
Bab 196
"Sayang, sejak kapan kamu di sini" ucap papa Rere
"JAWAB PERTANYAAN AKU PAH, MAH! APA MAKSUD DARI PEMBICARAAN KALIAN TADI" ucap Rere penuh penekanan
"Karena kamu sudah mendengar semuanya, maka akan papa ceritakan semuanya"
"Jangan bilang, kalo benar kalian lah yang membuat Rio kehilangan orang tuanya!"
"Dengarkan kami dulu, sayang" ucap mama Rere menenangkan putrinya itu.
"Malam itu, kamu sedang sakit. Usiamu baru satu setengah tahun. Di tengah malam, papa membawa mobil dengan kecepatan tinggi, agar cepat sampai ke rumah sakit. Tapi, di tengah perjalanan, papa kehilangan kendali, sehingga terjadilah tabrakan. Ternyata, mobil yang papa tabrak itu, mobilnya orang tua Rio. Kejadian itu, merenggut nyawa kedua orang tuanya, dan hanya Rio yang bisa di selamatkan. Waktu itu, Rio masih berumur 2 tahun. 3 bulan lamanya, dia di rawat, sehingga akhirnya bisa sembuh total. Kami mengembalikan dia ke neneknya, dan berjanji akan menjadi orang tua dan membiayai semua kebutuhan Rio"
"Kalian pikir, apa yang kalian lakuin selama ini ke Rio itu cukup untuk menggantikan kedua orangtuanya!"
"Maka dari itu, kami ingin menikah kan kalian berdua, sayang" jelas mama rere
"Kalian pikir Rio bakalan kau nikah sama aku, yang ada dua bakalan benci sama aku, jika dia mengetahui semua ini"
"Maka dari itu, tolong, kamu jangan ceritakan ini ke Rio"
"Dia berhak tau pah!"
"Papa tidak bisa menebak Rio itu seperti apa, tapi yang papa takutkan, jika dia mengetahui ini dia akan menjauhi kita semua"
"Itu karena kalian nggak pernah cerita ke kita tentang masalah ini. Coba aja kalian cerita waktu kita masih kecil, Rio mungkin akan mengerti kalo itu cuma kecelakaan. Tapi sekarang, dia sudah dewasa dan ntah apa yang di pikirkan dia nanti sama keluarga kita. Terlebih lagi aku yang selalu nyusahin dia, selalu marah-marah ke dia, dan selalu bertingkah egois ke dia. Dia pasti sangat benci sama aku pah, mah. Kenapa kalian nggak ngasih tahu aku dari dulu, kenapa? Kalian tahu kan? Bagaimana Rio ngejaga aku selama ini? Dia nanti pasti mikirnya kalian manfaatin dia Demi aku"
"Nggak sayang, Rio pasti tidak seperti itu"
"Kata siapa mah, dia nggak kayak gitu. Dia bahkan punya hak yang besar untuk membenci kita. Dia bahkan pindah ke AS agar bisa jauh dari aku yang selalu bergantung sama dia. Dan juka dia tahu, yang sebenarnya. Dia mungkin akan menghilang sejauh mungkin dari kita" ucap Rere yang merosot ke lantai dan beruraian air mata
"Sayang, kamu tenang dulu. Belum tentu Rio seperti itu"
"Aku harus ketemu sama Rio" ucap Rere kemudian berlari ke kamarnya.
"Rere, kamu mau kemana?" Ucap papa Rere mengejar Rere
Rere menarik kopernya menuruni tangga.
"Rere tunggu dulu, papa sama Mama belum selesai bicara"
"Apa lagi yang mau kalian omongin. Kalian pasti ngelarang aku buat ngasih tahu Rio yang sebenarnya kan?"
"Pikirkan ini baik-baik re. Apa kamu siap kehilangan Rio selamanya jika memang benar dia membenci kita nanti? Jika kamu sudah siap, maka papa sendiri yang akan memberitahu dia soal ini"
Rere tidak menjawab apapun, dia malah menarik kopernya keluar dari rumah.
__ADS_1
"Re, Rere. Berhenti sayang. Kamu mau kemana" ucap mama Rere mengejar Rere tapi Rere sudah keburu jauh
"Pah, kenapa diam aja di situ, ayo kejar rere" ucap mama Rere yang melihat suaminya itu hanya mematung
"Inilah yang aku takutkan mah. Tapi, dari pada mengejar Rere, lebih baik papah telpon Rio dan menceritakan semuanya"
"Tapi, pah bagaimana jika Rio marah sama kita"
"Jika kita tidak memberitahunya, maka kita tidak akan tahu apa yang terjadi kan?"
**********
Di bagian lain negara, zhea yang baru selesai balapan datang ke rumah sakit, karena hari itu dia tidak ada kelas bela diri.
Zhea masuk ke ruangan kepala rumah sakit.
"Zhea, ada apa kamu kemari?" Ucap kepala rumah sakit
"Saya ingin memindah namakan rumah sakit ini atas nama exsel"
"Kenapa?"
"Dia seorang dokter dan dia lebih tahu tentang rumah sakit, terlebih lagi dia berada di sini setiap hari. Sementara saya, sibuk dengan aktivitas saya sendiri dan tidak punya waktu untuk mengontrol ataupun mengecek kondisi rumah sakit"
"Jika maslaah itu kan, sudah ada exsel yang menghandle nya"
"Saya rasa, nama kamu ataupun nama dia itu sama saja zhea. Kalian kan sudah menikah, jadi tidak ada perbedaan untuk itu"
"Saya hanya ingin rumah sakit ini di pegang oleh dia"
"Baiklah jika itu mau kamu. Saya akan hubungi kamu nanti, jika semuanya sudah selesai"
"Baiklah terimakasih. Jangan beritahu exsel tentang masalah ini"
Kepala rumah sakit hanya tersenyum dan mengangguk.
Zhea beranjak pergi, ke ruangan Adnan.
"Bagus deh kalo lho ada di sini. Jadi, gue nggak harus nunggu dulu" ucap zhea duduk di kursi berhadapan dengan Adnan
"Lho, zhea. Ngapain disini? Nyari exsel?"
"No. Gue ke sini karena ada urusan sama lho"
"Urusan? Urusan apa?" Ucap Adnan kebingungan
"Exsel menggadaikan mobilnya ke lho kan?"
__ADS_1
"Kamu tahu darimana?"
"Exsel sendiri yang cerita"
"Oh, bagus deh kalo gitu. Bearti dia nggak nutupin Masalah ini dari kamu"
"Heum. Gue ke sini mau bayar uang yang dia pinjam ke lho. Berapa jumlahnya?"
"Apa exsel tahu tentang masalah ini?"
"Dia nggak perlu tahu. Dan lho juga nggak usah cerita apapun ke dia"
"Tapikan..."
"Masukin nomor rekening lho dan jumlahnya. Gue transfer sekarang" ucap zhea memberikan hpnya ke Adnan. Adnan pun mengetik nomor rekeningnya dan jumlah uang yang di pinjam exsel, lalu mengembalikan hp zhea
"Udah gue transfer. Lho bisa cek sendiri"
Adnan melihat hpnya untuk memastikan.
"Udah masuk uangnya. Tapi, gue harus ngembaliin mobil exsel"
"Emang seharusnya begitu kan? Atau jangan-jangan lho mau milikin mobil itu?" Ucap zhea menaikan alisnya
"Ya nggak gitu juga kali Zhe. Lho dan Rere tuh nggak ada bedanya tahu nggak. Nggak pernah mikir positif tentang gue"
"So...?"
"Gue harus kasih alasan apa ke exsel, waktu ngembaliin mobilnya. Dia bisa curiga kalo gue tiba-tiba balikin tuh mobil ke dia"
"Ya, lho balikin aja. Kalo dia nolak, lho bisa bawa mobil itu sampai dia ambil. Gampangkan?"
"Ya gue tahu, gue tinggal ngebalikin tuh mobil ke dia. Tapi, dengan alasan apa?"
"Itu urusan lho, Lho pikirin sendiri deh gimana baiknya. Tapi, jangan beritahu dia kalo gue udah bayar hutang-hutangnya"
"Yang kayak gini nih, nyusahin. Lebih baik lho nggak bayarin deh tuh hutang kalo tahu bikin pusing kayak gini" protes Adnan
"Lho kan sahabatnya dia, jadi lho pasti bisalah bohong sama dia tentang masalah ini"
"Masalahnya tuh zhea, gue tiap kali bohong ke dia, selalu aja ketahuan"
"Bearti lho bohongnya kurang pintar"
"Bukannya kurang pintar,. Tapi emang nggak biasa bohong gue. Gue kan anak baik-baik"
"Terserah lho deh. Asal lho nggak ngasih tahu ke exsel aja yang sebenarnya. Gue cabut dulu masih ada urusan" ucap zhea keluar dari ruangan Adnan
__ADS_1
"Nih ceritanya gue harus bohong gitu sama exsel. Ribet banget sih tuh dua orang. Mereka tuh kayaknya senang banget gitu, nyusahin gue buat nutupin masalah mereka. Pertanyaannya itu kenapa harus gue coba?" Gerutu Adnan