
Bab 112
Selesai bersiap-siap, Rere menyeret koper yang belum sempat dia buka sama sekali sewaktu sampai di kediaman Orangtuanya itu menuruni tangga.
"Lho Zhe, kamu mau kemana bawa-bawa koper segala. Katanya di sini dua hari" ucap aman Rere yang melihat Rere terburu-buru menuruni anak tangg
"Aku harus pergi sekarang ma, Rio ninggalin aku" ucap Rere
"Kamu ini gimana sih. Kamu yang ninggalin dia, malah kamu bilang dia yang ninggalin kamu"
"Aku nggak lagi becanda ma. Rio ninggalin aku, dia pindah kuliah ke AS ikut Niko. Dia pasti sengaja pergi di saat aku nggak ada"
"Kalo Rio pindah kesana juga nggak apa-apa. Yang penting dia tetap melanjutkan kuliahnya"
"Nggak bisa gitu dong mah. Dia itu ninggalin aku dan zhea, seharusnya dia itu jagain kita"
"Mungkin karena kamu terlalu manja dan bergantung sama dia, makanya dia pergi"
"Mama...udah deh. Aku mau debaat sama mama. Aku mau nyusulin Rio, aku pergi dulu" ucap Rere beranjak pergi
"Kalang kabut kan kamu re di tinggalin Rio. Kalo dia ada kamu selalu aja nyalahin dia. Bagus, bearti sedikit banyaknya kamu ada rasa suka sama Rio. Dengan begitu niat mama sama papa buat nikahin kalian berdua akan terwujud. Agar mama dan papa bisa nebus kesalahan kami pada Rio" ucap mama Rere.
Hari beranjak sore, zhea baru selesai latihan balapan mobil. Karena, sehabis dari bandara dia tidka kembali ke kampus melainkan ke tempat latihannya.
Zhea menerima telpon dari kepala rumah sakit, yang mengatakan bahwa dia harus ke rumah sakit, untuk menggantikan alat-alat medis dengan yang baru. Zhea pun langsung meluncur ke rumah sakit
__ADS_1
Setelah selesai mengajar, exsel kembali bekerja di rumah sakit. Semua rekan kerjanya mengucapkan bela sungkawan padanya.
Exsel hanya duduk di kursi kerjanya, terlihat jelas raut kesedihan dari wajahnya.
Mendengar exsel ada di ruangannya pun, Adnan menghampirinya.
"Lho masuk kerja hari ini. Seharusnya lho tenangin diri lho di rumah" ucap adnan
"Gue nggak bisa lama-lama di rumah. Yang ada gue terus-terusan ke ingat sama mama"
"Yaudah deh. Karena Tante udah nggak ada ada sesuatu yang mau gue ceritain sama lho"
"Apa?"
"Ini tentang zhea"
"Lho harus dengarin gue dulu. Ini memang waktu yang nggak tepat untuk ngomongin ini. Tapi, lho harus tahu"
"Udah deh, jika itu mengenai zhea gue nggak mau tahu. Lebih baik lho tinggalin gue sendiri"
"Kalo lho mau sendiri, seharusnya lho nggak masuk kerja"
"Adnan" bentak exsel
"Dengarin gue dulu" ucap Adnan tak kalah sengit
__ADS_1
"Yaudah apa?"
"Tunggu bentar. Ada sesuatu yang ahrus gue ambil" ucap Adnan kembali ke ruangannya mengambil dokumen tentang zhea yang mendonorkan ginjal untuk Sarah.
"Baca ini" ucap Adnan memberikan dokumen itu pada exsel
"Apa ini"
"Baca dan kau akan tahu"
"Gue lagi malas baca"
"Kalo gitu dengarin gue baik-baik. Selama kita di Singapore zhea yang membiayai pengobatan Tante Sarah"
"Apa? Bukannya lho bilang teman lho yang ngurus segalanya"
"Gue bohong Sama lho. Ini kemauan zhea, dia ingin yang terbaik untuk Tante"
"Aku akan membayar uangnya"
"Dan orang yang mendonorkan ginjal untuk Tante Sarah itu juga zhea"
"Apa?" Kali ini exsel benar-benar terkejut
"Gue bohong tentang semuanya sama lho sel. Itu permintaan zhea, dia ingin membantu Tante sarah. Gue ngebantuin dia mendonor ginjal untuk Tante, karena gue nggak tahu waktu itu kalo Tante juga terkena penyakit jantung. Jika gue tahu, gue juga nggak bakalan bantuin dia. Saat gue tahu tante terkena jantung, gue langsung tanya ke dia. Dan dia juga bilang dia tahu kalo Tante terkana jantung tapi dia tetap mendonorkan ginjalnya. Alasannya, agar Tante bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Kalo lho nggak percaya, baca di sini. Detailnya ada disini" ucap Adnan menunjuk dokumen
__ADS_1
Baca terus kelanjutan ceritanya ya ☺️
DAN jangan lupa baca juga Karya author yang berjudul "COLD CEO IN LOVE" dan "SILENT DEADLY" ya reader's tercinta🙏🏻☺️