BAD GIRL

BAD GIRL
214


__ADS_3

Bab 114


"Kepalamu sakit? Seharusnya kami melakukan pengecekkan di seluruh tubuhmu, tidak hanya berfokus ke jahitan di perutmu saja" sesal exsel


"Aku takut, ada luka dalam. Apalagi kau terhempas begitu keras ke pohon. Besok, kita lakukan pengecekan " sambungnya panik


Namun zhea tetap diam, tapi kepala tidak terasa begitu sakit lagi. Dan dia lebih memilih memejamkan matanya ketimbang menanggapi exsel


"Apa masih pusing?"


Tak ada jawaban


"Zhea, apa kamu mau minum atau makan sesuatu?" Tanya exsel lagi


"Bisa diam nggak sih!" Bentak zhea kesal. Sejatinya dirinya marah karena ucapan Celline yang mengatakan exsel menikahinya karena kasihan. Dia tidak terima itu, meskipun dia mempunyai pemikiran yang sama


"Aku nanya baik-baik lho Zhe sama kamu. Kok malah jadi marah-marah kayak gini"


"Masa bodoh! Pergi lho dari sini. Gue pengen sendiri"


"Lho, gue?" ucap exsel kecewa karena zhea kembali menggunakan kata-kata itu.


Namun zhea tidak menanggapinya, dia kembali memejamkan matanya


Exsel menarik nafas kasar dan mencoba mengalah, karena zhea baru saja sadar.


"Aku minta maaf kalo aku ganggu kamu. Aku hanya terlalu senang melihat kamu sadar setelah 3 hari" jujur exsel


"Aku kangen kamu, rumah kita dan kebersamaan kita di sana" sambung exsel dalam hati


Zhea mencoba untuk duduk, namun bergerak sedikit saja perutnya terasa sangat sakit.


"Jangan banyak gerak. Jahitan di perut kamu kebuka, dan baru di jahit lagi. Kamu mau apa?" jelas exsel


Namun zhea tak menjawab apapun, dia kembali berusaha untuk duduk di bantu oleh exsel.


"Mau minum?" Tawar exsel menyondorkan segelas air ke Zhea


"Gue mau cerai!"


Duarrrrr


Exsel yang sedari tadi sibuk mengganti infus zhea pun terdiam, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya seperti tidak mendengarkan ucapan zhea.


"Exsel lho dengar nggak sih? GUE MAU CERAI!" ucap zhea penuh penekanan


Exsel menarik nafas kasar, mencoba untuk tenang sejujurnya dia juga marah karena zhea berlaku kasar ke Celline. Bukannya dia masih punya perasaan ke Celline, melainkan dia tidak mau zhea menyakiti orang lain, karena zhea hebat dalam hal bela diri. Sedangkan Celline hanyalah wanita lemah.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya exsel duduk di kursi samping brankar zhea dan menatap lekat wajah zhea dengan tatapan datar


"Lho talak gue sekarang! Atau gue yang bakal urus perceraian kita ke pengadilan agama"


"Jawab dulu pertanyaan aku? Apa alasannya kamu mau cerai. Seharusnya yang marah itu aku Zhe, kenapa kamu harus kasar dan main fisik ke Celline. Celline itu, bukan tandingan kamu Zhe. Seandainya aku nggak datang tepat waktu, mungkin Celline udah tinggal nama sekarang"


"Lho peduli sama dia, kalo gitu BALIK SANA SAMA DIA, DAN CERAIN GUE!" bentak zhea


"Zhea berhenti egois, dan mikirin diri kamu sendiri"


"Kenapa lho keberatan iya? Kalo iya bagus! Lho bisa talak gue sekarang!"


"Aku tanya sama kamu apa alasan kamu mau cerai! JAWAB!" bentak exsek yang sudah kehabisan kesabaran


Zhea terdiam melihat kemarahan di wajah exsel dan baru kali ini exsel membentaknya.


"Kenapa hanya diam Zhe? Jawab aku? Kamu mau cerai kan? Jawab dulu pertanyaan aku"


Ada rasa tak terima di hati zhea ketika exsel mengucapkan hal itu. Apa exsel menyetujui untuk menceraikannya dan kembali bersama Celline? Tidak. Zhea nggak mau itu terjadi.


Zhea melepaskan infus secara paksa dari tangannya, sehingga di punggung tangganya mengeluarkan darah.


Melihat hal itu, membuat exsel semakin emosi.


"Bisa nggak sih kita bicara baik-baik. Dan berhenti bertingkah konyol yang akan menyakiti diri kamu sendiri" ucap exsel memegang kedua bahu zhea dan menatap zhea dengan tatapan memohon


"Kamu mau kemana?" Ucap exsel menggenggam tangan zhea, ketika zhea melangkah ingin pergi


"Bukan urusan lho!" Ucap zhea mengehempas tangannya, namun karena keadaan tubuh yang masih lemah zhea terjatuh karena kehilangan keseimbangan saat menghempaskan tangan exsel


"Kamu itu masih lemah dan jangan kemana-mana dulu" ucap exsel


"Gue nggak mau lihat lho ada di dekat gue" ucap zhea mendorong exsel menjauh darinya


"Aku ini suami kamu. Jadi, aku akan selalu ada di dekat kamu"


"Ahhhhhhhh" rintih zhea karena jahitan di perut dan kepalanya terasa sakit bersamaan.


Melihat itu, exsel langsung menggendong zhea dan membaringkannya di brankar.


"Tunggu sebentar" ucapnya kemudian dengan cepat memasang kembali infus ke tangan zhea. Dan menyuntikkan beberapa obat ke infusnya zhea.


"Masih sakit? Makanya jangan banyak gerak dulu" ucap exsel menghampus air mata yang mengalir di sudut mata zhea.


Zhea menatap exsel lekat-lekat, jauh di lubuk hatinya dia tidak rela jika harus berpisah dengan exsel. Tapi exsel masih mencintai Celline, dia tidak mau menghalangi kebahagiaan exsel yang selama ini sudah sangat baik padanya. Tapi bagiamana jika exsel benar-benar meninggalkannya demi Celline? Hal itulah yang membuat zhea ingin selalu marah jika mengingatnya


"Udah ya, kita ngomongnya besok aja. Sekarang istirahat dulu" ucap exsel yang seolah tahu apa yang di pikirkan zhea.

__ADS_1


Exsel menyatukan kedua dahi mereka dan membelai rambut zhea "jangan terlalu banyak berpikir" ucapnya kemudian mengecup lama kening zhea.


Exsel membenahi selimut zhea, kemudian kembali duduk kursi dekat brankar. "Istirahatlah" ucapnya mengelus-elus lembut tangan zhea yang di infus


Untuk beberapa saat hanya ada keheningan di Antara mereka.


"Sel"


"Istirahat Zhe, lanjutin besok aja omongannya"


"Apa lho nikahin gue karena kasihan" ucap zhea tanpa menghiraukan ucapan exsel


"Zhe, aku kan udah bilang. Kita omongin ini besok aja"


"Kalo gitu telpon Niko, biar dia jemput gue. Gue nggak betah di sini"


"Oke, kita omongin ini sampai kelar. Tapi, jangan ada kata-kata perceraian lagi, bisa?"


"Kita lihat aja nanti"


"Zhe..."


"Sel.."


"Oke. Sekarang aku tanya ke kamu? Kenapa kamu tiba-tiba minta cerai? Dan kenapa sekarang malah mempertanyakan hal kayak gitu"


"Apa kamu masih mencintai Celline?"


"Zhe, aku tanya bukannya jawab. Malah, mempertanyakan hal yang lebih aneh lagi"


"Itu bukan pertanyaan yang aneh sel"


"Aku nggak punya sedikitpun rasa lagi ke Celline Zhe, Nggak sedikitpun"


"Lho nggak lagi bohongin gue kan sel?"


"Buat apa juga aku bohong sama kamu Zhe. Kamu nanya gini apa karena malam itu, apa karena itu juga kamu minta cerai sama aku"


"Jawab aja yang jujur sel"


"Aku emang nggak ada rasa apapun lagi sama celline Zhe, malam itu aku takut kamu nyelakain dia. Aku nggak mau kamu berbuat kasar sama orang lain. Kamu dan dia itu nggak sebanding Zhe. Kamu hebat ilmu bela diri, sedangkan dia hanya wanita lemah. Aku takut kamu gegabah sampai dia kehilangan nyawanya. Aku hanya nggak mau nantinya kamu terkena kasus apapun yang bakalan menyusahkan kamu. Apalagi, pada pihak ke polisian itu aja Zhe, nggak lebih. Udah ya, nggak usah marah-marah lagi, nggak usah kabur-kaburan lagi, ada masalah kita selesaiin baik-baik, ngomong baik-baik jangan dikit-dikit ngomongin cerai"


"Apa benar lho nikahin gue karena kasihan karena latar belakang keluarga gue sel?"


"Siapa yang bilang gitu ke kamu"


"Jawab aja sel! Nggak usah balik tanya"

__ADS_1


"Nggak Zhe, aku emang kasihan sama kamu dulu tapi bukan itu alasan aku nikahin kamu. Alasan aku nikahin kamu, karena kamu udah banyak nolongin mama. Hidup dengan satu ginjal itu sulit Zhe, apalagi kamu yang beraktifitas berat. Aku ingin ngelindungi kamu karena itu. Bisa di katakan alasan aku menikahi kamu itu karena rasa terima kasih aku ke kamu, bukan karena kasihan zhe. Dari awal pernikahan juga aku udah ngomongin masalah ini ke kamu kan apa kamu lupa? "


__ADS_2