
"Aku tetap pengen resmi, Bang." jawab Fira dengan suara lirih.
"Ya udah, kita macam ini aja." sahut Givan enteng, lalu ia menekan puntung rokoknya di asbak yang tersedia. Kemudian ia langsung beranjak menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Givan sudah selesai berpakaian kembali. Ia berjalan ke arah ranjang, dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kau mandi sana! Terus ayo keluar, besok aku mesti pergi lagi." ujar Givan dengan memainkan ponselnya.
"Memang Abang mau ke mana?" tanya Fira penasaran.
"Mau ke mamah lagi. Aku harus mastiin mamah baik-baik aja, terus lupa tentang masalah ini. Aku pun harus perbaiki hubungan aku sama Ghifar, aku tak mau Ghifar nyurigain abangnya sendiri." jawab Givan yang masih fokus pada ponselnya.
"Berapa lama, Bang?" sahut Fira dengan melepaskan hijabnya, lalu ia menarik ikat rambutnya.
Givan menoleh ke arah Fira, "Mungkin satu atau dua bulanan. Aku mau keluarga aku lupa dulu, tentang masalah ini." balas Givan dengan pandangan yang dimengerti Fira.
"Terus aku di sini sama siapa, Bang?" rengek Fira terdengar manja di telinga Givan. Dengan Fira langsung mendekati Givan, kemudian duduk di atas pangkuan Givan.
"Nanti kau aku carikan rumah di sekitar sini. Tapi… kau tak boleh keluyuran, stay di rumah itu sampek aku balik lagi." jelas Givan dengan tangannya meremas tutup teko pribadi milik Fira.
"Nanti aku…." ucapan Fira terjeda.
"Cepet bersihin diri kau! Aku udah lapar, mau makan kau!" pangkas Givan dengan senyum buasnya.
Fira mengedipkan sebelah matanya, lalu ia langsung berlalu pergi menuju kamar mandi. Dengan aksinya yang satu persatu, melepaskan pakaiannya di depan Givan.
~
Di kediaman keluarga Adi
Bola mata Adinda melirik sampai ke ujung matanya, ia memperhatikan aktivitas anak perempuannya dengan begitu intens.
"Aku nampak loh, Mah. Mata Mamah muter merhatiin kerjaan aku, macam aku lagi uji kompetensi aja." ucap Icut sembari melakukan aktivitasnya.
Adi terkekeh tertahan, "Ya kau jangan lambat kalau kerja! Macam anak sultan aja kau, suruh beres-beres rumah sampek pakek masker, sarung tangan gitu-gitu." timpal Adi mengomentari penampilan anak gadis tertuanya.
"Lagian heran aku sama Mamah, Papah juga sama. Anak gadis dua-duanya dijadikan babu, macam tak mampu lagi bayar pekerja paruh waktunya." sahut Giska terdengar seperti menggerutu, tetapi bisa terdengar di telinga Adi.
"Jadi istri isinya bukan cuma ng*ngkang aja! Ketimbang masak tumis kangkung aja kau sampek nanya terus sama HP." balas Adinda yang mendapat delikan tajam dari suaminya.
__ADS_1
"Ini mulut!!" ujar Adi dengan mencubit pelan bibir istrinya.
Bukannya marah, Adinda malah tertawa lepas. Dengan langsung memeluk lengan suaminya, yang membuat anak usia dua tahun di pangkuan Adi menoleh pada dirinya.
"Mamah ici, yak-yak yus." celoteh Gibran, yang membuat alis mata Adinda reflek saling bertaut.
"Mamah risih, gerak-gerak terus." jelas Adi yang rupanya mengerti dengan ucapan anaknya.
Adinda langsung mencium pipi anaknya bertubi-tubi, dengan wajah gemasnya. Terlihat Gibran begitu tak suka, dengan tindakan ibunya barusan. Lalu ia turun dari pangkuan ayahnya, dengan menuju ke ruang bermainnya.
"Mamah penulis, novel cetaknya banyak, yang difilmkannya banyak. Kerjaannya duduk manis, manja-manjaan sama Papah, kadang ngadepin laptop sambil kacamataan. Nah aku? Baru sebentar mainan laptop, udah ditanya lagi ngerjain tugas kah. Termenung bentar, padahal cari inspirasi. Malah dikira putus sama pacar, ditanya habis-habisan ini itu. Giliran nyantai, disuruh beres-beres rumah, nyapu, ngepel, masak, cuci piring, nyetrika, cuci-cuci lainnya juga." gerutu Icut dengan membereskan meja tepat di depan orang tuanya, yang tengah bersantai di sofa ruang keluarga sembari menonton televisi.
"Memang kau punya bakat apa? Giska yang anak kandung aja, tak berbakat apa pun. Apa lagi kau yang cuma anak tiri. Pacaran kau terus sana! Bilang ngaji, bilang pasar malam, rupanya udah dijemput di perempatan jalan. Ala-ala kau pengen fokus ke bakat, fokus kau ke laki-laki terus." sahut Adinda yang membuat Icut tersenyum kuda, dengan menggaruk kepalanya. Berbeda dengan Giska yang tertawa puas, saat mendengar kakaknya dimarahi oleh ibunya.
"Apalah dayaku yang cuma anak tiri. Bacut-bacut kena marah, bacut-bacut disuruh cuci piring." balas Icut dengan wajah sedihnya.
"Heh Kak! Jangan lupa juga ya! Aku yang anak kandung pun, hari-hari aku disuruh ngepel. Mamah lebih sayang lantai marmernya, dari pada anaknya sendiri." ujar Giska, yang membuat Adi terbahak-bahak. Berbeda dengan Adinda yang memanyunkan bibirnya, dengan memukul pelan suaminya.
"Mending mamah lebih sayang lantai marmernya. Coba kalau dibandingin sama kerjaan aku, berarti Mamah lebih sayang piring-piringnya dong?!" tutur Icut, saat mendengar seruan dari adiknya tersebut.
"Ya kau makan pakek daun sana! Biar tak usah cuci piring." tukas Adinda kemudian.
"Mak… mau makan." seru Ghifar dengan berjalan ke arah orang tuanya, lalu ia langsung menduduki tempat di sebelah ibunya. Ia mulai bermanja-manja dengan bergelayut pada lengan ibunya, dengan menggosokkan wajahnya seperti bayi.
"Yuk makan di luar." ajak seseorang yang baru muncul dari arah ruang tamu. Adi, Adinda, Ghifar dan Icut menoleh secara serentak. Dengan suara kaki cepat, yang langsung menubruk laki-laki tersebut. Bukan lain adalah Giska, ia terlihat tengah memeluk kakaknya tersebut dengan begitu bahagia.
"Aku udah bikin list-nya dari kemarin, eh Abang malah pergi lagi. Ayolah, Bang kita keluar jalan-jalan yang lama. Jangan percaya masakan aku, aku jamin rasanya tak enak Bang." ungkap Giska dengan mendongak untuk bisa melihat wajah kakaknya.
"Adik sialan memang kau! Malah bikin list segala kau! Abang lempar kau nanti di danau lot tawar." sahut Givan dengan menarik hidung adiknya.
"Bang… aku dari tadi disuruh-suruh Mamah terus. Ayo bawa aku kabur, aku tambahin uang bensinnya asli Bang." balas Icut dengan beranjak dari posisi jongkoknya, karena ia tengah membereskan barang-barang yang berada di atas meja.
Givan menoyor pelan kepala Icut, saat Icut memeluknya begitu erat.
"Coba kau mau kabur ke mana? Mak kau aja kabur." ujarnya yang membuat Icut melepaskan pelukannya.
"Givan!! Gih temuin dulu Gibran sama Gavin, di ruang bermain mereka tadi." pinta Adinda, saat situasi mulai penuh dengan tanda tanya.
"Memang Mamah mau ke mana?" tanya Givan, saat melihat ibunya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Ya siap-siap lah, katanya tadi mau makan di luar?" jawab Adinda yang membuat suasana mencair kembali.
"Adek udah cantik, apa lagi yang mau disiapin?" pertanyaan yang muncul, dari kekasih hati Adinda.
"Iya, Adek udah cantik kali. Minta sangu aja banyak-banyak sama Bang Adi, kan kita mau nongkrong sama temen aku yang Mak bilang manis itu." timpal Ghifar membuat langkah kaki Adinda terhenti.
"Papah getok ya kepala kau, Far!" tegas Adi yang membuat anak-anaknya terbahak-bahak.
"Abang juga ikut dong. Nanti Adek nemploknya ke siapa?" ujar Givan yang membuat semua orang merasa geli.
"Diganti coba panggilan sayangnya tuh, Bang. Dari jamannya aku bisa ngomong, masih aja abang-adekan. Sampek aku terbiasa manggil Bang, ketimbang papah. Karena apa lagi itu, kalau bukan karena panggilan sayang Papah sama Mamah." tutur Ghifar, saat Adi bangkit untuk mengikuti langkah kaki istrinya.
"Kan ada dalil tuh, tak boleh manggil suami seperti sebutan ke orang tuanya, atau saudara kandungnya." tukas Adinda yang membuat Adi geleng-geleng kepala.
"Ya Adek salah menafsirkannya. Bukan macam itu maksudnya…." jelas Adi dengan merangkul pundak istrinya, sembari berjalan memasuki kamar.
Semua mata anaknya tertuju pada kedua orang tuanya, yang setiap hari menyuguhkan pemandangan harmonis tersebut.
"Bang… memang ibu kandung aku ke mana?" tanya Icut, yang membuat Ghifar dan Giska pergi ke dalam kamarnya masing-masing.
Meski Ghifar tak tinggal bersama orang tuanya, tapi ia masih memiliki kamar pribadi yang dulunya adalah kamar tantenya.
Givan menghela nafas beratnya, ia paham ia salah berucap tadi. Namun, ia tak mampu untuk menjelaskan pada Icut akan kebenarannya.
Givan memperhatikan wajah Icut, dengan Icut yang terlihat tengah menunggu jawaban dari kakaknya tersebut.
"Mak kau……
......................
*Bacut : Sedikit
Hayo, dikasih tau gak nih bahwa emaknya gondol…….
**Update sesuai kemampuan kuota 🤭
Mohon maaf, untuk yang sudah menantikan 🙏🙏🙏 Doakan rejeki Author ditambahkan juga dipermudah 👍😁🙏
Aamiin**
__ADS_1