
Bab 191
Di malam hari, zhea sedang tertidur pulas. Namun, lagi-lagi dia memimpikan kejadian yang membuatnya trauma.
Zhea terbangun, dengan nafas yang tak beraturan. Karena merasa sesak zhea keluar dari kamarnya dengan tubuh yang gemetar, karena ketakutan.
Saat berada di dapur, dia ingin mencuci wajahnya, Tanpa sengaja zhea menyenggol gelas. Tubuh zhea makin gemetaran dia pun terduduk di lantai dekat pecahan gelas.
Zhea memeluk lututnya karena ketakutan, bayang-bayang pembunuhan terus menghantui pikirannya.
Suara berisik itu berhasil membangunkan exsel.
"Suara apa itu? Jangan-jangan ada maling" ucap exsel bergegas keluar dari kamar.
Exsel mengecek ruang tamu, tidak ada siapa-siapa di sana. Exsel membuka kamar zhea, dia sangat terkejut tidak melihat zhea di sana.
"Apa dia nggak ada di rumah?" Gumam exsel dia lalu menelpon hp zhea, yang ternyata hpnya ada di atas nakas.
"Hpnya di sini, tapi orangnya nggak ada" exsel kemudian beranjak keluar dari kamar Zhea
Exsel pergi ke dapur untuk mengambil minum, dia terkejut melihat zhea di sana.
"Zhea kamu ngapain di sini"
Zhea tidak merespon apapun, tubuhnya sangat gemetar bahkan dia sulit untuk berbicara.
"Zhe, kamu kenapa, kamu baik-baik aja kan?" ucap exsel memegang ke dua bahu zhea
Zhea mengangkat kepalanya, tapi tubuhnya masih gemetaran.
"Kamu kenapa?" Exsel mengecek suhu tubuh zhea menggunakan punggung tangannya.
"Ya ampun Zhe, badan kamu panas banget. Ayo balik ke kamar"
Karena ketakutan zhea langsung memeluk exsel.
"Kamu kenapa? Kenapa tubuh kamu sangat gemetaran kayak gini" ucap exsel membalas pelukan zhea, sambil mengelus-elus punggungnya agar zhea tenang.
"Apa kamu mimpi buruk lagi?"
Zhea tidak merespon ucapan exsel dia malah memeluk exsel semakin erat.
"Udah nggak apa-apa, lagian cuma mimpi kan. Nggak usah takut, ada aku di sini. Sekarang, balik ke kamar, kamu demam tinggi ini"
"Gue nggak mau balik ke kamar itu lagi"
"Gimana kalo istirahatnya di kamar aku aja". Zhea hanya mengagguk
"Yaudah ayo kita ke kamar, awas ke injak pecahan gelasnya".
Merekapun masuk ke kamar exsel, exsel membantu zhea berbaring.
"Tunggu di sini sebentar, aku ambil kompres sama obat dulu buat kamu" saat exsel ingin melangkah pergi, zhea mengenggam tangannya.
"Pleasee, jangan tinggalin gue"
"Tunggu bentar aja, oke"
Zhea menggeleng tidak setuju.
__ADS_1
Exsel duduk di lantai, samping zhea "aku nggak bakalan ninggalin kamu, sekarang istirahat lagi ya" ucap exsel menepuk-nepuk kepala zhea.
Zhea memejamkan matanya, tapi tangannya masih terus mengenggam tangan exsel.
"Ini adalah kedua kalinya aku lihat kamu seperti ini Zhe. Sebenarnya apa yang kamu mimpiin sehingga kamu ketakutan kayak gini. Kamu benar-benar berubah ketika sedang ketakutan kayak gini, apa ini ada hubungannya dengan trauma yang kamu ceritain tadi siang?" Batin exsel.
Beberapa jam kemudian, karena kantuk yang tak bisa di tahan, akhirnya exsel tidur di lantai dan hanya kepala yang berada di kasur.
Zhea mengenggam erat tangan dan exsel karena dia kembali bermimpi buruk, sehingga exsel terbangun dari tidurnya.
"Ya ampun zhe, kamu kenapa" ucap exsel yang melihat zhea berkeringat dan sangat ketakutan.
Exsel mengambil alat pengukur suhu tubuh di kamar zhea, untuk mengukur suhu tubuh zhea.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi" gumam exsel. Dia kemudian pergi ke dapur mengambil air untuk mengompresi zhea.
******
Setelah mengompresi zhea, exsel duduk di ranjang samping zhea. Beberapa saat kemudian, zhea kembali tenang. Exsel pun tertidur dengan posisi duduk menghadap zhea.
Hari beranjak pagi, zhea terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, wajah exsel lah yang di lihat pertama kali.
Zhea merubah posisinya menjadi duduk, sapu tangan yang di gunakan exsel untuk mengompresinya terjatuh.
Zhea meletakkannya sapu tangan itu di meja. Dia melihat exsel lekat-lekat.
"Dia merawat gue tadi malam. Wajar sih dia kan dokter" batin zhea.
Zhea pun membangunkan exsel, dengan mencolek-colek tangan exsel dengan jarinya.
"Exsel"
"Exsel"
Exsel pun terbangun.
"Heum, ada apa" ucap exsel mengumpulkan nyawanya
"Ini udah pagi, lho nggak kerja?"
Bukannya menjawab exsel malah ngambil alat pengukur suhu kemudian meletakkan di ketiak zhea
"Eh, lho ngapain" ucap zhea yang kaget
"Tahan sebentar". Setelah agak lama, exsel pun melihat hasil suhu tubuh zhea.
"Baguslah, suhu tubuhmu tak setinggi tadi malam. Beristirahatlah di kamar, aku bakalan buatin kamu makanan"
"Istirahat? Bukannya mandi ya? Gue kan harus kuliah"
"Kamu masih demam, nggak usah kuliah dulu"
"Tapi kan..."
"Nurut. Selain suami aku juga dosen kamu kalo lupa"
"CK, siapa juga yang lupa"
"Udah istirahat" ucap exsel membaringkan tubuh zhea.
__ADS_1
"Jangan coba-coba beranjak dari kasur sampai aku kembali"
"CK, iya. Bawel banget sih"
Exsel kemudian beranjak ke dapur. Sebelum masak dia menghubungi Adnan.
"Hallo nan"
"Heum, ada apa lho nelpon hei pagi-pagi buta kayak gini"
"Lho dimana?"
"Baru mau otw ke rumah sakit. Kenapa?"
"Zhea sakit"
"Gue ngerti, gue bakalan gantiin ship lho ntar sore tenang aja"
"Bukan itu".
"Terus?"
"Tolong gantiin gue ngajar di kampus. Soalnya gue nggak bisa absen lagi dari kampus"
"Lah nggak bisa lah. Gue nggak punya pengalaman mengajar"
"Ayo lah nan. Bantu gue sekali ini aja, suhu tubuh Zhea benar-benar panas dari tadi malam. Gue nggak mungkin dong ninggalin dia di rumah sendirian"
"Ajak dia ke rumah sakit aja. Lagian bukannya gue nggak mau ngebantuin lho nih ya, tapi kan salah satu siswa lho itu silya. Lho tahu sendirikan? Gue nggak nyaman banget kalo ada dia"
"Tapi zhea nggak mungkin mau dia ajak ke rumah sakit"
"CK, oke deh. Gue bakalan gantiin lho. Tapi cuma hari ini doang"
"Iya-iya. Kalo zhea udah mendingan, besok lho nggak harus datang ke kampus lagi"
"Heum" Adnan kemudian mematikan sambungan telponnya. Dan memasuki mobil menuju universitas.
"Benar-benar ribet nih hidup gue, kalo sampai ketemu sama silya. Semoga aja dia nggak ngampus hari ini. CK, exsel benar-benar lho ya" ucap adnan kesal.
Karena bosan di kamar, zhea memilih duduk di ruang tamu dan menonton TV. Karena masih merasa pusing, dia berbaring di sofa Hingga tertidur.
Exsel membawakan nampan yang berisi semangkuk sup ayam dan segelas susu ke kamarnya.
Langkahnya terhenti ketika melihat zhea tidur di sofa. Dia meletakkannya nampan ke meja dan duduk di dekat zhea.
Exsel mengecek suhu tubuh zhea dnegan punggung tangannya.
"Masih panas" gumamnya
""Zhe...zhea. bangun dulu"
Zhea pun terbangun dan segera duduk.
"Aku kan udah bilang, istirahat di kamar"
"Gue bosan di kamar"
"Yaudah nih, habisin dulu makanannya. Terus minum obatnya"
__ADS_1
Zhea hanya menurut, dia mulai memakan sup ayam itu.
"Tunggu bentar, aku ambilin obatnya di kamar mama dulu" zhea menganguk. Exsel pun pergi mengambil obat