BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 224


__ADS_3

Bab 224


Di sore hari, Leon pulang dari bekerja dan langsung ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan zhea?" Ucapnya yang melihat zhea memejamkan matanya


"Demamnya masih sangat tinggi" ucap Cathlin


Leon langsung mendekati zhea dan meletakkan punggung tangannya ke dahi zhea.


"Panasnya tidak turun-turun dari kemarin. Dimana dokter viola? Kenapa bisa zhea masih demam sekarang"


"Namanya juga sakit, nggak mungkin bisa langsung sembuh. Dokter viola sudah berusah keras, tapi memang tubuh zhea aja yang sepertinya menolak untuk membaik sekarang"


"Bagaimana Dnegan hasil tes zhea? Apa sudah keluar"


Zhea membuka matanya, karena memang sedari tadi dia tidak tidur. Hanya memejamkan matanya, karena kepalanya pusing, memikirkan keadaan exsel dan pernikahan mereka.


Zhea menatap tajam ke arah cathlin, cathlin yang melihatnya pun menelan Salivanya


"Cathlin kenapa malah melamun?"


"Eh, apa mas? Mas ngomong apa tadi" ucap Cathlin tersadar


"Gimana hasil tes kesehatan zhea"


"Semuanya baik kok mas. Dokter viola bilang kaya gitu tadi" bohong cathlin


"Jika memang tidak ada yang harus di khawatirkan, kenapa Shea masih demam kayak gini"


"Untuk itu mas bisa tanyakan langsung pada dokter viola" ucap Cathlin yang sudah kehabisan kata-kata. Dia benar-benar gugup jika sedang berbohong


Leon hanya mengangguk, saat dia ingin melangkah pergi zhea menggenggam tangannya.


"Tunggu, saya ingin bicara" ucap zhea berusaha untuk duduk.


Dengan cepat cathlin membantunya begitupun dengan marga.


"Apa yang ingin kamu bicarakan zhea?"


"Dimana exsel?"


"Papa nggak tahu zhea"


"Jangan bohong!".


"Untuk apa papa berbohong. Sudahlah, jika kau hanya ingin mengajak papa berdebat, lebih baik papa pergi saja dari sini" ucap Leon melangkah pergi


"Tunggu" teriak zhea, yang seketika membuat Leon berhenti


"Sudahlah zhea, jika kamu hanya ingin menanyakan tentang dokter itu papa benar-benar nggak tahu dia berada dimana. Karena bukan papa yang harus menanganinya"


"Oke, saya tanya sama anda tuan marga. Anda tidak menyakitinya kan? Anda tidak menyekapnya di suatu ruangan kan?"


"Untuk apa papa melakukan itu. Yang papa inginkan itu kamu bukan dia"

__ADS_1


"Anda tidak berbohong?"


"Untuk apa papa berbohong mengenai hal ini"


"Jangan menyakitinya, ataupun menyentuhnya sedikitpun!"


"Jika kamu nurut sama papa, nggak ada alasan buat papa nyelakain dia"


"Saya setuju untuk bercerita dengannya, asalkan kalian jangan mengganggu kehidupannya lagi"


"Kau serius zhea?" Ucap Leon sangat senang, bahkan tidak menyangka zhea bakal setuju dengan sangat muda untuk bercerai Dengan exsel


"Apa saya sedang bercanda sekarang?"


"Baiklah, itu pilihan yang bagus zhea"


"Ingatlah, jangan menyentuhnya sedikitpun"


"Papa berjanji. Lagi pula mggaka da alsan buat papa untuk mencelakainya"


Zhea menganguk lalu berucap "kembalikan uang yang exsel berikan ke anda, dan menjauhkan darinya jika dia berada di dekat anda"



"Baiklah, itu hal sepele. Lagu pula, tidak ada juga yang ingin dekat dengannya. Asalkan kamu juga harus menjauh darinya"



"Aku akan tetap bertemu dengannya, untuk mengurus perceraian kami"


"Jika begitu, batalkan saja perjanjian kita"


"Baiklah-baiklah. Kau boleh bertemu dengannya, tapi setelah kalian resmi bercerai kamu pun harus menjauh darinya"


Zhea mengangguk


"Aku akan menemuinya sekarang"


"Nggak sekarang zhea!"


"Kenapa? Bukannya lebih cepat proses perceraiannya maka alan lebih baik"


"Jika kau ingin bercerai, maka seharusnya aku kau ke pengadilan. Bukan betemu dengannya"


"Aku ingin berbicara baik-baik dan berpisah secara baik-baik dengannya. Agar mempermudah persidangan"


"Jangan membodohi ku zhea! Kau pasti ingin mengajaknya kabur"


"Jika tidak percaya, anda boleh mengawal saya menemuinya"


"Baiklah, orang-orangku akan mengawalmu pergi menemuinya. Tapi, apa kau yakin bisa bertemu dan berbicara padanya?"


"Kenapa? Anda menyakitinya?"


"Bukan papa, tapi orang-orang itu!"

__ADS_1


Zhea mengepalkan tangannya, mendengar ucapan Leon


_______________________


Zhea masuk ke rumah sakit, Dengan banyak pegawal. Setengah dari mereka menunggu di depan rumah sakit, di belakang rumah sakit dan setengahnya lagi ikut zhea masuk ke rumah sakit.



Zhea mengenakan jaket coklat, celana panjang dan kaca mata hitam di matanya. Siapapun yang melihatnya, tidak akan mengira jika dia sedang sakit parah.


Para satpam merasa heran, namun ketika melihat zhea mereka membiarkan orang-orang itu masuk. Sambil memberi hormat ke zhea.


Zhea langsung menuju ruangan exsel, karena dia tidak tahu exsel di pukul hingga di rawat.


Zhea masuk ke ruangan exsel, namun hanya ada seorang susuter di sana


"Sedang apa anda di sini?" Ucap zhea


"Nona zhea? Saya ke sini ingin mengambil beberapa obat" ucap suster itu


"Dimana dokter exsel?"


"Lah,. bukannya dokter exsel sejak kemarin di rawat nona?"


"Di ruangan berapa dia di rawat"


"202, nona"


Zhea langsung mecari ruangan exsel. Sementara suster itu hanya kebingungan mengetahui zhea tidak tahu exsel sednag di rawat. Sedangkan zhea adalah istrinya.


"Ah, sudahlah tidak usah di pikirkan lagi" ucap suster itu


Zhea sampai di depan ruangan exsel. Yang mana di sana ada Celline, Tasya, Tiffany dan silya.



"Zhea, dari mana aja lho? Alex sakit baru datang sekarang? Kalo nggak bisa jadi istrinya mendingan mundur deh" ucap celline


"Tau tuh! Suami sakit malah keluyuran nggak jelas" sahut Tiffany. Yang sebenarnya dia gugup melihat zhea tapi dia mencoba menutupi ketakutannya itu.


Zhea memegang handal pintu, namun Celline menahan tangannya.


"Enak aja mau main langsung masuk. Kita aja yang dari kemarin nggak di izinin masuk, lho yang baru datang malah main masuk aja"


"Itu Karena kehadiran kalian nggak penting di sini!" Ucap zhea sinis


"Lho!" Tunjuk Celline


"Tahan mereka jangan sampai masuk!" Ucap zhea pada para pengawalnya. Kemudian masuk ke ruangan exsel.



"Zheaaa keluar nggak lho" ucap celline yang nekad, namun tubuhnya di hadang oleh pengawal-pengawal zhea.


"Diam, atau kami lempar anda keluar!" Bentak salah satu pengawal zhea yang terganggu dengan celline

__ADS_1


Celline pun langsung bungkam dan kembali duduk ke tempatnya. Sementara Tiffany tersenyum remeh ke arah Celline, yang membuat Celline semakin kesal.


__ADS_2