
"Pah, aku resmikannya setelah panenan ladang aku aja." ucap Ghava tiba-tiba.
Ghava sudah akan kembali ke kota J kembali, untuk menyelesaikan masa KKN. Ia terpaksa harus berpisah sejenak, dengan istrinya lagi. Karena Adi masih memikirkan banyak hal, membuat jadwal cuti Winda tak kunjung diproses. Agar Winda bisa ikut Ghava, sampai Ghava menyelesaikan masa kuliahnya.
"Ya udah. Abang kau udah kebelet, Papah mau segerakan Abang kau dulu."
Bukan hanya Ghava, anak-anaknya yang lain pun memendam pertanyaan perihal hubungan Ghifar dengan Kinasya.
"Memang betul sama kak Kin? Kok aku ngerasa heran." sebetulnya bukan hanya dirinya saja yang terheran-heran, seluruh saudara satu kandungan pun demikian.
"Tanyain aja tuh orangnya."
Ghifar terlihat tengah menikmati rokok, dengan bermalas-malasan di sofa ruang keluarga tersebut.
"Ngerokok tuh jangan di dalam ruangan coba!" tegur Adinda, yang melewati para laki-laki itu mengobrol.
"Terus buat apa Mamah pasang exhaust?" Adi ikut mentertawai istrinya, seperti anak-anaknya yang cekikikan atas pernyataan Ghifar.
"Kau tidur ya tidur coba! Mata merem, tapi masih ngebul aja." ucap Adi, dengan memperhatikan Ghifar yang sejenak terpejam. Namun, tak lama mata Ghifar terbuka.
"Bentar, Pah. Tanggung." Ghifar menunjukkan puntung rokoknya, yang masih terselip di jarinya.
"Nanti udah nikah pada lepas rokok ya?! Bang Givan udah lepas rokok. Kau pun harus lepas rokok, Va." pandangan Adi bergulir ke arah Ghava.
"Nanti, Pah. Kalau Winda udah isi, aku usahain lepas rokok." jawab Ghava kemudian.
"Bang... Kok kau bisa sama kak Kin? Dijodohkan kah?" tanya Ghava pada kakaknya tersebut.
"Tak! Memang jodohnya sama dia keknya." Ghifar tak mungkin membeberkan kebenarannya.
"Jodoh! Jodoh!" Adi seperti tidak terima dengan ucapan anaknya.
"Kalau ada lagi pun, keknya Papah juga milih lain buat jadi menantu. Berisik betul, mana posesifnya tinggi. Tak bisa bayangin Papah, kek mana tersiksanya Abang kau." lanjut Adi dengan menoleh ke arah Ghava.
"Tapi dia malah nambah jadi badannya, Pah. Tandanya kan, dia tak tersiksa jalin hubungan sama kak Kin." pendapat Ghava tidaklah salah, karena Kinasya begitu telaten untuk membuat makanan untuk Ghifar setiap harinya. Meski dirinya, belum berstatus sebagai istri dari Ghifar.
"Dibawa santai aja, dinikmati aja."
Ghava dan Adi cekikikan, saat Ghifar mengatakan dinikmati tersebut.
__ADS_1
"Nikmat memang, Bang." tambah Ghava, membuat gelak tawa mereka berbaur.
"Bulan depan direncanakan. Tapi tak semegah yang kau bayangkan, Far. Keluarga Kin agak keberatan. Bukan karena dananya, tapi lebih karena privasi keluarganya. Keluarganya terpandang di B*njarmasinnya, takut kesorot pas tau cucu di keluarganya nikah dengan nashab ikut ke perempuan. Kan pasti publik nyimpulin sendiri tuh, bahwa salah satu cucunya...." di akhir kalimat, Adi mengisyaratkan petik dua pada tangannya.
Ghifar mengangguk, ia paham maksudnya.
"Iya, Pah. Paham." tandas Ghifar kemudian.
"Gimana kalau kek kumpul keluarga aja. Pelaminan juga di dalam rumah. Akad, terus duduk pelaminan buat syarat dan buat foto-foto aja. Privasi tetap terjaga, kalau keluarga yang hadir tak upload video akad aku." lanjut Ghifar mengutarakan idenya.
"Boleh, kau bicarakanlah sama Kin dulu. Nanti kalau Kin sepakat, Papah obrolin lagi sama abi." putus Adi cepat.
"Kek gitu, Yang." ucap Ghifar setelah selesai bercerita.
"Aku aib keluarga ya, Yang?" Ghifar menoleh ke samping kirinya.
Terlihat wajah sendu Kinasya, yang menunduk memperhatikan jalanan.
"Anggaplah kek gitu. Tapi... Jangan terlalu dipikirkan. Kau aib pun, aku tetap nerima itu, keluarga aku tak pernah mempermasalahkan itu. Jadi.... Kurang apa coba aku mengerti akan dirimu, Yang? Mau cari di pelosok mana lagi kau, laki-laki yang pengertian macam aku ini Yang?"
Kinasya melirik ke arah Ghifar, ia tertawa renyah mendengar celotehan Ghifar.
"Harusnya kau yang bersyukur bisa dapatin aku!" Kinasya berbalik menyombongkan dirinya.
Langkah kaki Kinasya mogok, begitu menyadari kemesuman di wajah Ghifar.
"Ayo cepat, mumpung sepi orang." Ghifar bergegas melangkah menuju pintu kontrakan milik Kinasya.
Kinasya masih berdiam diri, ia menimbang-nimbang sesuatu. Apa harus ia menuruti keinginan Ghifar, padahal tujuan awal mereka adalah olahraga bersama. Olahraga dalam arti sebenarnya, bukan bergelut dalam ketelan*angan.
"Yang..." panggil Ghifar.
Ghifar sudah berada di depan pintu kontrakan Kinasya, ia terlihat menunggu Kinasya untuk menghampirinya.
"Hufttt...." Kinasya membuang nafasnya.
"Sayangnya aku cinta sama dia." Kinasya melangkah dengan berat.
Ia menghampiri Ghifar, kemudian membuka pintu kontrakannya.
__ADS_1
Sebelum menutup kembali pintu tersebut, Kinasya sempat mengecek keadaan lingkungannya. Ia khawatir ada seseorang yang memergokinya, memasukkan laki-laki ke dalam kontrakannya sendiri.
Saat ia sudah mengunci kembali pintu kontrakannya, ia melihat Ghifar sudah bertelan*ang dada saja.
Ghifar tersenyum ke arah Kinasya, lalu dirinya melangkah mendekati Kinasya yang masih terdiam di dekat pintu yang sudah terkunci tersebut.
"Hmmm... Kangen aku." ungkap Ghifar, dengan menubruk tubuh wanitanya.
"Kenapa sih kau jadinya mesum terus?" tanya Kinasya, ia membiarkan Ghifar mengusap-usap punggungnya.
"Tak tau. Tapi dulu waktu masih ada status pacaran sama Fira pun, aku memang suka gr*pe-gre*e."
Kinasya menyimpulkan bahwa Ghifar adalah sosok laki-laki, yang diam-diam menghanyutkan. Menurut pandangan matanya, Ghifar tak seperti ini jika ada orang. Hanya dirinya yang mengumbar kemesraan di depan mata keluarga Ghifar, tidak demikian dengan Ghifar sendiri. Namun, itu berbanding terbalik. Jika tengah tidak ada orang, Ghifar bukanlah yang ia lihat jika tengah berada di kerumunan keluarganya.
Tiba-tiba Ghifar memandang wajah Kinasya, "Aku udah kepengen ngerasain masuk." wajahnya terlihat begitu memohon.
"Gesekan-gesek aja." Kinasya coba melayangkan opsi lain. Karena rasa cintanya, ia tidak bisa menolak keinginan kekasihnya. Malah ia ingin, hanya padanya lah. Ghifar memohon seperti ini.
"Kepalanya aja deh." Ghifar menarik tali pada celana training panjang bermodel masa kini.
"Kepalanya masuk, nanti malah kau tak tahan Yang. Kau kebablasan nanti." Kinasya sebenarnya tak bisa menolak keinginan Ghifar.
"Liat nanti deh." Ghifar langsung menarik kaos lengan panjang yang Kinasya kenakan.
Secepat kilat, ia melepaskan pakaian yang menempel di tubuh Kinasya.
"Kapan haid?" Ghifar membawa tubuh kekasihnya, ke tempat tidur tanpa ranjang tersebut.
"Baru selesai, aku haid cuma tiga atau empat hari aja." Kinasya memandang tatapan buas kekasihnya, yang kini berada di atas tubuhnya.
"Nanti aku tak akan kabur kok, kalau memang kebablasan." Ghifar mengusap pelipis Kinasya.
Pendirian dan keimanannya tidak bisa kokoh, saat k*jantan*nnya yang kokoh pada diri Kinasya. Titik kelemahannya, hanya pada Kinasya. Ia tidak bisa menahan dirinya, setiap kali menguasai tubuh Kinasya. Ia pun tidak mengerti, meski dirinya menyadari itu. Namun, tetap dirinya tak bisa menjaga ketahanan imannya pada kekasihnya.
Kinasya mengangguk samar, ia begitu pasrah pada sifat pemaksa Ghifar. Hanya pada Ghifar, dirinya tak bisa menjaga kehormatannya sendiri.
Ia memejamkan matanya, atas perlakuan yang Ghifar berikan. Ia pasrah, dalam kungkungan tubuh laki-laki yang lebih muda darinya tersebut. Karena cinta, ia sampai tak memandang usia yang terpaut di antara mereka.
"Yang...." Kinasya meremas pelan kepala Ghifar, yang tengah......
__ADS_1
......................
Deg-degan aku 😟