
Ia merasa kedatangannya nanti, khawatir membuat beban orang tuanya bertambah. Nyatanya prasangkanya saat itu benar, ayahnya begitu keberatan dengan tanggung jawab yang Ghifar bawa.
"Mau pamit dulu sama mamah papah." ucap Kenandra dengan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ghifar masih melamun, dengan menunggu mobil Kenandra yang mesinnya sudah menyala.
Tawa riang gembira, cukup mengalihkan perhatian Ghifar. Ia menoleh ke pojok rumah, menyaksikan Mikheyla dalam gendongan kakaknya yang tersenyum lebar.
Senyum piasnya terlihat, ia cukup senang melihat gadis kecil yang selalu menunggunya pulang di teras rumah mereka di Bali itu tengah tertawa gembira.
Ghifar tak memungkiri ia tinggal bersama dengan para wanita dalam satu rumah. Ia tak bisa menepis kenyataan itu, karena kebenaran hidupnya di sana ya seperti itulah.
"Pamit dulu Van." seru Kenandra yang sudah keluar dari dalam rumah.
Givan berjalan menghampiri Kenandra, gadis kecil tersebut berdada ria pada seseorang yang ia sebut papah tersebut.
"Lagi sama siapa sih Key? Seneng kali nampaknya." sapa Ghifar saat Mikheyla berada di dekatnya.
"Ya yah." nafas Ghifar tersendat seketika, mendengar Key menyebut kakaknya adalah ayah.
"Abang ajarin dia panggil Abang, ayah. Macam Memei, panggil Abang juga ayah." jelas Givan menyadari ekspresi terkejut dari adiknya.
"Balik dulu, Far. Abang lama nih tak balik ke Bali nanti, Abang ambil spesialis nanti di Surabaya." ungkap Kenandra dengan memberi tepukan pada pundak Ghifar.
"Ya, Bang. Makasih. Sukses-sukses Bang, semoga pengabdiannya nanti tak sia-sia." sahut Ghifar berbalik menepuk pundak Kenandra.
"Ok."
"Dadah Empluk... Nih, buat jajan es kruwed." Kenandra memberikan Mikheyla selembar uang berwarna merah.
Percaya atau tidak, gadis kecil itu amat bahagia jika diberi uang. Ia seolah mengerti, uang adalah alat tukar yang terbaik.
Ia langsung merebut uang tersebut, kemudian memberi ciuman singkat pada pipi Kenandra.
"Dikasih uang aja kau mau cium-cium Abi." tawa tiga laki-laki tersebut terdengar lepas, melihat reaksi wajah Mikheyla.
"Ati-ati..." ujar Givan, saat Kenandra berjalan untuk masuk ke dalam ruang kemudi mobilnya.
__ADS_1
Perlahan, mobil itu meninggalkan halaman rumah megah tersebut. Diikuti dengan bunyi klakson yang Kenandra bunyikan.
"Udah makan kan Key, Far? Abang mau bawa dia ke toko ya." ucap Givan, tersenyum penuh harap.
"Toko mana?" Ghifar terlihat bingung.
"Toko material. Abang kan punya toko material. Nyambi nunggu ladang panen, sambil jalanin usaha material bangunan." ungkap Givan kemudian.
Ghifar baru mengetahui hal itu, pantas saja kakaknya tak terlihat jika siang hari.
"Tambangnya?" satu pertanyaan keluar dari mulut Ghifar.
"Sengketa. Jadi rebutan di sana, Abang cuma dapat bagian saham aja." Ghifar menyimpulkan bahwa kakaknya tengah kesulitan dalam ekonomi.
Ia ingin merubah ucapan dalam batinnya, yang pernah menyangka Canda memilih Givan karena materi Givan saat itu lebih menunjang.
"Ya udah, bawa aja. Anaknya aktif, yang ati-ati aja." Ghifar mengizinkan putri Fira dibawa oleh mantan kekasih Fira.
Givan berbalik arah, mulutnya terbuka untuk meneriaki seseorang.
"Dek.... Canda... Mas ke toko dulu." seru Givan kemudian.
Ghifar menyibukkan dirinya dengan daun-daun kering di halaman rumah itu. Ia merasa malu, jika di dalam hanya ada Canda yang tengah beraktivitas.
Ia segan bertegur sapa dengan Canda. Bukan karena ia belum bisa melupakan Canda, hanya saja ia tak biasa menyebut Canda sebagai kakak iparnya.
~
~
Beberapa hari terlewatkan, Adi masih seolah menutup diri dari anak-anaknya. Kehidupannya adalah ladang dan istrinya saja. Sekalipun ia bertegur sapa, hanya pertanyaan kecil yang Adi lontarkan.
Kini dirinya tengah disibukkan dengan aktivitas ladang baru. Adi kembali mengembangkan usaha kebun kopinya, dengan ladang yang sudah bertambah sepuluh hektare.
"Papah ke mana, Mah?" Ghifar duduk di samping ibunya yang tengah bersantai di halaman belakang.
"Ke ladang baru, lagi pengukuran tanah." jawab Adinda yang masih fokus pada ponselnya.
__ADS_1
"Mamah tak masak? Gibran berani kah ditinggal di sekolahnya?" tanya Ghifar kembali, mencoba mencairkan suasana.
"Berani, nanti jam setengah sepuluh baru dijemput. Kadang dijemput Mamah, kadang sama papah." Adinda memalingkan wajahnya dari ponselnya sejenak, saat menjawab pertanyaan Ghifar.
"Masak apa Mah? Biar nanti aku bantuin." sahut Ghifar kembali.
"Papah minta makan di luar. Sekalian ngajak Gavin sama Gibran jalan-jalan, mau dibujuk buat sunat." Ghifar tak bisa lebih lama lagi menunda, untuk mengobrol dengan ibunya.
Ibu dan sudah berencana berpergian, apa lagi dengan adiknya bersunat. Orang tuanya pasti akan repot, dengan adik-adiknya.
"Mah... Aku mau ngobrol." ucap Ghifar dengan menyentuh lengan ibunya.
Adinda meletakkan ponselnya di atas pahanya, helaan nafasnya terdengar berat. Ia sedikit menyerongkan posisinya, kemudian menahan dagunya dengan tangannya yang menyiku pada sandaran punggung kursi.
"Apa?" Adinda memperhatikan wajah anaknya, yang memiliki jerawat baru di bagian dahi.
"Aku minta jalan keluarnya tentang Yoka sama Tika. Mereka jadi segan buat tegur sapa sama papah, mereka takut sama papah." ungkap Ghifar kemudian.
"Ya terus mau kek mana? Papah pun udah kena tegur keuchik." Ghifar bingung dengan nada bicara ibunya yang kurang bersahabat.
"Terus papah jawab apa, pas kena tegur?" Ghifar merasa ingin tahu alasan yang ayahnya berikan.
"Yaaa... Mau tak mau, papah bilang Tika istri siri kau. Yoka kakaknya si Tika, tak dibilang dia peliharaan kau juga. Terus, ya bilang juga bahwa Key anak kau sama Tika. Seburuk-buruknya anak tuh, Far. Orang tua coba tutup-tutupi, orang tua coba lindungi. Kau tau murkanya warga kampung, kalau tau kau belum nikahin mereka berdua. Untungnya Fira cepet pergi dari sini, jadi dia tak jadi pembicaraan warga kampung. Bisanya keuchik sampek bilang tuh, pasti ada warga yang lapor ke dia. Ya memang sih salah Mamah juga, ada tamu yang nginep tapi tak lapor ke RT." Ghifar baru menyadari nada tidak bersahabat dari gaya bicara ibunya.
Ibunya kesal padanya, karena tindakannya yang membawa Yoka dan Tika tanpa izin dari mereka terlebih dahulu.
"Mah, Mamah yang percaya. Selama di sini kan aku misah dari Yoka sama Tika. Aku tak nidurin mereka, aku cuma fokus sama Key." pembelaan diri Ghifar, tetap salah menurut Adinda.
Adinda membuang wajahnya, memperhatikan burung-burung peliharaan suaminya yang berbunyi bersahutan.
"Mamah sih udah tak muluk-muluk mintanya, Far. Kalau kau memang tetap pengen Yoka atau Tika tinggal di sini, kau islamkan mereka. Masalah keyakinan, yang papah kau permasalahkan dari hari itu. Terus, yang udah ya udah. Kalau memang kau tak mau nikahin Fira, tapi tetap pengen Key ikut kau. Ya udah, kau fokus besarin Key jadi keturunan kau yang baik. Kalau kau sama Fira, bukan manusia yang baik. Coba kau didik keturunan kau sama Fira, jadi manusia yang baik. Terus, menurut Mamah. Kau tinggalkan Yoka, resmikan Tika dalam pernikahan. Kasian anak yang Tika kandung, pasti dia tak punya dokumen macam Key kan? Tutup cerita kau sama Yoka, buka lembaran baru sama Tika. Tak apa Yoka tinggal di sini juga, kalau udah jadi mualaf sih." harapan Adinda begitu besar pada anaknya.
Adinda ingin anaknya mengakhiri kegiatan dosa. Ia tak ingin, Ghifar berlarut-larut dalam hal maksiat.
Ghifar tertunduk, ia ingin menjelaskan semuanya. Tapi, ketidakhadiran Fira di sini membuatnya kaku untuk mengungkapkannya. Apa lagi, ini bukan hanya menyangkut tentang dirinya.
"Mah........
__ADS_1
......................
Es kruwed itu minuman yang asal terciptanya di Bali. Dikenalnya es kruwed Bali kalau di kota aku.