
Bab 142
"Kaki gue Zhe, auuu" ringis Rere
"Tubuhnya tidak seimbang, sehingga dia jatuh" ucap guru Rere
"Lho yang sengaja nendang kaki gue, sehingga gue jatoh" teriak Rere
"Re, belajarnya emang kayak gitu. Yaudah kita ke rumah sakit sekarang, buat periksa kaki lho"
"Sakit banget Zhe. Lihat, langsung bengkak. Gimana kalo kaki gue patah, terus nggak bisa jalan lagi, ahh no" parno rere
"Itu nggak mungkin terjadi re. Yaudah ayo, gue bantu lho berdiri, kita ke rumah sakit sekarang"
Zhea memapah Rere ke mobil. Dan langsung tancap gas ke rumah sakit.
"Zhe, buruan dong kaki gue benar-benar sakit ini" Rengek Rere
"Iya, iya sabar. Ini juga udah ngebut"
10 menit kemudian, merekapun sampai di rumah sakit. Zhea langsung memapah Rere masuk ke rumah sakit.
"Nona zhea, selamat ya atas pernikahannya" ucap para suster
"Ah iya". Zhea membawa Rere masuk ke rumah UGD.
"Nona, ini bukan ruangan untuk rawat biasa" ucap suster
"Masa bodoh! Lho nggak lihat teman gue kesakitan kayak gini" bentak zhea
"Tau lho, nggak perhatian banget jadi suster" sahut Rere
" kalo begitu, saya panggilin dokter exsel dulu" ucap suster, beranjak pergi dari sana. Karena takut, bakalan di bentak lagi kalau berlama-lama di sana.
__ADS_1
"Dokter exsel, nona zhea ada di ruangan UGD"
"apa!" ucap exsel langsung berlari menuju ke ruang UGD dia menyangka sesuatu terjadi pada zhea. Sedangkan Adnan, hanya mengikuti langkah exsel.
Exsel berdiri di samping zhea, melihat zhea dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ngapain lihatin gue kayak gitu"
"Syukurlah, kalo lho nggak apa-apa"
"Aduhh, dokter yang cedera itu gue. Bukan istri lho.nggak lihat apa gue yang berada di atas brankar" kesal Rere
"Apanya yang sakit? Biar gue yang periksa" ucap Adnan
"Nih, kaki gue"
Adnan pun memeriksa kaki Rere.
"Cuma terkilir, kenapa harus ke ruang UGD coba"
"Yaudah tahan, bentar, ini agak sakit" ucap Adnan dia lalu mengurut kaki Rere. Saat Rere ingin teriak karena kesakitan, zhea menutup mulut Rere dengan tangannya, alhasil tangan zhea di gigit oleh Rere.
"Nan, nan Berhenti ngurutnya, tangan zhea di gigit tuh sama dia"
"Udah terusin aja" ucap zhea
"Tahan sebentar lagi" ucap Adnan.
Setelah selesai mengurut kaki Rere, Rere pun melepaskan gigitannya.
"Gila lho, mau nyiksa gue ya" teriak Rere
"Gue tuh ngobatin lho. Kalo nggak di urut ntar tambah bengkak dan sulit buat jalan"
__ADS_1
"Ikut aku" ucap exsel menarik zhea ke ruangannya.
"Mau ngapain sih" ucap zhea setelah mereka sampai di ruangan exsel.
Exsel mengambil tisu basah, lalu mengelap bekas gigitan Rere di tangan zhea.
"Apa nggak sakit?" Ucap exsel yang melihat tangan zhea membiru di gigit oleh Rere.
"Nggak, udah biasa gue di gigit sama dia"
"Kenapa harus di tutup mulutnya. Di gigit kan tangan kamu jadinya"
"Kalo nggak di sumpel tuh mulut, dia akan berteriak-teriak dan bakal gangguin pasien yang lainnya ntar".
RUANGAN RERE...
"Lho ngapain ngegigit sih boss sih. Lihat tuh, exsel kayaknya marah" ucap Adnan
"Kalo dia sampai berani marahin gue, gue yakin zhea bakalan marahin dia balik"
"Lho mau ngadu domba tuh pengantin baru hah, sahabat macam apaan lho"
"Sahabat jadi-jadian. Puas lho" ketus Rere
"Dihh"
Ponsel Rere berbunyi, panggilan video call dari Niko.
"Ya nik, lho udah nyampe di sana"
"Heum. Baru saja, turun dari pesawat. Gimana latihannya? Lancar?"
"Lancar apaan, lho nggak lihat gue di rumah sakit sekarang"
__ADS_1
"Lah kenapa?"