Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS212. Akte lahir Mikheyla


__ADS_3

"Insya Allah, Pah. Aku bakal kerja nanti." ujar Ghava kemudian.


"Jangan insya Allah. Sebelum Papah digrebek dulu, Papah udah niat pengen nikah sama Mamah kalian. Bukan insya Allah, yang pertama itu niat." Ghava mengangguk cepat, ia merasa seperti tengah dimarahi oleh ayahnya. Karena suara ayahnya begitu tegas sekarang.


"Udah hamil kah?" satu ajuan pertanyaan dari Adinda.


Ghava menggeleng cepat, "Belum hamil, Mah. Tapi rasanya... Udah tak pantas aja, kalau ditunda lagi. Aku juga udah ngobrol sama orang tuanya. Mereka minta Papah Mamah datang, buat ngobrolin kesepakatannya." yang Ghava maksud adalah masalah mahar dan sunting pernikahan.


"Nanti..." Adi menunduk, seperti tengah menyusun kalimat.


Pandangannya terarah pada Ghava, "Nanti kau kasih makan dia apa? Biaya nikah dibantu Abang kau. Nah, setelah nikahnya kek mana? Kau tak mungkin terus-terusan jadi benalu buat Abang kau. Dia punya tanggung jawab, buat nyelesaiin pendidikan Yoka. Kau yang paham, Va." lanjutnya kemudian.


Ghava terdiam, ia merasa memang belum memiliki pekerjaan. Selama ini pun, hidupnya dijamin oleh orang tuanya.


"Ladang Ghava kek mana, Pah?" tandas Ghifar, ia adalah orang pertama yang Ghava ganduli.


"Masih. Ghava Ghavi kan, memang garap sendiri macam kau dulu. Dibantu pekerja, wajar, karena ladangnya tak sedikit. Tapi kan, sesuai obrolan awal kita. Modal, pekerja, masa tanam, kebutuhan panen dan lain sebagainya, Papah dulu yang bayarin, nanti dipotong setelah dapat panen besar. Itu juga, sekitar enam bulan lagi bisa panen." jawab Adi kemudian. Ia bukan perhitungan pada anaknya, hanya saja ia mengajarkan yang baik menurutnya. Agar mereka, tidak serakah pada kepemilikannya.


"Jadi aku nikahnya enam bulan lagi aja kah?" Ghava seperti tidak sabaran untuk menikah.


Adi terdiam, ia coba meraba permasalahan yang dihadapi anaknya. Apa penyebab Ghava teramat ingin menikah seperti ini? Adi tidak memahami hal itu.


"Kenapa mendadak?" ujarnya setelah terdiam.


"Yok, Tik. Gih istirahat." pinta Ghifar pada mereka.


Ghifar merasa, diskusi ini tak perlu dibicarakan dengan kedua gadis itu. Karena mereka bukanlah bagian dari keluarganya.


Kinasya menangkap sesuatu, akan Ghifar yang butuh privasi keluarganya.


"Far... Mana uangnya? Sini aku masakan." Kinasya bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Ghifar.


Ghifar tersenyum geli, sepandai itu Kinasya dalam meminta uang padanya.


"Nih, masak apa?" Ghifar memberikan uang yang tersisa di sakunya. Uang pecahan, karena ia tidak memiliki uang cash lagi.


"Dua puluh, sialan kau!" Kinasya terkekeh, dengan menjeber uang yang Ghifar berikan.


"Tak ada lagi. Nanti deh agak siangan, nanti cari ATM." ia teringat akan dompetnya yang kosong melompong, karena dikuras oleh adiknya yang bersunat.


"Minimal lima puluh nih, Far. Berarti kau masih utang tiga puluh ya, Far?" Rahang Ghifar terjatuh, mendengar penuturan Kinasya. Bagaimana ia malah jadi memiliki hutang pada Kinasya? Padahal uangnya yang diminta Kinasya.


Mereka semua menahan geli, melihat ekspresi wajah dari Ghifar.


"Lebay!!!" Kinasya memukul pelan dada Ghifar, melihat Ghifar yang berlebihan memasang ekspresi kagetnya itu.

__ADS_1


"Atau ambilin aja nih. ATM biasa, limit 5 juta. Ambil aja lima juta." Ghifar bangkit, untuk merogoh dompetnya yang berada di saku belakang.


Lalu ia memberikan ATM miliknya, pada Kinasya yang masih berdiri di dekatnya.


"Pin?" Kinasya menerima kartu pipih tersebut.


Ghifar sedikit menarik baju Kinasya, agar ia bisa memposisikan mulutnya di dekat telinga Kinasya yang tertutup hijab pashmina.


Kinasya mengangguk, mendapat bisikan angka dari Ghifar.


Lalu ia langsung ngeloyor pergi, meninggalkan diskusi keluarga tersebut.


"Jadi aku kek mana, Bang?" Ghava pindah ke tempat yang Fira duduki tadi, tepatnya di samping Ghifar.


Ghifar melempar pandangan pada ayahnya. Segala keputusan yang tepat, Ghifar ingin keluar dari mulut ayahnya sendiri.


"Gimana, Pah?" tanyanya kemudian.


"Key gimana?"


"Kau benar ambil alih, Van?" Adi merasa, Mikheyla masih belum terarah dengan jelas.


"Dia kelak nikah tuh binti Fira, Van." tambah Adinda kemudian.


"Identitasnya, Van." tandas Adinda, mencoba meluruskan lebih tegas.


"Aku ayahnya, Canda ibunya." jawab Givan kemudian.


"Ridho tak Firanya?" Adi memperjelas.


"Fir...."


"Fir'aun...."


Ghifar bangkit, tubuhnya berbalik arah untuk menghadap ke jendela rumah.


Fira terkekeh kecil, kemudian masuk kembali dengan menggendong anaknya.


"Kalau keturunan Fir'aun, nampaknya aku tak pernah sakit." sahutnya setelah muncul di hadapan mereka semua.


"Tapi kau disebut Fir'aun, kalau lagi dighibahin di sini." Ghifar membuka kartu.


Fira hanya geleng-geleng kepala, ia merasa wajar jika dibenci keluarga itu. Kesalahannya dulu, yang sempat menduakan putra mahkota di keluarga ini. Pasti masih membekas dan memberikan kenangan tersendiri.


"Apa, Bang?" Fira duduk di kursi plastik, yang tadinya diduduki oleh Tika.

__ADS_1


"Kau ridho tak? Kalau identitas ibu dari Key, dituliskan dengan nama Kakak ipar." Ghifar masih belum bisa menyebut Canda dengan tambahan kak.


Fira terdiam sesaat. Ia bisa apa? Saat akte lahir Mikheyla pun, tak ia miliki.


"Tak masalah, Bang. Yang penting Key tau, kalau aku ibu kandungnya. Aku juga minta... Tetap kasih ijin aku, buat tengok Key kapan aja. Macam kesepakatan kita dulu." Ghifar mengangguk mengerti, keinginan Fira cukup sederhana.


"Kek gitu tuh, Pah." Ghifar bergulir menatap ayahnya.


"Ya udah. Tapi yang tau waktu." Fira mengangguk mengerti. Ia paham dengan maksud sang juragan.


"Aku izin bawa Key boleh tak? Aku pengen ajak dia ke kota, beli pakaian sama jajal odong-odong di depan swalayan besar. Jangan takut Key aku bawa kabur. Pasti aku balik lagi kok." ungkapnya dengan memandang wajah-wajah yang mirip itu.


"Kak... Ikut dong." lamat-lamat terdengar suara dari Tika. Pasti ia mendengar hal itu.


Ghifar terdiam. Ia pun sepertinya harus ikut, untuk menjaga Tika dan Yoka. Ia teringat, akan janjinya untuk mengajak mereka berjalan-jalan. Namun, tak kunjung ia tepati.


Sekarang bukanlah waktu yang tepat, karena ia ingin membahas tentang Ghava dan Giska.


Tika muncul, dengan gamis yang Ghifar belikan. Kakak beradik itu selalu mengenakan gamis yang Ghifar berikan, mereka takut dengan amukan Ghifar.


"Aku tak bisa anter, Tik." pernyataan Ghifar, seolah adalah izin yang ditolak langsung. Raut wajah Tika berubah menjadi sendu, ia kecewa mendengar hal itu.


"Biar aku yang nyupirin, Bang." Ghavi mangajukan diri.


"Ikut, Bang." Giska yang berada di situ pun, menyuarakan suaranya.


"Jangan. Mau ada yang Abang bahas tentang kau. Makanya Abang tak bisa anter." jelas Ghifar cepat. Ia tak ingin Giska pergi dari diskusi ini.


"Siap-siap Tik, kakak kau pun ajak sekalian. Di anter sama adik aku, nanti aku transfer aja buat pegangan di sana." Tika langsung mengangguk cepat, kemudian ia menarik kepalanya kembali dari pintu yang Setengah terbuka itu.


"Siapin Key. Pakaiannya ada di kamar aku." Fira mengangguk, mengerti akan perintah dari Ghifar.


Beberapa menit kemudian, mereka memerlukan waktu untuk bersiap. Tak lama, deru mesin mobil tersebut keluar perlahan dari pekarangan rumah itu.


"Bang... P*jero gagah betul." Adinda menyenggol lengan suaminya.


"Ck.... Waktu itu ditawarin P*jero, mintanya kuda pacu." Mereka semua membuka mata lebar, tidak percaya dengan keinginan ibunya.


"Tenang Mah. Jangankan kuda pacu. Kuda delman, kuda poni, kuda lumping, burok pun aku usahakan." Ghifar bersombong diri, dengan menepuk dada bidangnya.


Adi tertawa lepas, ia tak menyangka Ghifar sukses dalam usaha transportasi.


"Jadi aku gimana ini? Ngomongin kuda lagi." Ghava menepuk-nepuk kedua pahanya dengan ekspresi wajah seperti kebelet.


......................

__ADS_1


__ADS_2