BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 113


__ADS_3

Bab 113


"Kak, kakak kok nggak bilang sama aku kalo kakak ke rumah dokter exsel waktu itu" ucap Tasya yang sedari tadi hanya diam


"Diam dem sya, ini bukan urusan anak kecil"


"Usia kita cuma beda 1 tahun kak, jujur aja gue cukup terkejut dan nggak nyangka sama apa yang gue lihat dan dengar hari ini"


"Maksud kamu apa?"


"Aku tahu kak celline sayang banget sama dokter exsel, tapi dia udah nikah kak. Lepasin dia, biarkan dia bahagia sama kak zhea"


"Kamu nggak usah menggurui kakak deh. Kamu itu juga sama kayak kakak. Bahkan, kamu itu di tolak mentah-mentah Sama Rio, yang mana Rio menyukai Rere dan nggak sedikitpun mempedulikan perasaan kamu"


"Maka dari itu kak, aku mencoba ngelupain dia. Karena kalo makin di paksa, maka rasanya akan semakin sakit kak. Aku tahu melupakan itu nggak gampang, dan bahkan aku sampai sekarang nggak bisa melupakan kak Rio. Tapi kak, cinta itu nggak harus memiliki, jika dia bahagia bersama orang lain biar kan saja, dan jangan rusak kebahagiaannya dengan kehadiran kita"


"Udah deh Sya, nggak usah sok menggurui kakak kayak gitu. Kamu lupa, waktu itu kamu teriak-teriak nanggis karena di tolak oleh Rio. Lupa kamu?"


"Aku nggak akan pernah lupa kak, karena apa? Karena dari situ aku bisa lihat apa artinya aku di kehidupan kak Rio. Makanya aku berusaha melupakannya walaupun rasanya nggak bisa"


"Lho yang nggak punya hubungan aja sulit ngelupain Rio. Apalagi gue yang berhubungan 3 tahun dan sudah mempersiapkan rencana pernikahan. Jangan samain gue sama lho, karena cerita kita berbeda. Cinta gue terbalaskan, gue hanya perlu memperjuangkannya sekarang. Sedangkan lho, cinta lho bertepuk sebelah tangan, mau berjuang pun lho nggak bisa? Karena apa? Karena lho udah yakin semuanya bakal sia-sia. Jadi stop! Ngurusin yang bukan urusan lho" ucap celline emosi dan pergi meninggalkan Tasya seorang diri di sana.


Mata Tasya berkaca-kaca menahan tanggis, kerena ucapan Celline yang menusuk hatinya.


"Gue nggak nyangka, ternyata kayak gini sifat aslinya kak celline" ucapnya kemudian beranjak duduk di kursi yang ada di taman rumah sakit


Adnan mendengar semua percakapan Celline dan Tasya. Karena saat dia baru sampai dari menggantikan tugas exsel di kampus selama e hari ini, dia sedikit terlambat datang ke rumah sakit karena ada rapat para dosen sehabis mengajar. Saat Adnan keluar dari mobilz dia melihat keduanya sedang beradu argument. Awalnya adnan ingin meleraikan mereka karena mereka membuat keributan di area rumah sakit. Namun, setelah mendengar lebih jelas percakapan mereka, dia mengurungkan niatnya dan memilih menyimak pembicaraan mereka.


"Boleh ikut duduk?" Ucap Adnan berdiri di samping Tasya


Tasya mendongakkan kepalanya melihat Adnan, kemudian hanya mengangguk.


Adnan tersenyum, kemudian duduk di samping Tasya.


"Ngapain duduk di sini? Apa kamu sakit?" Tanya Adnan berbasa basi


" Abis, Jenggukin teman."


Adnan mengangguk kemudian berucap "apa temannya bernama zhea?"


Tasya menatap Adnan kemudian berucap "dari mana kamu tahu?"


"Hanya menebak. Tadi, saya nggak sengaja lihat kamu bertengkar sama celline. Makanya saya menebak jika kalian abis Jenggukin zhea"

__ADS_1


"Kamu kenal kak celline"


"Tentu saja, Celline itu mantan sahabat saya, exsel Alexander. Bukannya kita udah bertemu ya waktu di AS" ucap adna tersenyum manis


"Jadi kamu, eh maksud aku kakak temannya dokter exsel?. kita pernah bertemu di AS, kapan?"


"Kakak?" Ucap Adnan memastikan


"I-iya kakak. Kenapa nggak boleh ya di panggil kakak?"


"Boleh-boleh aja kok"


"Udah kebiasaan soalnya manggil yang lebih tua kakak, Biar sopan aja. Kakak bilang kita pernah ketemu di AS, kok gue nggak ingat ya "


"Di sirkuit balapan. Saya ke sana juga sama exsel waktu itu" ucap Adnan menjulurkan tangannya


"Oh iya-iya gue baru ingat, kok gue bisa lupa ya"


"Nggak apa-apa, kita juga nggak belum berkenalan waktu itu. Kenalin nama saya adnan" ucap Adnan menjulurkan tangannya


"Tasya" menjabat tangan Adnan


"Kak Adnan sendiri ngapain di sini? Mau Jenggukin kak zhea juga?"


"Oh iya-iya. Ingatan gue buruk banget deh. Kan waktu di AS jelas-jelas kakak pakai jas ke dokteran"


Adnan terkekeh melihat wajah Tasya seperti orang linglung yang lupa kemudian teringat kembali.


"Kakak ngetawain apa? Emang ada yang lucu ya?"


Adnan mengentikan tawanya kemudian berucap "nggak kok. Oh iya, kamu kenapa bertengkar sama celline tadi?"


"Nggak apa-apa cuma kecewa aja sama sikap kak celline. Dan nggak nyangka dia bisa sejahat gitu"


"Nggak boleh bertengkar sama sodara sendiri"


"Aku cuma ngingetin dia, kalo yang dia lakuin itu salah. Sebagai adik aku nggak mau dia bertambah sakit hati nantinya. Tapi dia nalah marah-marah dan ngomong nyakitin hati banget"


"Di maklumi aja, namanya juga orang lagi sakit hati"


"Sikapnya dia itu udah nggak bisa di maklumi lagi kak"


"Yang sabar ya, namanya juga manusia. Kalo gitu lebih baik kamu balik, udah sore ini"

__ADS_1


"Males banget balik, apalagi ketemu sama kak celline"


"Kalo kamu nggak balik, mau sampai kapan kamu duduk di sini. Mana banyak nyamuk lagi"


"Kakak ngusir aku nih ceritanya"


"Ya nggak gitu juga. Kamu tuh cewek, nggak baik pulang malam-malam"


"Tau. Tapi aku juga nggak tahu kalo pulang dari sini mau kemana?. Kali balik ke rumah kak celline yang ada makan hati ntar dengarin omongannya dia. Jadi Nyesal aku ikut dia ke sini, mana rumah lama gue di Bandung lagi"


"Terus kamu mau apa sekarang?"


"Balik ke AS"


"ya nggak sekarang juga dong. emang kamu mau ninggalin Celline sendirian di sini"


"Kenapa nggak? Dia aja tega nyakitin perasaan aku tanpa mikir dulu. Kenapa aku harus mikirin dia?"


"Yaudah deh, 5 menit lagi waktunya saya kerja. Kalo kamu nggak mau pulang, kamu bisa tunggu di ruangan saya"


"Emang boleh?"


"Kalo nggak boleh saya nggak bakalan nawarin"


"Makasih" ucap Tasya tersenyum manis mengikuti langkah adnan


_____________________


Pukul 02:05 dini hari, exsel menjaga zhea. Sudah 4 malam dari malam kecelakaan zhea, exsel tak tidur barang sedikitpun. Jika di pagi hari dia bekerja bolak balik dari kamar zhea ke ruangan pasien yang lainnya, mengerjakan tugasnya. Tapi, setelah malam tiba, tak sedetikpun dia meninggalkan zhea. Jika dia harus mengecek keadaan pasien yang lain, maka dia akan menyuruh seorang suster menemani zhea. Dia tidak akan membiarkan zhea sendirian di ruangannya.


Rasa kantuk yang sedari tadi dia tahan, mengalahkan keinginannya untuk tetap terjaga. Exsel tertidur dengan satu tangannya menggenggam erat tangan zhea.


Perlahan-lahan zhea membuka matanya, penglihatannya buram, dia menutup kembali matanya dan barulah dia bisa melihat dengan jelas.


"Rumah sakit" batinnya


Zhea merasakan kepalanya sangat sakit. Dia kembali memejamkan matanya menahan rasa sakit itu. Zhea menarik tangan, namun terasa berat karena exsel menggenggamnya.


Zhea melihat ke arah exsel, dia pun teringat kejadian dimana dia bertengkar dgn Celline sampai berakhir pada kecelakaan.


Zhea menarik tangannya kasar dari genggaman exsel, sehingga pergerakkan membangunkan exsel. Kepala zhea terasa makin sakit setelah mengingat kejadian itu.


"Zhea, kamu sudah sadar" ucap exsel, langsung memeriksa keadaan zhea.

__ADS_1


Zhea tak menjawab apapun, dia memegang kepalanya yang terasa makin sakit.


__ADS_2