BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 206


__ADS_3

Bab 206


Di lain tempat, Niko dan Rio baru selesai latihan balapan, di temani oleh celline.


"Liat apa sih Cell, serius amat kayaknya" ucap Niko duduk di samping celline


"Eh, nggak. Ini lagi liat intervew zhea. Dia tadi malam menang balapan" ucap celline menyembunyikan rasa sakitnya, melihat zhea memperkenalkan exsel sebagai suaminya di media.


"Oh, ya. Kok nggak ada yang kasih tahu kita sih" ucap Niko langsung mengecek hpnya untuk menonton zhea.


"Kalau gue sih, nggak heran ya sama sih zhea. Dia mah, emang ratunya balapan" sahut Rio ikutan nonton bareng Niko


"Ya, dia memang hebat" lirih Celline


"Zhea cantik, berbakat dan kaya. Pantas aja Alex mau nikah sama dia, dan nggak ada alasan juga buat Alex nggak suka sama dia kan?" Batin Celline


Rio Yang awalnya antusias menonton, tiba-tiba dia badmood setelah mendengar ucapan Rere yang mengatakan tidak mungkin untuk menikah dengan dia ataupun Niko.


"Rere kok ngomong gitu sih? Padahal, waktu itu papa bilang mau nikahin dia sama gue. Gue pikir dengan dia ke sini waktu itu, dia menyetujui pernikahan yang papa bilang. Akh, gue lupa dia kan pacaran sama dokter Adnan. Mereka mungkin sedang merencanakan pernikahan" batin Rio kecewa



Leon dan cathline, berada di depan pintu rumah exsel. Dari bandara, mereka langsung menuju rumah exsel. Leon sangat marah, karena zhea memperkenalkan exsel sebagai suaminya ke media. Yang mana dia masih berharap bisa menikahi zhea dan Zein.


Tok tok. tok


Leon mengetuk pintu rumah exsel dengan kasar.


"Sabar dulu" ucap Cathlin menenangkan


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Dimana zhea?" Ucap Leon dengan nada yang mengerikan


"Papa" ucap exsel terkejut melihat Leon


"Jangan panggil saya Dengan sebutan itu. Kamu pikir saya setuju dengan pernikahan kalian. Jangan harap! Sampai kapanpun saya nggak akan merestui hubungan kalian. Dan kamu, suatu hari akan di campakkan zhea, karena zhea pasti akan memilih Zein nantinya. Kita lihat saja nanti" ucap Leon berapi-api


Exsel terdiam, hatinya bagai teriris-iria mendengar ucapan mertuanya itu. Sebenfi itukah mertuanya padanya? Apa salahnya? Apa karena dia tidak sekaya Zein, mertuanya tidak merestui pernikahannya dan zhea.


"Ada apa ini" ucap zhea sambil mengendong el-razka


"Cathlin, ambil el-razka!"


Cathlin pun langsung mengambil alih el-razka ke gendongannya.


"Zhea, pikirkan lagi baik-baik. Ceraikan dia dan menikah Dengan Zein, atau kamu nggak akan mendapatkan warisan seperser pun dari papa" ancam Leon


"Berikan semuanya pada el-razka saya tidak peduli Dengan harta kalian tuan"


"Yang merasa bahagia atau tidaknya itu saya. Lagi pula, kenapa repot-repot memikirkan kebahagiaan saya, nggak usah peduli dengan hidup sya. Urusi saja Perusahaan dan istri tercinta anda ini. Dan satu lagi, jika saya tidak membawa el-razka ke sini, bisa jadi el-razka mati karena kelaparan atau nggak mati karena nangis"


"Zheeeee!" Bentak Leon


"Apa? Mau nampar? Sudah lama kan nggak nampar? Lagi pula yang saya omongin itu benar. Jika saja, exsel nggak ngurusin el-razka, gue nggak tahu deh gimana nasibnya el-razka di tinggal sama baby sister itu. Karena waktu itu, saya ketemu dengan el-razka di rumah sakit, yang mana el-razka nggak mau makan atau meminum susunya. Dan kalo bukan karena exsel bisa memilih susu yang sesuai dengan el-razka, el-razka mungkin udah nggak ada ataupun sekarat sekarang"


"Kauuuu...." Ucap Leon menunjuk zhea


"Apa? Anda benar-benar tidak berubah tuan marga yang terhormat. Kalian hanya memikirkan kesenangan kalian, tanpa memikirkan orang lain. Jika kalian ingin liburan, kenapa nggak bawa el-razka dan baby sisternya sekalian ikut kalian. El-razka itu masih kecil, saya hanya tidak ingin el-razka tumbuh seperti saya, dan membenci anda. Sebanyak apapun anak yang kalian punya, jika kalian hanya mengukur kebahagiaan mereka Dnegan uang dan kemewahan, maka tak satupun anak yang bakal dekat dengan kalian. Saran saya, jika tidak mampu mengurus el-razka, sebaiknya berhenti memproses membuat adik untuknya" zhea sengaja mengucapkan kata-kata yang sedikit kasar,.agar papanya tahu, di mana letak kesalahannya selama inj


Karena emosi yang sudah berada di ubun-ubun, Leon mengangkat tangannya ke udara. Tapi, sebelum tangannya mendarat di pipi zhea, exsel memegang tangan mertuanya itu.


"Maaf, pa. bukan bermaksud kurang ajar. Tapi, zhea sekarang istri saya, saya tidak mengizinkan siapapun menyakitinya walau seujung kuku"

__ADS_1


"Halahhhh nggak usah panggil saya papa. Saya bukan papa kamu" ucap Leon menepis tangan exsel


"Kamu nggak usah berlagak sok baik dan lugu dihadapan saya. Saya tahu, kamu menikahi Zhea karena bermaksud untuk mengambil alih kantor dan semua aset yang kita punya kan. Saya bisa membaca pikiran kamu. Kamu ingin cepat kaya kan? Karena kamu merasa berkerja keras selama ini sebagai dokter tak membuatku kaya. Makanya kamu memilih menikahi zhea yang sedang terdesak waktu itu. Katakan berapa uang yang kamu mau, saya bisa memberikannya. Asal ceraikan zhea dan jangan menampakkan diri di hadapan kami lagi"


"Saya memang miskin, tapi saya tidak pernah berpikir picik seperti itu. Dokter adalah profesi yang saya cita-cita kan dari kecil. Terserah kalian mau berpendapat apa. Kalian tidak perlu memberi uang sepeserpun, karena saya tidak akan menceraikan zhea. Dengan penghasilan yang sebagai seorang dokter, saya yakin bisa menyukupi semua kebutuhan zhea. Dan jikapun kurang, saya akan berusaha keras untuk menyukupinya"


"Jangan sombong kamu! Mau menyukupinya pakai apa? Dnegan menyuruh putri saya terus-menerus balapan. Begitu?"


"Stop! Balapan nggak ada sangkut pautnya dengan exsel. Balapan adalah bagian dari hidup saya, dan siapapun nggak bakalan bisa menghalangi saya buat balapan. Tujuan kalian kesini mau ngambil el-razka kan? Sekarang dia sudah ada sama kalian, jadi silahkan pergi" ucap zhea yang sudah kesal mendengar penghinaan yang di lontarkan papanya ke exsel


"Kamu dengar Zhea, jika dalam 1 bulan kamu belum juga bercerai Dnegan exsel, maka kamu nggak bakalan dapat warisan seperser pun dari papa. Pikirkan itu baik-baik" ucap Leon kemudian berlalu pergi diikuti oleh cathlin


Zhea menutup pintu, sementara exsel duduk di sofa memikirkan ucapan Leon tadi. Sungguh, dia merasa kecil dan tak pantas bersanding dengan zhea sekarang.


Zhea duduk di samping exsel, dia tahu exsel pasti kepikiran dengan ucapan papanya tadi.


"Jangan terlalu di pikirkan, omongan tuan marga tadi" ucapnya menatap lekat exsel


Exsel hanya diam, dia masih berperang dengan pemikirannya sendiri.


"Harta bukan segalanya sel. Kebahagiaan bukan di ukur dengan seberapa banyak uang yang kita miliki" ucap zhea mengenggam tangan exsel


Exsel yang merasa tangannya di genggam pun, mengenggam kembali tangan zhea Dnegan erat.


"Aku binggung Zhe"


"Kamu ingin cerai?"


Exsel menggeleng cepat "bukan aku. Tapi, aku takut kamu nantinya yang bakalan ninggalin aku. Papa kamu benar, aku nggak bisa nyukupin kebutuhan kamu. Dan jika kamu nikah sama Zein, kamu akan mendapatkan hak kamu, dan tentunya juga mendapatkan harta dari Zein nantinya"


"Aku bukan penggila harta sel. Sudahlah nggak usah di pikirkan lagi. Sebaiknya kamu mandi sekarang, habis itu istirahat. Ngejaga El-razka beberapa hari ini, cukup nguras waktu tidurmu"

__ADS_1


__ADS_2