
Bab 100
Ke ESOKKAN harinya keempat sahabat itu, sedang makan di salah satu restoran di negara AS, sambil bercakap-cakap.
"Yo, gimana kalo lho ikutan balapan?" Ucap Niko
"Gue.. akh gue nggak yakin untuk itu"ucap rio
"Di coba aja dulu. Gue juga belum tentu berhasil. Jika kita gagal, kita bisa mencoba lagi di tahun depan"
"Iya Yo lho ikutan aja. Siapa tahu nasib lho baik di sini" ucap Rere
"Kalah menang urusan belakangan Yo. Yang penting tuh pengalaman dulu" ucap zhea
"Tapi..."
"Ikut ya Yo pleaseee" ucap Rere memasang wajah memohonya
"Nggak bisa re"
"Apanya sih yang nggak bisa Yo. Kalo lho nggak mau biar gue yang daftarin lho"
"Daftarin aja, gue nggak bakalan mau"
"Oke, kalo gitu. Gue yang bakalan balapan gantiin lho"
"Ree"
"Rio adinata. ikut nggak lho" bentak Rere
__ADS_1
Tiba-tiba Celine datang bersama dengan Tasya Menghampiri mereka. Celine adalah teman satu fakultasnya Niko di AS. Sementara Tasya adalah orang yang menyukai Rio sejak di bangku SMP.
"Hay nik. Ternyata gue nggak salah lihat" ucap Celine
"Kak Rio. Ini benar kak Rio kan?" Ucap Tasya antusias
"Maaf lho siapa ya?"
"Cewek yang ngejar-ngejar lho waktu SMP" ucap Rere malas
"Oh ya, kenalin ini Celine dia orang yang banyak bantu-bantu aku di sini. Dan Celine kenalin ini sahabat-sahabat gue. Ini zhea, ini Rere dan ini Rio" ucap Niko menunjuk mereka satu persatu.
"Senang bertemu dengan kalian"
Rere dan Rio hanya membalas dengan senyuman. Sementara Rere terlihat acuh.
"Oh iya, ini Tasya dia adik sepupuku, dia juga baru pindah ke sini"
"Nggak nyangka banget bisa ketemu kak Rio di sini" ucap Tasya.
"Ya, gue juga nggak nyangka"
"Boleh kita gabung di sini. Kan masih ada tempat yang kosong juga" ucap Tasya langsung duduk di tempat yang kosong sebelahan dengan Rio. Terjadilah Rio berada di tengah-tengah antara Rere dan Tasya.
Terlihat jelas wajah ketidak sukaan Rere atas kedatangan mereka. Melihat itu pun Celine merasa tidak enak dan mengajak Tasya pergi. Tapi Tasya malah tidak ingin pergi.
"Tas, kayaknya kita makan di tempat lain deh" ucap Celine
"Lho kenapa kak, di sini aja kan rame"
__ADS_1
"Tapi kann..."
"Kalo kakak mau makan di tempat lain ya udah kakak makan aja di tempat yang kakak mau. Tapi aku mau di sini"
Rere yang kesal mendengar itupun menghempaskan gelas yang dia pegang ke meja secara kasar. Semua orang pun melihat ke arahnya.
Rere melihat Tasya sekilas, kemudian berucap "kita itu udah lama nggak ngumpul. Kita sengaja makan disini untuk merayakan momen-momen yang tertunda"
"Kamu dengar kan tas, mereka itu lama nggak bertemu sama Niko. Jadi, jangan ganggu mereka. Ayo kita pergi" ucap Celine menarik tangan Tasya
"Udah cel, nggak apa-apa kok. Kamu duduk aja dan pesan makanannya" ucap Niko. Sementara Rere membulatkan matanya mendengar ucapan Niko.
Hening....hanya ada suara garpu, sendok dan piring yang beradu.
"Kak Rio kenapa nggak kuliah di sini juga. Kayak kak Niko" ucap Tasya membuka percakapan
Rio tidak menjawab dia hanya membalas dengan senyuman.
"Rio nggak bakalan kuliah di sini" ketua Rere
"Lho kenapa"
"Karena dia harus jagain gue"
"Jagain kak Rere? emangnya kak Rere kenapa? Sakit?"
"Gue sehat dari ujung rambut nyampe ujung kaki"
"Terus kenapa kak Rio harus jagain kakak. Kalian kan hanya sahabat"
__ADS_1
Baca terus kelanjutan ceritanya ya ☺️
Dan jangan lupa baca juga Karya author yang berjudul "COLD CEO IN LOVE" dan "SILENT DEADLY" ya reader's tercinta 🙏🏻☺️