
Bab 151
"Lho dengarin baik-baik ya, kak adnan itu milik gue, dan selamanya akan jadi milik gue"
"Asal lho mampu aja ngerebut dia dari gue. Lagi pula, gue juga nggak yakin Adnan bisa jauh-jauh dari gue" Ucap Rere beranjak pergi dari sana menuju kelas
"Kurang ajar! Awas aja gue bakalan buat perhitungan sama lho"
---------
Exsel menjemput zhea, di kampus setelah membeli peralatan medis yang baru.
"Cieee di jemputin suami" ucap Rere menyenggol tangan zhea
"Apaan sih re. Oh ya, lho bawa aja mobil gue. Jalan juga masih pincang lho"
"Terus lho sama dokter exsel?"
"Biar kita yang pake motor Niko"
"Bilang aja mau boncengan sama suami" bisik Rere
",Belum tentu juga dia bisa bawa motor"
"Emang dia nggak bisa bawa motor"
"Ya mana gue tahu"
"Lho kan istrinya"
Zhea hanya memutar bola matanya malas.
"Gimana kelasnya hari ini" tanya exsel
__ADS_1
"Membosankan!"
"Apa karena bukan aku yang ngajar"
"Nggak usah ke PD an deh lho! Dimana-mana tuh sekolah membosankan"
"Yaudah ayo pulang"
"Kita naik motor aja, kaki Rere masih skait buat bawa motor"
Exsel hanya mengangguk.
"Oh iya re, motor Rio masih di kos-kosan Niko ya"
"Ya kali"
"Biar gue aja ntar yang ambil. Takutnya ilang"
"Biar aku aja yang bawa motornya"
"Lho bisa bawa motor?" Tanya zhea, tidak percaya dengan apa yang dia dengar
"Kenapa? Apa kamu pikir aku nggak bisa bawa motor"
"Nggak bukan gitu. Bagus deh kalo lho bisa bawa motor, kita bisa sekalian ambil motor Rio"
Exsel Hanya mengagguk. Mereka berdua lalu berboncengan menuju kos-kosan Niko.
"Seru juga ya ternyata boncengan kayak gini" ucap exsel
"Emang seru, apalagi pas balapan" ucap zhea kemudian beranjak berdiri dan merentangkan kedua tangannya.
"Pegangan Zhe, ntar jatoh"
__ADS_1
"Nggak bakalan tenang aja" ucap zhea kemudian berpengangan dengan bahu exsel.
"Bisa ngebut nggak lho" sambungnya
"Bahaya Zhe kalo ngebut-ngebut. Gue juga udah jarang bawa motor"
"Yaelah, padahal kalo sama Niko udah nyampe di kos-kosan nih kita"
"Yang penting selamat Zhe, biar lambat. Oh iya Zhe, kamu sama Niko itu dulunya pacaran ya?" Ucap exsel berbasa-basi agar tidak canggung, padahal dia sendiri sudah tahu jawabnya.
"Gue dan Niko itu udah temanan lama banget, mana mungkin kita pacaran. Lagian, gue tuh sayang banget sama dia dan Rio kayak Abang gue sendiri. Karena mereka berdua selalu jagain gue dan Rere, kapanpun dan dimana pun"
"Sekarang ada aku yang bakalan jagain kamu"
"Lho sendiri? Baraka kali pacaran?"
"Cuma sekali pas gue kuliah dulu"
"Bearti mantan lho cuma satu dong. Eh, gimana dengan Tiffany? Apa dia mantan lho? "
"Bukan, Tiffany itu sudah seperti adik bagiku. Kamu sendiri, berapa kali pacaran?"
"Gue nggak percaya dengan yang namanya hubungan, itu hanya manifulasi. Selain persahabatan,di hidup gue, nggak ada lagi hubungan yang lebih tulus dari pada itu"
"Bagaimana dengan pernikahan kita?"
"Bukannya lho nikah sama gue karena rasa balas Budi ya? Buat apa mempertanyakan hal yang lho sendiri sudah tahu jawabannya"
"Terus? Menurut kamu sendiri, pernikahan kita itu apa?
"Gue sih nggak pernah mikir bakalan nikah sama lho pada akhirnya. Awalnya, gue emang berencana nikah sama lho buat balas dendam. Tapi itu udah nggak penting. Dan kalo di tanya tentang Seperti apa pernikahan kita bagi gue, gue juga binggung harus menyimpulkannya Seperti apa"
Mereka sampai di kos-kosan Niko, zhea mengambil kunci kos-kosan Niko yang mereka simpan di pot tanaman. Setelah mengambil motor Rio mereka beriringan pulang ke rumah.
__ADS_1