
Bab 154
Di saat pelajaran berlangsung. Adnan datang menemui exsel membawa paper bag mini di tangannya.
"Nih pesanan lho. Untung gue masih di perjalanan tadi, jadi nggak bolak balik ke rumah sakit" ucap Adnan meletakkan paper bag mini itu di meja.
"Makasih, lho emang bisa di andelin"
"Kak Adnan" Panggil silya ketika tidak asing mendengar suara Adnan.
Adnan yang terkejut melihat silya pun hanya tersenyum masam sebagai respon.
"Kakak ngapain di sini" ucap silya langsung mengandeng tangan Adnan
"Sil, ngapain sih. Lepasin nggak, nggak malu apa di lihatin teman-teman kamu" ucap Adnan menjauhkan diri dari silya
"Kakak kok gitu sih. Ngapain coba aku malu" sebal silya
"Lho kok nggak ngomong kalo dia kuliah di sini" bisik Adnan ke exsel
"Dia juga baru masuk hari ini"
"Kalo gue tahu dia di sini, nggak mau gue anterin barang lho"
"Kok lho gitu sih"
__ADS_1
"Kak Adnan!" Manja silya sambil memegang tangan Adnan.
Adnan benar-benar nggak nyaman dengan sikap silya.
"Udah ya, lepas. Gue harus pergi sekarang" ucap Adnan, ingin pergi namun di hadang oleh silya.
"Kakak mau pergi kemana?"
"Ya kerjalah!"
Rere yang geram melihat keganjenan silya, datang dan melepaskan tangan silya dari Adnan.
"Baby, kamu ke sini kok nggak ngasih tahu aku sih" ucap Rere berdiri di hadapan Adnan dan mengenggam kedua tangannya.
"Ihh apaan sih lho, gue duluan yang ngomong sama kak Adnan!" Ucap silya menepuk tangan Rere agar melepaskan tangan adnan
"Lho itu hanya mantan! Jadi harus tahu diri dan posisi. Nggak usah keganjenan sama pacar orang" sinis Rere
"Lho re, jadi dia pacar lho? Bukannya selama ini lho dekat banget sama Rio ya. Apa karena Rio nggak ada lho jadiin kakak itu sebagai pelarian" ujar Debby
"Gue dan Niko itu sahabatan dari kecil. Gue rasa seluruh universitas ini juga tahu tentang itu. Dan dokter Adnan ini, gue udah lama berhubungan dengan dia"
"Kalo kalian udah lama pacaran, kok dia nggak pernah nganterin ataupun ngejemput lho si re"
"Pacar gue ini sibuk, bukannya pengangguran kayak lho! Lagi pula gue sengaja nggak mau ngepublish hubungan gue, karena gue tahu pasti banyak banget cewek ganjen yang mau ngedekatin dia" ucap Rere melirik sinis ke arah silya.
__ADS_1
"Siapa yang lho bilang ganjen hah!" Bentak silya
"Lho kok lho marah sih. Apa jangan-jangan lho ngerasa ya. Padahal, gue nggak ngomongin lho" ucap Rere tersenyum sinis
"Sudah-sudah cukup! Silya ini masih jam pelajaran, kembali ke tempat dudukmu dan jangan membuat kesan buruk di hari pertamamu" ucap exsel
"Ihhh" ucap silya menghentakkan kakinya, dan tanpa sengaja menyenggol paper bag Yang adnan letakkan di tepi meja sehingga paper bag itu terjatuh. Dan cincin satu cincin itu keluar dari tempatnya dan Berhenti telat di kaki zhea, karena zhea duduk tepat di depan dan berhadapan dengan meja exsel.
Exsel langsung mengambil paper bag itu, sementara zhea mengambil cincin yang di dekatnya.
"Pas sekali, cincin itu berguling pada pemiliknya" ucap exsel yang melihat zhea memperlihatkan cincin itu.
Zhea menatap exsel binggung, dia juga melihat namanya dan nama exsel
diingkaran dalam cincin itu. Dan inisial nama mereka di bagian depannya.
Exsel mengambil cincin itu dari tangan zhea, kemudian memasangkannya di jari manis zhea.
"Jadi, isi paper bag itu cincin?" Gumam rere
"Heum, cincin pernikahan mereka" bisik Adnan
"Ciee yang dapet cincin baru dari suaminya" ucap salah satu mahasiswi.
"Ini bukan cincin baru. Ini cincin pernikahan yang kebetulan baru selesai di buat hari ini" jelas exsel, lalu memasangkan satu cincin lainnya ke jari manisnya.
__ADS_1