
Kini Bara sudah duduk di depan Alesh. Sorot mata Bara yang terlihat sangat cemas, dan ekpresi Alesh yang datar. Alesh hanya diam tak berbicara sepatah katapun, hal itu membuat Bara semakin bingung harus menjelaskan mulai dari mana.
“Al, gue tahu gue udah bohong sama lo.” Bara mencoba membuka percakapan.
Alesh tersenyum sinis.
“Satu hal yang paling gue benci dari dulu. Lo tau itu kan, Bara?” Bara menunduk, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Lihat mata gue kalau emang lo nggak salah.” Kata Alesh dengan suara setenang mungkin.
Bara mengangkat wajahnya, lalu menatap kearah Alesh.
“Kasih gue alasan, kenapa lo harus bohong sama gue!” Alesh menatap tajam kearah Bara.
“Gue cuma mau jaga perasaan lo aja, Al. Tapi gue nggak mungkin selingkuhin lo, sama seperti apa yang ada dipikiran lo sekarang.” Bara mencoba meraih tangan Alesh, tapi dia menghindar. Alesh menyeringai.
“Jaga perasaan gue?” Alesh menunjuk dirinya sendiri. “Klise lo Bar. Dan emangnya lo tau apa yang gue pikirin?” Bara menundukkan kembali kepalanya, dia tidak tahu apa yang Alesh pikirkan.
“Gue sama lo emang udah nggak bisa sama-sama lagi, Bar. Sekalipun gue udah kasih lo kesempatan, tapi lo lakuin lagi dan lagi.”
Bara kembali menatap Alesh,
“maksud lo apa Al?”
“Kita udahan.”
Sorot mata Bara kini berubah menjadi tajam saat mendengar apa yang Alesh katakan barusan. Bara bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Alesh yang sebenarnya terjadi. Bara menelan ludahnya dengan susah payah.
“Gue udah kasih lo kesempatan Bar, tapi lo hancurin gitu aja.” Raut wajah Alesh masih terlihat sangat tenang.
“Nggak akan Al, gue nggak akan pernah lepasin lo lagi.” Bara menggenggam tangan Alesh dengan sangat erat.
“Gue nggak peduli, Bar. Yang jelas gue sama lo udah selesai. THE END. TITIK.” Wajah Bara berubah jadi merah. Kilatan marah terlihat jelas dimata Bara.
“Gue jadi penasaran, jangan-jangan lo sama Nadia udah lebih dari sekedar ciuman? Atau bahkan kalian udah pernah tidur bareng?” kata Alesh, dia mengangkat sebelah alisnya.
Bara memicingkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Dengerin gue baik-baik ya Al,” Bara menatap Alesh dengan tatapan membunuh, “gue nggak akan sudi tidur sama orang yang sama sekali nggak gue cintai!” Bara tersenyum sinis, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Alesh, “tapi kalau sama lo, mungkin iya.”
Alesh terdiam.
“Nggak usah macam-macam lo Bar!”
“Gue udah pernah bilang sama lo kan Al, gue bakal lakuin apapun supaya lo nggak bisa lari dari gue barang sedetikpun.” Bara berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Alesh, sedangkan Alesh hanya mematung.
“dasar pengecut!” gumam Alesh saat Bara sudah pergi. Ada rasa sesak dalam hatinya, perasaan yang menghinggapi hatinya dulu. Kali ini, pertahanan Alesh runtuh. Malam ini dia kembali menangis, merasakan kepedihan yang sama.
Tunggu dulu! Bukankah Alesh hanya ingin balas dendam kepada Nadia? Untuk apa dia harus terbawa perasaan seperti ini?
*****
HARI ini Arga, papa Alesh mengajak Alesh bertemu disebuah restaurant untuk makan siang. Sudah lama sekali Alesh tidak bertemu dengan papahnya. Kesibukan Arga membuat mereka jarang bertemu. Sudah hampir satu jam Alesh menunggu, namun Arga belum juga datang. Ini sudah gelas ketiga Alesh memesan minum karena terus menerus di datangi pelayan.
“Al.” Panggil seorang cowok didepan Alesh, “lo ngapain disini?” tanya cowok itu.
“Ken?”
__ADS_1
“Lo ngapain disini, Al?” tanya Ken mengulangi pertanyaannya.
“Gue nunggu orang, Ken.”
“Siapa? Bara?” Alesh menggeleng tegas.
“Bokap gue.”
“Oh, gue temenin mau?” Alesh mengangguk, lalu dia duduk didepan Alesh.
“Lo nggak kuliah Ken?” tanya Alesh
basa-basi.
“Nggak ada jadwal hari ini.”
Ponsel Alesh bergetar, sebuah panggilan masuk lalu dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan posel ke telinganya.
“Hallo pah.”
“………….”
“Tapi pah.”
“……………”
Sambungan telfon terputus begitu saja, raut wajah Alesh berubah menjadi kecewa. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rahangnya mengeras. Arga baru saja membatalkan untuk bertemu dengan Alesh karena ada meeting dikantor. Kalau memang ada meeting hari ini, untuk apa dia mengajak Alesh bertemu?
“Al, lo kenapa?” tanya Ken yang sejak tadi memperhatikan Alesh.
“Yaudah nggak masalah, kan ada gue sekarang.” Alesh tersenyum hambar.
“Al, lo sama Bara baik-baik aja kan?”
Alesh menggeleng malas.
“Gue udah selesai Ken sama dia. Dia kecewain gue lagi.”
“Maksud lo?”
“Dia bohongin gue. Lo tau Ken? Gue paling benci dibohongin!” dahi Ken terlihat bergelombang.
“Gue yakin Bara punya alasan kenapa dia bohong sama lo, Al.”
“Apapun alasannya, namanya bohong tetap aja bohong Ken. Dia kan sahabat lo makanya lo ngomong gitu.”
“Bukan gitu Al, gue tahu Bara. Setahu gue, dia tulus sayang lo.”
“Lo tahu ada hubungan apa Bara sama Nadia?”
“Kalau masalah itu lebih baik lo cari tahu sendiri, karena gue nggak mau kasih info yang salah.” Alesh mengangguk, lalu menghabiskan minumnya. Rasa laparnya hilang sejak Arga membatalkan janjinya begitu saja.
*****
BUG
Alesh sampai di parkiran dan melihat dua orang sedang adu jotos, matanya membulat melihat siapa yang sedang berkelahi. Dia mendekati mereka yang sudah menjadi tontonan gratis mahasiswa yang lain.
__ADS_1
“Bara berhenti!”
Alesh mencoba menghentikan Bara yang terlihat seperti kesetanan. Bara tidak menggubris Alesh, dia kembali memukul wajah Nata dengan bringas. Sudut bibir Nata dan Bara sudah mengeluarkan darah.
“Bara berhenti!” suara Alesh meninggi.
Sekarang, Nata yang bergantian memukul wajah Bara. Dia tak mau kalah.
“NATA BERHENTI!!” Alesh berteriak membuat Nata menghentikan aksinya. Nafas Nata memburu, dia mendorong Bara hingga tersungkur ke belakang. Alesh mengepalkan kedua tangannya. Dia benci keadaan seperti ini. Bara mengusap wajahnya dengan raut penuh kekesalan. Matanya tak lepas dari sosok Nata.
Nata mengatur nafasnya dan menundukkan kepala di depan Alesh. Alesh memicingkan mata kepada keduanya. Alesh tak berbicara lagi, dia pergi begitu saja meninggalkan Nata dan Bara. Bara segera bangkit dan mengejar Alesh yang berjalan menuju kelasnya.
“Al tunggu Al.” Panggil Bara. Alesh tidak menggubris Bara sampai Bara menahan lengannya. Alesh mengeraskan rahangnya. Matanya menatap tajam kearah Bara.
“Bisa kan kelarin masalah tanpa kekerasan?” tanya Alesh dengan suara datar. Bara menunduk. “Lama-lama gue makin nggak kenal siapa lo Bar.”
Bara mengangkat wajahnya, “Al, gue bakal lakuin apapun sama orang yang berani deketin lo. Kalau perlu gue mampusin sekalian.” Bara menahan rasa sakitnya, dia menyentuh bibirnya yang berdarah.
Alesh menghembuskan nafasnya kasar, lalu menarik tangan Bara. Dia membawa Bara duduk di kursi yang ada di taman. Lalu, mengeluarkan tissue dan membersihkan darahnya.
“Aw.” Pekik Bara.
“Berantemnya semangat, baru di obatin aja udah kesakitan.”
Bara membalas dengan cengiran seperti biasa. Matanya dengan lekat menatap wajah Alesh.
“Awww pelan-pelan dong, Al sakit.” Eluh Bara saat Alesh menekan luka di sudut bibirnya. Alesh hanya berdecih.
“Al gue sayang lo, lo percaya itu kan?” Tanya Bara sambil menatap wajah Alesh. Alesh tidak menjawab. Alesh menelan ludahnya.
“Gue sama Nadia nggak ada apa-apa, gue cuma-” Alesh berdiri dari duduknya sebelum Bara menyelesaikan kalimatnya. Dengan cepat, Bara menarik tangan Alesh hingga dia berbalik kearahnya. Bara memeluk Alesh dengan erat. Ada perasaan yang membuat Alesh goyah.
“Well well well, drama lo sempurna Al. Tapi lo nggak cukup pintar memainkan peran lo.”
Sindir seorang cewek yang berada di belakang Alesh, siapa lagi kalau bukan Nadia. Gadis itu memang selalu menganggu hidup Alesh.
Alesh berbalik kearah Nadia,
“Mau lo apa si Nad?” tanya Alesh.
“Mau gue?” Nadia menunjuk dirinya sendiri, “mau gue simpel, lo tau kan apa yang gue mau?” jawab Nadia sambil mengelus pipi Alesh dengan punggung tangannya.
Nadia melipat kedua tangannya di dada, lalu menoleh kearah Bara “Bar, lo masih belum ngerti? Dia-” Nadia menunjuk kearah Alesh, “cuma manfaatin lo buat balas dendam sama gue, iya kan Al?”
SKAKMAT! Wajah Alesh memerah, matanya membulat. Dia tidak berani menatap kearah Bara.
“Bar, harusnya lo curiga kenapa tiba-tiba dia mau balikan sama lo begitu gue muncul lagi. Dia cuma manfaatin lo Bar, setelah itu dia bakal buang lo kapan aja dia mau. Dia udah nggak cinta sama lo.” Lanjutnya.
Bara menatap Alesh yang sedang menunduk.
“Al, bener apa kata Nadia?” tanya Bara memastikan. Alesh hanya diam.
Bara mengangkat dagu Alesh agar bisa melihat wajahnya.
“Jawab gue Al.” Suara Bara meninggi. Alesh menelan ludahnya dengan susah payah. Dia memalingkan wajahnya dari Bara dan tak menjawab apapun, lalu meninggalkan Bara dengan Nadia. Nadia tersenyum puas.
Sialan! Nadia memang perempuan ular.
__ADS_1