BAD GIRL

BAD GIRL
BAB 262


__ADS_3

Bab 262


Exsel masuk ke ruangan zhea. Semua suster yang ada di dalam sana pun keluar.


Exsel membuka maskernya, dia jatuh ke lantai dengan tangan berpegangan ke brankar, tangisnya tak bisa di tahan lagi"Bangun Zhe, jangan siksa aku kayak gini. Apa nggak cukup kamu siksa aku satu setengah tahun ini, kenapa harus siksa aku seperti ini lagi. Cukup berat hidup terpisah jauh darimu, kenapa kamu malah ingin pergi untuk selamanya meninggalkanku. Aku memang suami bodoh, karena nggak ada di saat kamu kesakitan"


Exsel menggenggam tangan zhea "maaf Zhe, maaf. Aku memang bodoh dan lemah. Aku pikir perceraian yang kamu ucapkan bisa membuatmu lebih bahagia. Tapi, nyatanya kamu harus menahan rasa sakitmu seorang diri. Sayang, jika operasi ini gagal AYO KITA TEMUI MAMA SAMA-SAMA. KITA KUMPUL LAGI SAMA MAMA DI ALAM SANA" exsel mengambil cincin dari saku celananya dan memasangkannya di jari zhea


"Sayang, aku kembalikan apa yang menjadi milikmu. Zhea, lihatlah aku sudah mengubah gaya cincin pernikahan kita. Kamu pernah melihat aku memakainya kan? Ini cincin pernikahan kita sayang. Nama kita ada di dalamnya seperti dulu" exsel mencium lama tangan zhea, dan air mata terus mengalir


"Sayang ayo kita hadapi ini sama-sama. Ayo berjuang untuk hidup dan mati sama-sama. Jangan takut, aku akan selalu ada bersamamu. Kita akan selamat jika beruntung, dan jika tidak beruntung kita akan tetap sama-sama selamanya". Sebelum pergi, exsel mencium lama dahi zhea. Air matanya menetes di pipi zhea bersamaan dengan air mata zhea yang juga mengalir dari sudut matanya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



Setelah melakukan tes kesehatan untuk exsel. Akhirnya zhea di bawa ke ruang operasi.



"Nan, jika operasi ini gagal tolong lakukan apa yang gue pinta"


"Tapi sel, gue nggak mungkin bunuh sahabat gue sendiri. Gue nggak mau jadi pembunuh"


"Bayar siapapun yang bersedia untuk menyuntikkan itu ke gue. Lho nggak mau gue hidup tapi gila kan nan? Gue benaran bisa gila jika lho nggak lakuin itu"


Adnan hanya mengangguk lemah.


"Jika gue mati, ambil semua organ tubuh gue dan berikan pada mereka yang membutuhkan" ucap exsel kemudian masuk ke ruang operasi


Sementara semua orang yang menunggu di sana hanya bisa menitikkan air mata.


"Kak exsel benar-benar mempertaruhkan hidupnya buat zhea" ucap Tiffany



"Itulah kekuatan cinta" sahut Mama rere



Lampu di ruangan operasi menyala, pertanda operasi akan di mulai. Semua orang menunggu Dengan perasaan khawatir, takut dan tegang.



\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


20 jam berlalu.....


Setelah sekian lama berada di ruang operasi akhirnya Adnan dan kepala rumah sakit keluar dari ruangan itu.



"Dok, bagaimana operasi, lancarkan?" Tanya Niko


Adnan mengehela nafas kasar kemudian berucap. "Operasinya lancar"


"Alhamdulillah" ucap semua orang di sana.



"Mereka akan segera di pindahkan, untuk kondisi zhea kita hanya menunggu sampai dia sadar. dan rasa sakit yang dia tanggung selama ini, tidak akan pernah dia alaminya lagi" jelas kepala rumah sakit

__ADS_1


"Bagaimana dengan kak exsel dok?" Ucap Tiffany


"Kita do'akan saja agar exsel segera membuka matanya" ucap Adnan lemah


"Maksud dokter?" Ucap Zein


"Sepertinya exsel terlalu takut membuka matanya. Sehingga dia menolak untuk sadar, dan terus berada di alam bawah sadarnya. Hal ini membuatnya koma, dan hanya atas kemauannya sendirilah dia bisa kembali sadar" jelas kepala rumah sakit


Beberapa orang suster mendorong brankar zhea dan exsel. Mereka di letakkan di ruangan bersebelahan.



"Jika ingin menjenguk masuklah satu-satu dan jangan terlalu lama" ucap Adnan.


Adnan masuk ke ruangan exsel, dia duduk di kursi samping brankar.


"Sel, gue tahu lho bisa dengar gue. BANGUN SEL, OPERASINYA LANCAR. PENGORBANAN LHO NGGAK SIA-SIA. LHO NGGAK MAU JADI ORANG PERTAMA YANG ZHEA LIHAT JIKA DIA SADAR NANTI? SEL, KETAKUTAN LHO ITU SALAH, ZHEA SUDAH SEMBUH SEKARANG. BANGUN SEL, LHO SELALU BILANG KE GUE KALO ZHEA MASIH ISTRI LHO KAN. DAN LIHAT OMONGAN LHO ITU BENAR. JADI GUE MOHON SEL, BANGUN DAN SADARLAH. SUDAH BANYAK YANG LHO LEWATI SAMA ZHEA SAMPAI DETIK INI. SEKARANG BANGUN, UDAH SAATNYA KALIAN BAHAGIA"


SATU MINGGU BERLALU....


Media benar-benar gencar Oleh konferensi pers yang zhea lakukan. Sementara orangnya masih terbaring di rumah sakit.



Rere, Niko dan Rio masih setia menunggu zhea di rumah sakit.



"Udah satu Minggu, kenapa zhea dan dokter exsel belum sadar juga" ucap Rere


"Kita do'a kan yang terbaik buat mereka" ucap Rio memeluk Rere


"Sekarang yang di khawatirkan adalah dokter exsel. Bagaimana jika dia tetap tidak ingin bangun, apa yang bakal kita jelaskan pada zhea saat dia sadar nanti. Zhea sudah pasti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada deokter exsel" ucap Niko


Perlahan-lahan mata zhea terbuka, penglihatannya buram.


"Apa gue udah mati?" Batin zhea kembali menutup matanya.


Beberapa saat kemudian, zhea kembali membuka matanya. Matanya mengelilingi ruangan agar bisa melihat dengan jelas.


Hingga suara pintu terbuka, barulah zhea bisa melihat dengan jelas kedatangan Adnan.


"Zhea, kamu sudah sadar?" Ucap Adnan memeriksa ucapan zhea.


"Jadi, gue belum mati?" Gumam zhea yang masih di dengar oleh Adnan


"Belum Zhe, lho masih di beri kesempatan untuk memperbaiki apa yang rusak"


Zhea menatap Adnan meminta penjelasan atas ucapan dokter itu.


"Kamu sudah sembuh sekarang. Exsel yang mendonorkan separuh hatinya untukmu. BERTERIMAKASIH LAH DENGAN SUAMIMU ITU DENGAN SELALU BERADA DI SAMPINGNYA. LIHATLAH BEGITU BESAR CINTANYA PADAMU SEHINGGA DIA RELA MEMPERTARUHKAN NYAWANYA UNTUKMU. TAPI, KAMU TIDAK BISA BERTERIMAKASIH SEKARANG, KARENA DIA KOMA DAN ENTAH KAPAN AKAN BANGUN" jelas


"Exsel mendonorkan hatinya? Koma? Dimana dia?"


"Istirahatlah dulu, besok jika sudah ada tenaga baru temui dia"


"Adnan gue tanya diruangan mana exsel berada? Ucap zhep dengan suara agak tinggi


"Ruangan exsel berada di sebelah"


"Gue ingin lihat dia"

__ADS_1


"Besok aja Zhe, lho masih lemah"


Zhea menatap exsel dengan tatapan tajam


"Oke, aku antar kamu ke sana. Tapi, pakai kursi roda, kamu masih lemah"


Adnan mendorong zhea ke ruangan exsel. Zhea melihat ke tiga sahabatnya tidur dengan tidak nyaman Dengan tatapan sendu.


"Adnan, gue mau nyemperin mereka sebentar"


Adnan hanya mengangguk, kemudian mendorong kursi roda zhea mendekati ketiga sahabatnya itu.


"Tolong pegang ini bentar" ucap zhea memberikan infus ke Adnan.



"Re, Rere" ucap zhea menepuk-nepuk tangan Rere.


"Eughhhh" ucap Rere menggeliat dan hampir saja dia terjatuh ke lantai jika Rio tidak terbangun dan menahannya.


"Hati-hati...."


"Zheaaa" ucapan Rio terpotong oleh teriakan Rere yang langsung memeluk zhea. Teriakan rere juga membangunkan Niko.



"Lho udah sadar, apa ada yang sakit?" Ucap Rere mengecek tubuh zhea



Zhea hanya menggeleng



"Gue khawatir, dan takut tahu nggak. Kenapa sakit nggak bilang-bilang sih?" Ucap Rere sekali lagi memeluk zhea dan saking senangnya dia kembali menangis


Zhe hanya tersenyum lemah, dia merentangkan tangannya memberi kode agar Niko dan Rio ikut berpelukan. Niko dan Rio pun ikutan memeluk zhea.


"Gue nggak apa-apa. Gue udah sembuh sekarang, maaf dari kecil gue selalu nyusahin kalian"



"Sekali lagi lho main rahasia-rahasiaan sama kita, gue yang bakal bunuh lho. Gue setengah mati takut kehilangan lho. Lho pikir ngerahasiain hal sebesar ini lucu, NGGAK ZHE!" ucap Rere emosi dan memukul-mukul zhea.



"Re, sayang udah . Zhea baru sadar lho ini, kamu mau zhea sakit lagi" ucap Rio lembut.


"Emosinya tahan dulu, nanti kalo nih anak udah sembuh baru kita kasih pelajaran" ucap Niko bercanda untuk mencairkan suasana.


"Kalo gue udah sembuh, kalian bertiga belum tentu bisa kalahin gue"


"Sih pd amat. Pemegang tahta tertinggi persilatan itu Niko yang megang. Lawan dia dulu baru lawan gue sama Niko"


"Kenapa nyuruh Niko? Takut kalah dan nggak jadi nikah?" Ledek zhea


"Lho...?"


Keempatnya lalu tertawa, begitu juga dengan Adnan.


Zhea meminta ketiga sahabatnya itu untuk pulang. Mengerti jika Zhea perlu waktu untuk melihat exsel, ketiga sahabatnya itupun pulang. Adnan mendorong zhea masuk ke ruangan exsel, setelah itu dia langsung pergi agar zhea dan exsel punya waktu bersama. Dan agar exsel juga segera sadar, dengan kehadiran Shea di dekatnya.

__ADS_1


Zhea yang duduk di kursi roda samping brankar exsel, hanya diam menatap exsel yang terbaring lemah tanpa berkata apapun. Entah apa yang Zhea pikirkan wajahnya tampak tenang, tapi matanya memerah menahan air mata. Namun, mulutnya tidak mengeluarkan satu katapun


__ADS_2