
Bab 231
Cathlin mengambil foto surat cerai itu, kemudian merobek-robek surat itu
"Kau..."
"Permasalahannya selesai"
"Lho gila!. Lho ngerobek surat itu, sama dengan memperkeruh keadaan" Ucap zhea
"Tenang dan dengarkan aku dulu Zhe"
"Keluar!" Ucap zhea menarik paksa Cathlin agar keluar dari kamarnya.
"Dengarkan aku Zhe, kamu bisa memberikan foto ini ke papamu dan bilang kalo surat itu sudah di kirimkan kembali ke pengadilan. Dengan begitu, dia akan mempercayai kalo kalian sudah bercerai . Dan minta padanya untuk tidak ikut campur dalam urusan perceraianmu. Biarkan mereka menganggap kalian sudah bercerai, tapi sebenarnya perceraian itu tidka pernah terjadi. Dokter exsel juga tidak pernah menalakmu kan?"
Zhea terdiam mendengar ucapan Cathlin
"Tapi exsel sudah menandatangani surat itu"
" Perceraian kalian tidak akan pernah terjadi, karena tidak akan ada proses selanjutnya karena surat itu sudah aku hancurkan"
Zhea merosot ke lantai, tangisnya kembali pecah.
"Hidup gue udah hancur dari dulu, tapi kenapa kejadian kali ini seperti mematikan jiwa gue berkali-kali lipat. Sahabat-sahabat gue pergi ninggalin gue sendirian di sini, exsel sudah nggak mau lagi mempertahankan pernikahan kami" uaco zhea lirih penuh luka
Cathlin memeluk zhea air matanya pun menetes mendengar ucapan zhea.
"Kamu sudah menderita selama ini Zhe, bertahanlah sebentar lagi. Kamu pasti akan bahagia" ucap Cathlin
Zhea menggeleng. Kemudian berucap "nggak ada kebahagiaan. Hanya kematian yang akan datang"
__________
Sementara itu, di bagian lain negara. Niko, Rere,Rio dan Tasya baru Sampai di Bandara.
"Eh, sya. celline, mana? Nggak kuliah tu orang" ucap Rere
"Mana aku tahu kak" ucap Tasya
"Lah, kok bisa nggak tahu sih. Kan dia sepupu lho"
"Heum. Tapi, aku ke sini cuma beberapa hari doang kok kak. Aku bakal pindah kuliah ke Jakarta"
"Why?" Ucap Rio
"Lebih nyaman aja di sana. Apalagi ada kak Adnan yang bakal bimbing aku nanti"
"Wait, wait, wait. Adnan itu cuma dosen pengganti dokter exsel sementara" ucap Rere
"Nggak kak, kak Adnan udah resmi jadi dosen di sana. Karena dokter exsel ngundurin diri"
"Ngundurin diri?" Ucap Niko
"Heum"
Rere, Rio dan Niko saling berpandangan. Mereka berpikir ini pasti ada sangkut pautnya sama masalah pernikahan zhea dan exsel
"Aku duluan ya kak, mau cari kos-kosan dulu soalnya" ucap Tasya
"Kamu kan ngekos sama celline. Kok nyari kos-kosan lagi" ucap rere
"Ya gimana ya ngomongnya"
"Lagi bertengkar?" Ucap Rio
"Heum"
__ADS_1
"Kalian kan sodara, nggak boleh kayak gitulah" ucap niko
"Kalo nggak di hargai ya pergi dong kak"
"Kalo gitu numpang di kos-kosan Niko sama Rio aja, cuma beberapa hari doang kan?" Ucap Rere
"He, nggak deh kak"
"Nggak apa-apa Tasya, numpang aja di kos-kosan kita. Hemat uang juga kan? Dari pada ngekos sendirian, bahaya lho" Ucap Niko
"Benar tuh. Rere juga ada teman nantinya" sahut rio
"Apa kak Rere nggak keberatan?"
"Kan gue yang ngajak duluan, ngapain harus keberatan coba"
"I-iya juga" ucap Tasya ragu
"Gimana mau?" Tanya Rere
Tasya menganguk, dia sangat canggung untuk tinggal bersama Rio. Walau bagaimanapun sedikit banyaknya dia masih memiliki perasaan pada rio. Tapi, karena ketiganya memaksa dan dia juga nggak ada pilihan lain, terpaksa Tasya mengiyakan.
_______________
2 Minggu berlalu, Rere dan Tasya kembali ke Jakarta. Keduanya menempati kos-kosan Niko di sana.
Dengan langkah malas Rere masuk ke kelas.
"Eh, ngapain lho balik? Bukannya waktu itu ada yang bilang lho pindah kampus ya? Kenapa nggak di terima di sana makanya balik lagi ke sini" sinis silya
"Hellooooo..!! gue kesana karena ada sahabat-sahabat gue . Lagian siapa juga yang bilang gue pindah kampus, kenapa? Merasa tersaingi lho karena ada gue di sini" ucap rere tak kalah sinis
"Gue kalah saing sama lho? Ya nggak mungkin lah"
Rere hanya mengangguk
"Zhea sudha hampir satu bulan ini tidak masuk. Tolong berikan surat panggilan ini padanya " ucap Adnan meletakkan surat itu di atas meja
Rere
Lagi-lagi Rere hanya mengangguk.dia melihat ke meja sebelahnya yaitu meja zhea yang kosong. "Jadi, selama ini lho juga nggak ngampus Zhe" batinnya
"Eh, sih zhea kemana re? Udah mau 1 bulan tuh orang nggak keliatan" ucap deby
"Kepo lho!" Ketus Rere
"Dokter exsel juga resign dari kampus, apa mereka berdua lagi bertengkar" ucap deby
"Bentar lagi sih Shea pasti di depak dari kampus. Bokapnya udah nyerah ngurusin dia, kak exsel juga nggak ada lagi di sini. Nggak bakalan ada yang bakal bantu dia sekarang, benar nggak" ucap Tiffany
"Benar tuh"
"Berhenti bicara, ini kelas bukan tempat bergosip" tegas Adnan
Sementara itu, dimansion marga. Keadaan zhea makin memburuk, dia bahkan tidak punya tenaga untuk berdiri. Hanya cathlin yang selalu ada untuk merawatnya.
"Nona zhea, keadaan anda makin memburuk. Sebaiknya kita kasih tahu tuan tentang penyakit anda, biar anda bisa di obati dan sembuh" ucap dokter viola
"Iya zhea, lebih baik kita kasih tahu mas soal ini. Agar kamu nggak kesakitan lagi. Dia pasti bakal cari dokter terbaik agar kamu bisa sembuh" sahut cathlin
"Gue nggak mau. Dan jangan coba-coba untuk memberitahunya" ucap zhea lemah
"Baiklah nona dan nyonya, saya masih ada pekerjaan di rumah sakit. Jika ada apa-apa segera hubungi saya"
Cathlin hanya mengangguk, dokter viola pun pergi.
__ADS_1
Zhea melepaskan infus di tangannya, karena tidak ingin Leon curiga dengan keadaannya.
"Zhea jangan di lepas" cegah cathlin
"Ini harus di lepas, gue nggak mau nanti tuan marga datang liat gue di infus yang ada dia bakal curiga nantinya"
"Tapi, kondisi kamu lemah zhe kamu butuh itu"
Zhea tidak mengindahkan ucapan cathlin, dia tetap melepaskan infus itu dari tangannya. Dia melempar botol infus itu ke bawah ranjang.
Karena tubuhnya lemah, zhea terjatuh ke lantai.
"Zheaaa" ucap lara yang merupakan ibu kandung zhea. Lara mendorong cathlin yang ingin membantu zhea. Namun saat dia ingin menyentuh zhea, zhea menepis tangannya.
"Jangan sentuh saya!" Ucap zhea
"Kamu kenapa zhea, kenapa nggak ada yang memberitahuku tentang kondisi zhea" ucap lara emosi ke cathlin
"Keluar!" Teriak zhea
"Zhea kamu ngusir mama"
"Mama anda bilang? Kemana aja anda selama ini hah! Keluar saya bilang" ucap zhea penuh penekanan
"Apa ini yang mereka ajarkan ke kamu selama ini zhea? Nggak sopan sama orang yang sudah ngelahirin kamu"
"Tidak usah bawa-bawa mereka. Satu yang pasti, mereka jauh lebih baik dari pada Anda yang tega nelantarin anak kandung demi anak tiri. Cathlin jauh lebih baik di bandingkan dengan anda"
Catlin terkejut mendengar ucapan zhea. Ini pertama kalinya zhea membelanya.
"Zhea, dia tidak berhak kamu panggil mama. Dia bahkan lebih muda dari pada kamu"
"Dia memang masih muda, tapi dia tidak pernah lepas tanggungjawab seperti anda"
Zhea mencoba berdiri, namun tubuhnya sangat lemah kembali terjatuh ke ranjang.
Cathlin ingin membantu, namun lara sudah lebih dulu
"Zhea kamu mau kemana. Biar mama bantu"
Zhea merasa ada yang keluar dari hidungnya, dan ternyata benar dia kembali mimisan.
"Ya ampun zhea, kamu mimisan"ucap lara panik
"Cathlin, tolong bantu aku ke kamar mandi" ucap zhea
"Biar mama yang bantu ya" lagi-lagi zhea menghindar karena tidak ingin di Sentuh oleh lara.
"Ayo zhea pelan-pelan" ucap Cathlin membantu zhea berjalan menuju kamar mandi.
"Aku tunggu di luar, jika sudah panggil aku" ucap cathlin
"Apa yang terjadi sama zhea?" Ucap lara
"Sebaiknya mbak pulang. Dan jangan mengajak Zhea berdebat lagi"
"Berani kamu ya, kamu pikir kamu siapa hah, bisa ngusir saya dari sini. Ini kamar anak saya"
"Zhea emang anak mbak. Tapi Shea tinggal di sini, di mansion suami saya. Jadi saya berhak mengusir mbak dari sini"
"Jika saya tidak pergi meninggalkan mereka dulu, kamu tidak akan pernah menjadi nyonya di rumah ini"
"Itu kebodohan mbak, dan mungkin suatu keberuntungan bagi saya"
"Heh kamu tuh nggak malu apa? Anak tirimu bahkan lebih tua darimu"
"Nggak ada salahnya kan mbak, punya anak Yang seumuran? Lagi pula, saya tidak merebut suami orang, apanya yang harus di malukan"
__ADS_1
"Nggak usah sok suci kamu!" Ucap lara kemudia beranjak pergi karena kesal