
Satu bulan sudah dimana Siska memberi kabar atas kehamilan nya, kini Melati dengan Patra mulai ikut Program hamil di mana tempat yang di sarankan oleh Siska dan Ruddy, kini pasangan yang tak lagi muda itu benar benar ingin memiliki anak, karena anak dan menantu mereka sudah pindah ke Apartemen Rian
Meninggalkan Melati dan Patra yang menunggu untuk giliran mereka berdua, di tempat lain, di gedung lain Celina tenga menatap guru yang ada di depan nya yang menghalangi jalan Celina untuk keluar kelas besama dengan Putri
"Ada apa yah pak???"
"Celina boleh saya berbicara dengan kamu???"
"Boleh Pak"
"Mari ikut saya ke ruangan saya"
"Baik pak!! Put Ayo"
"Kamu sendiri saja Celin"
"Tapi Pak??"
"Enggak apa apa kak"
"Kamu tunggu di sini yah jangan tinggalkan aku"
"Okay"
Celina mengikuti kemana Pak Yogi mengajak nya keruangan nya, Celina dengan sangat patuh dia mengikuti Pak Yogi guru muda yang baru berusia 25 tahun, Pak Yogi tampan, tinggi dan memiliki badan Atletis.
Celina berjalan berdua dengan pak Yogi tidak terlihat seperti murid dan guru, seperti berjalan dengan pasangan kekasih. Banyak murid yang menilai kalau Celina lebih cocok dengan Pak Yogi dari pada dengan Rian dulu.
Celina kini sudah kelas dua belas sedangkan Rian sudah kuliah di salah satu kampus ternama di Jakarta, apa lagi masuk ke kampus tidak muda, banyak tes yang harus dilalui. Rian dan kedua teman nya tetap bersama sampai masuk kampus yang sama, beda nya kini dia memilik satu teman lagi kenal di kampus sama-sama Mahasiswa baru.
Celina masuk ke dalam ruang pak Yogi, pak Yogi menyuruh Celina duduk di sofa yang ada di ruangan nya. "Ada apa pak??"
"Apa saya boleh tanya pribadi???"
"Boleh saja pak!! Tapi untuk apa pak???"
"Hanya ingin tahu saja"
"Apa???"
"Apa kamu punya kekasih???"
"Tidak!! Tapi saya sudah tunangan"
__ADS_1
"Ghemm, Siapa tunangan kamu???"
"Anak donatur di sekolah ini"
"Apa saya boleh tahu???"
"Tidak"
"Baik lah kalau begitu, apa saya boleh meminta nomor ponsel kamu???"
"Boleh"
"Berapa"
085××××××××××
Setelah Celina memberikan nomor ponsel Rian kepada Pak Yogi dia keluar dari dalam ruangan pak Yogi, Celina paham apa maksud pak Yogi kepada nya, dan Celina enggak mau kalau ada ke salah pahaman antara dirinya dengan Rian sang suami.
Begitupun dengan Rian yang juga ada yang menyukai nya di kampus nya, perempuan cantik, bermata Sipit, Dia menyukai Rian dan dia selalu mengikuti kemana saja Rian pergi, dan Rian sendiri tidak melarang Zahra untuk mengikuti kemana saja dia pergi.
Menjadikan Rian dan Zahra terlihat seperti sepasang kekasih dan banyak yang menduga kalau Rian dan Zahra memilik hubungan khusus sehingga dimana pun Rian disitu ada Zahra.
Seperi saat ini Rian ada di perpustakaan bersama tiga teman nya dia juga mengikuti Rian bersama dengan Bella dan juga Saskia kedua antek Zahra, Mereka bertiga di kenal dengan geng Beauty.
Mereka yang memang terbilang cantik cantik tampa make up tebal yang mereka gunakan, mereka juga terkenal sangat sombong dan suka semena mena kepada orang lain, banyak yang tak suka kalau Rian dan teman teman nya dekat dengan Geng Beauty.
Rian tidak menyahut tapi dia mengetik di ponsel nya agar, Irwan atau Bastian yang memesankan nya, Rian enggak mau kalau Zahra mengikuti apa yang Rian makan sangat membosankan.
"Rian kamu kok diam saja sih???"
"Sayang"
Rian langsung menoleh ke arah Zahra yang sedang menatap nya dengan senyum di bibir nya
. "Elo jangan panggil gue sayang, karena gue enggak suka"
"Tapi aku suka"
"Awas aja elo berani sekali lagi manggil gue Sebutan itu"
"Kenapa emang nya sih sayang" Zahra tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh Rian untuk tidak memanggil nya sayang.
Rian yang geram dengan Zahra yang, memanggil nya sayang, Rian mendorong Zahra sampai dia terjatuh di atas lantai, dua teman nya terkejut lalu mereka berdua membantu Zahra bangun dari lantai.
__ADS_1
"Rian kamu apa-apaan sih"
"Elo yang apa-apaan, sampai elo berani manggil gue kayak gitu gue enggak segan segan buat elo menderita di kampus ini!! Elo enggak kenal siapa gue jadi jangan sok sama gue"
"Rian"
Rian dan ketiga teman nya meninggalkan Kantin dengan rasa geram yang menyelimuti empat pria tampan yang kini sudah masuk ke dalam kelas mereka, karena kelas akan segera di mulai.
"Ian"
"Hemm, kenapa elo enggak usir tuh anak buat jauhin elo sejak lama kenapa baru???"
"Karena gue perna lihat dia bully salah satu mahasiswi yang perna gue bantu buat bawa buku buku yang banyak buat di masukan gudang belakang"
"Elo serius, dan alasan elo buat enggak ngusir dia agar enggak ada anak lain yang kena bully gitu???"
"Hemm, dan entah sampai kapan"
Bastian dan Irwan memandang Rian dengan pandangan yang sulit di artikan, lalu dia menatap Yuda yang juga menatap Rian dengan bingung. keheningan melanda mereka berempat.
Setelah cukup lama mereka dalam mode hening ponsel Rian berbunyi memecahkan keheningan yang terjadi di antar mereka berempat. Rian melihat ponsel nya yang tertera nama "My love"
Rian mengangkat telpon ponsel nya dengan perasan senang karena istrinya mengingat dirinya, "Hello Sayang kenapa???"
Yuda menatap Irwan dan Bastian bergantian, seolah Yuda bertanya siapa yang menghubungi Rian, apa lagi nada suara Rian menjadi sangat hangat dan lembut.
"Dia tunangan nya Rian"
"Emm pantes manis banget ini anak"
Rian tidak menghiraukan teman teman nya yang berceloteh di samping nya, dia lebih memilih fokus dengan cerita Celina yang ada di seberang telpon yang menceritakan apa yang terjadi di jam istirahat, Rian merasa sangat geram mendengar apa yang di ceritakan Celina, tentu saja Rian tidak akan bisa marah dengan Celina.
Setelah Celina selesai menceritakan apa yang terjadi Celina menutup sambungan telpon nya dengan sang suami, dan Celina juga memberi tahu Rian kalau nomor yang dia berikan bukan nomor nya melainkan nomor Rian.
Rian memasukan ponsel nya kedalam tas nya, tapi raut wajah Rian berubah tidak sama dengan saat mengangkat telpon dari Celina, sedangkan Celina sendiri kini tenga melanjutkan makan nya dengan sangat lahap tanpa menghiraukan sekitar.
"Kenapa elo??"
"Dia ada yang ganggu di sekolah mana guru pula"
"Guru, sekolah???"
"Iyah jadi tunangan Rian masih kelas dua belas"
__ADS_1
"hemmm" Yuda dengan mengangguk anggukan kepala nya pertanda dia mengerti apa yang di katakan oleh Bastian.
Mereka berempat menghentikan obrolan mereka karena dosen sudah datang ke dalam kelas mereka, dan siap untuk mengajar.