
Bab 116
"Saya nggak peduli dengan harta kalian. Lagi pula, dari dulu saya nggak pernah merasa bagian dari keluarga marga"
Plakkkk
Leon ingin menampar zhea, namun exsel Dengan cepat melindunginya Al hasil exsel lah yang kena tampar.
Sementara yang lainnya, hanya membulatkan mata melihat kejadian itu.
"Minggir kamu!" Bentak Leon
"Kenapa harus memakai kekerasan? Saya nggak bakalan izinin siapapun menyakiti istri saya, walau seujung kuku, termasuk anda" tegas exsel
"Hidup dengan kamu adalah penyakit bagi putri saya. Mengambil ginjalnya, kamu pikir itu tidak akan mempengaruhi hidupnya. Dengan uang sebesar 2M yang kamu berikan ke saya, itu tidak sebanding dengan apa yang putri saya korbankan"
"Saya tahu. Maka dari itu, saya akan menjaga dan melindunginya sebisa mungkin"
"Dia kecelakaan bahkan sampai koma, itu yang kamu maksud Dengan menjaga?"
Exsel terdiam tak tahu harus berkata apa lagi. Karena, dia juga merasa sangat bersalah atas kecelakaan zhea
"Kenapa hanya diam? Hal itu sudah membuktikan bahwa kamu nggak layak buat zhea"
"Kita nggak bisa menghindari kecelakaan tuan, jika pun kita ingin. Lagi pula, nggak ada satupun dari kita yang bakal tahu bahwa zhea bakal kecelakaan pada malam itu, termasuk tuan sendirikan? Saya yakin, jika bisa memilih dokter exsel pasti lebih memilih dirinya yang kecelakaan bukan zhea" sahut Niko
"Zhea, datang ke hotel papa pukul delapan di hari ulangtahunmu. Papa tunggu kamu di sana pukul delapan malam. Jika kamu tidak datang, maka papa akan bawa paksa kamu, dengan cara apapun" ucap leon. Dan Karena sudah kalah telak, akhirnya Leon marga, zein dan raka pergi meninggalkan ruangan zhea
"Sebaiknya kita keluar dulu dari ruangan ini" ucap Adnan
"Niko, Rio, Rere tetap di sini" ucap zhea
Adnan, Tiffany, Celline, silya dan Tasya pun pergi dari ruangan zhea.
"Kasar banget ya bokapnya zhea, nggak kebayang deh gue punya orang tua kayak gitu" ucap silya
"Lho kayak baru tahu aja" ucap Tiffany
"Tapi baru kali ini gue lihat pakai mata kepala gue sendiri"
"Bokapnya itu selalu maksain kehendaknya dia. Makanya tuh sih zhea jadi pembakang"
"Faktor lainnya juga karena nyokapnya zhea nggak peduli sama sekali ke dia dan lebih sayang ke anak tirinya" ucap Adnan penuh penekanan
__ADS_1
Sementara silya dan Tiffany pun di buat bungkam
"Apapun yang kalian dengar dan lihat hari ini,jangan sampai bocor ke orang lain, jika tidak ingin bermasalah. Kalian pasti tahu kan bokap zhea itu bagaimana, terlebih lagi pengusaha muda itu (Zein) yang selalu bersamanya. Mereka nggak akan tinggal diam jika kalian membuat masalah sekecil apapun ke mereka. Sambung Adnan penuh penekanan
"Sya, lho kemana aja tadi malam nggak pulang-pulang hah. Di telpon nggak di jawab di chat nggak di balas, mau lho apa sih hah. Lho itu nggak bisa berbuat semau lho di sini. Lho itu ikut gue ke sini, jadi apa-apa lho harus kasih tahu gue dan turutin perkataan gue" ucap celline
"Udahlah kak, aku malas debat"
"TASYAA!" bentak Celline
"Aku akan tetap di sini sampai cuti kita selesai. Tapi, aku akan pindah dari rumah kakak"
"Lho jangan becanda ya tasya. Lho itu sekarang tanggung jawab gue"
"Aku bisa tanggung jawab pada diriku sendiri. Kakak nggak perlu khawatir, nanti sore aku akan ambil barang-barang aku dari rumah kakak"
"Ayo" ucap adnan yang hanya diangguki oleh Tasya, mereka berdua pergi untuk mencari kos-kosan Tasya
"Ada hubungan apa kak Adnan sama tuh cewek" ucap silya yang nggak suka melihat kedekatan Adnan dan tasya
"Kayaknya rival lho juga bertambah untuk dapetin dokter Adnan" bisik Tiffany, membuat silya semakin kesal
"Kasian banget ya hidup lho. Udah nggak ada kesempatan buat dekat sama kak exsel, sekarang sepupunya pun ikut-ikutan nggak mau dekat-dekat sama lho" ejek Tiffany
"Aduhhh nggak nyadar diri banget deh lho. Lho nggak lihat bagaimana nggak maunya kak exsel cerai sama zhea"
"Itu sekarang, kita lihat aja nanti!"
"Semoga beruntung ya"
"Kalo gue nggak bisa dapetin Alex, maka zhea ataupun lho nggak bakalan bisa milikin dia"
"Duhhh ngerinya. Tapi sayangnya, kak exsel udah di milikin zhea tuh. Nggak panas apa tuh hati?"
"Lho sendiri gimana? Pasti lho juga sakit hatikan"
"Sakit sih, tapi nggak terlalu. Soalnya walaupun gue nggak bisa milikin kak exsel, gue tetap bisa dekat sama dia. Mau tau alasannya kenapa? Karena zhea itu saudara tiri gue. Jadi otomatis, hubungan gue dan kak exsel bakalan terus dekat. Dan nanti, jikalau memang mereka harus bercerai, gue yakin kak exsel bakal milih gue kebandingkan lho, masa lalunya yang nggak nggak tahu diri" ucap Tiffany yang sengaja memanas-manasi Celline, supaya Celline makin benci dengan zhea. Hal tersebut bisa menguntungkannya, jika Celline berlaku nekad ke zhea nantinya
"Kita lihat aja nanti siapa yang bakal menang"
"Gue sih yakin 1000% gue yang bakalan menang, ya kan sil?"
"Tentunya"
__ADS_1
"Kita lihat aja nanti!"
____________________
"Lho donorin ginjal lho Zhe, tapi lho nggak ngomong apapun ke kita" ucap Niko
"Udahlah nggak usah di bahas. Udah lewat juga" ucap zhea
"Zheee, lho itu udah gue anggap sebagi adek gue sendiri. Dan lho nggak cerita ke kita tentang Masalah ini. Lho pernah mikir nggak sih, resikonya apa hah?"
"Iya Zhe, kalo aja bokap lho nggak datang kita juga nggak bakalan tahu tentang ini" ucap rio
"Bisa-bisanya lho nyembunyiin masalah ini dari kita Zhe. Kenapa lho nggak cerita ke kita?" sahut rere
"Karena memang nggak ada yang harus di ceritain kan?"
"Lho anggap kita ini apa sih Zhe. Dari kecil kita temanan, tapi lho nggak mau ke buka ke kita gitu?" Ucap Niko mulai emosi
"Bukan gitu Nik maksud gue"
"Lho, Rere dan Rio udah gue anggap kayak keluarga gue sendiri. Gue pikir selama ini lho bakal kebuka ke kita soal masalah apapun. Ternyata gue salah dan terlalu percaya diri ke lho Zhe" ucap Niko
"Nik, udalah, ini kan urusan pribadinya zhea dan dokter exsel juga" Ucap Rio menenangkan
"Nggak bisa gitu dong Yo"
"Iya nik, kok lho jadi marah gitu sih. Biasanya juga lho yang paling sabar" ucap Rere
"Karena gue sayang sama zhea, gue sayang sama kalian bertiga. Kalian tahu kan? Cuma kalian yang gue punya. Gue nggak mau salah satu dari kalian itu kenapa-napa. Apalagi lho Zhe, lho itu keras kepala dan nggak mau di atur. Dengan hidup satu ginjal, aktifitas lho akan terganggu"
"Gue nggak keganggu apa pun kok nik, buktinya sekarang gue baik-baik aja kan?"
"Lho baru sadar dari koma tadi malam. Itu yang sebut baik-baik aja Zhe?"
"Oke gue salah, gue minta maaf. Gue bahkan lupa akan hal itu dan ngerasa nggak penting juga"
"Nggak penting apanya sih Zhe!"
"Sudah-sudah nggak perlu berdebat lagi. Niko, kita bisa bicarain ini baik-baik jangan pakai emosi"
"Waktu itu gue minta dokter nikahin zhea, tapi dokter ragu-ragu buat ngelakuin itu. Maksud dokter apa? Jelas-jelas zhea mendonorkan ginjalnya buat almarhumah ibu dokter, kenapa dokter ragu-ragu untuk menikahinya waktu itu"
"Saya minta maaf Niko. Zhea mendonorkan ginjalnya saja saya tidak tahu. Itu smeua di lakukan zhea tanpa sepengetahuan saya. Dia dan Adnan lah yang melakukan pendonoran ginjal itu"
__ADS_1
"Apa yang di omongin exsel benar nik, Yo, re. Dia nggak tahu apapun tentang donor ginjal ini"