"Mulai deh ngeluhnya" ucap Rio


"Benaran capek nik, mana bolak balik keluar negeri keluar kota"


"Cup cup cup cup. Kesayangan gue Kecepek'an, iya?. Sini-sini charger energi dulu" ucap Rio memeluk Rere. Sementara Rere tersipu malu di bilang kesayangan oleh Rio, walaupun Rio sering bilang kata-kata itu sejak mereka kecil.

__ADS_1


"Heum,cuma pelukan berdua doang nih? Gue nggak di ajak gitu" ucap Niko


Mereka lalu berpelukan bertiga. Sedangkan raka, menahan cemburu melihat kedekatan Rio dan Rere.


__ADS_2