
Bab 221
Sudah lama exsel mencari zhea di daerah itu, namun dia masih belum menemukan zhea. Walaupun lelah, dan rasa sakit karena perkelahian itu dia tetap mencari zhea dengan mengabaikan rasa sakit dan lelahnya itu.
Exsel benar-benar takut jika dia tidak bisa bertemu lagi dengan zhea. Rasa takut, bercampur Dnegan khawatir karena yang menculik zhea bukanlah orang-orang suruhan marga.
"Hanya daerah ini yang tersisa. Aku yakin, orang itu, pasti tidak membawa zhea jauh dari sini. Jikapun iya, orang-orang suruhan marga pasti bisa menemukannya" ucap exsel pada dirinya sendiri
Sedikit berlari, exsel mencari zhea sambil terus meneriaki nama zhea.
"Zheaa"
"Zheaaa"
"Zheaaaa"
Karena terus-menerus berlari, kaki exsel rasanya tak sanggup lagi berjalan.
"Arghhhhhhhhhhhhh" teriak exsel putus asa. Dia tidak tahu lagi mau mencari zhea dimana. Ingin meminta bantuan orang, dia tidak memegang hp sekarang. Ingin meminjam hp orang lain, dia tidak hafal nomor orang lain selain nomor hp zhea.
"Zhe, kamu dimana? Pleaa Zhe, kembali. Kamu wanita hebatkan? Kamu pasti bisa kembali. Aku mohon Zhe" ucap exsel lirih dan tanpa terasa air mata menetes di pipinya. Sekarang, dia benar-benar takut Zhea akan di lukai oleh penculik itu.
Ingin rasanya dia ke kantor polisi dan menemui sahabat-sahabat zhea agar bisa membantunya mencari zhea.
Tapi dia takut meninggalkan tempat itu, karena jika dia pergi bisa jadi penculik itu membawa zhea.pergi dari sana, dan dia akan kehilangan jejak dan tidak bertemu dengan zhea lagi. Itulah yang di pikirkan oleh exsel.
Exsel kembali bangkit, dan berjalan pelan sambil meneriaki nama zhea. Ingin berlari, tapi kaki tidak bisa di ajak kompromi
"Zheaaa"
__ADS_1
"Zheaaaaa"
"Zheeeeeeeaaaaaaa" tariak exsel di setiap langkahnya
Sayup-sayup zhea mendengar suara exsel.
"Exsel, itu suara exsel" gumamnya Dnegan suara bergetar. Tidak berani membuka matanya dan. Terus memeluk lutut, zhea berusaha teriak sekencang mungkin agar exsel mendengar suaranya.
"Exsel, aku di sini!"
"Exsel aku takut"
"Exsel keluarin akui dari sini"
"Exselllllll" teriak zhea berulang kali mengulangi kata-kata itu, agar exsel mendengar suaranya.
Exsel akhirnya mendengar suara zhea. Dia memandangi wilayah itu, dan menajamkan pendengarannya.
"Zheaaaa kamu dimana?" Lagi-lagi exsel menajamkan pendengarannya untuk mengetahui dari mana suara itu berasal
Samar-samar suara zhea masuk ke pendengarannya. Exsel langsung berlari menuju sumber suara. Rasa lelahnya seketika hilang ketika mendengar suara zhea.
"Zhe, kamu di dalam" ucap exsel mengetuk-ngetuk kasar pintu gudang, yang dia yakini di sanalah zhea berada
"Exsel, i-iya aku di sini. Tolongin aku sel, aku mau keluar dari sini, ge-gelap!" Ucap zhea terbatah-batah, karena nafasnya sudah sesak, terlalu lama berada di kegelapan.
Mendengar ucapan zhea, tanpa menunggu lagi, exsel langsung mendobrak pintu gudang itu. Satu kali dobrakan belum terbuka, dua kali juga belum.
Karena putus asa, akhirnya exsel menendang pintu gudang itu dengan sangat kuat sehingga terbuka.
Mendengar suara pintu terbuka, zhea memberanikan dirinya membuka mata dan langsung berlari kearah exsel.
Saat exsel baru ingin melangkah, zhea memeluknya Dnegan tubuh yang sangat gemetaran.
"Exsel, aku takut" ucap zhea memeluk erat exsel. Exsel pun membalas pelukan zhea.
__ADS_1
"Aku ada sini. Kamu nggak apa-apa kan" ucap exsel menarik tubuh zhea untuk melihat wajahnya. Dpaat exsel lihat, raut kesedihan dan ketakutan di wajah zhea.
Zhea hanya menggeleng pelan. Exsel mencium seluruh wajah zhea, mengecup sebentar sebentar bibir zhea untuk yang pertama kalinya, kemudian menyatukan dahi mereka.
"Nggak apa-apa Zhe, aku ada di sini" ucap exsel kembali memeluk tubuh zhea yang sangat gemetaran itu.
Mulutnya bilang tidak apa-apa, tapi hati dan pikirannya sangat takut dengan keadaan zhea. Rasa takutnya yang sekarang, melebihi rasa takut saat bekum menemukan zhea.
Exsel menggepalkan tangannya, saat melihat di dalam gudang itu tak ada celah sedikitpun untuk cahaya masuk di sana. Seperti benar-benar di sengaja, membuat trauma zhea kembali.
"Kita pergi dari si...."
Belum selesai exsel berbicara, zhea sudah pingsan. Untung, saat itu exsel sedang memeluknya. Jika tidak, zhea mungkin sudah tergeletak di lantai.
"Zhe, zheaa. Zhe sadarlah Zhe" ucap exsel menepuk-nepuk pipi zhea.
"Bertahanlah sayang, aku mohon" ucap exsel dengan sedikit berlari dan mengendong zhea ala bridge style.
Setengah sadar, exsel merasakan serangan dari belakang, sehingga tubuhnya dan zhea tergeletak di tanah, yang mana posisi wajah exsel berada di perut zhea. karena salah satu dari orang marga memukulnya dari belakang. Ingin rasanya exsel bangkit dan melawan mereka. Tapi, tubuhnya snagat susah untuk di gerakkan lagi
Orang-orang marga sedari tadi mencari zhea, mereka mendengar suara zhea dan exsel bersahutan,saat mereka berteriak tadi. Mereka lalu memutuskan untuk mencari sumber suara.
Saat exsel mendobrak pintu gudang, mereka sudah ada di sana, berlain-nan arah dengan exsel tanpa exsel sadari.
Mereka membiarkan exsel dan zhea mengabiskan waktu mereka bertemu sebelum mereka memisahkan mereka. Dan mereka baru bertindak ketika zhea sadar.
"Saya akan membawa nona ke mobil. Kalian, habisi dia. Dia sudah membodohi kita tadi, dengan berpura-pura pingsan" ucap ketua dari mereka
"tapi ketua, dia sudah pingsan"
"Hibisi saja. Tuan, pasti senang jika dia terluka bahkan kehilangan nyawanya. Karena tuan ingin memisahkan nona dengannya" ucap ketua itu sebelum pergi meninggalkan mereka.
Dengan keadaan setengah sadar dan mata terpejam, exsel mengetahui bahwa Shea di bawa oleh orang-orang marga.
__ADS_1
Ada perasaan lega di hatinya, karena yang mengambil zhea adalah orang-orang marga, yang mana bearti mereka pasti akan membawa zhea ke rumah sakit. Setelah itu, exsel benar-benar tidak sadarkan diri, karena orang-orang marga memukulnya habis-habisan.