Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS104. Berbicara dengan keluarga Zuhdi


__ADS_3

Adi dan Jefri mengatur dokumen yang diperlukan pihak rumah sakit, agar Zuhdi bisa mendapat kamar yang layak.


Hingga pukul dua siang, Zuhdi telah dipindahkan ke ruangan yang berisikan dua orang pasien.


"Pak dokter, adakah obat yang cespleng. Biar ini anak cepet bangun? Kasian, anak saya ikut sakitnya aja ini mikirin pujaannya." ucap Adi pada Jefri. Membuat Giska, ibu Robiah dan juga pak Zuhri terkekeh geli.


"Ada Sayang, ada." sahut mantan dokter tersebut, dengan berpindah ke samping kanan tubuh Zuhdi.


Lalu ia sedikit menundukkan punggungnya, untuk membisikkan sesuatu pada Zuhdi.


"Bangun, mertua kau lagi melototin kau. Dia kata kau pecundang! Belum berjuang, udah sekarat duluan!" bisik Jefri sedikit kuat, membuat Adi merasa tidak enak hati pada keluarga Zuhdi. Karena ucapan Jefri barusan, yang mengatasnamakan dirinya.


Sedikit banyaknya, Adi telah bercerita di waktu senggangnya. Saat mereka tengah mengurus dokumen untuk keperluan rumah sakit tersebut.


"Dah, tunggu beberapa saat lagi." ujar Jefri, dengan kembali menduduki kursinya semula.


"Biar apa kek gitu, Yah?" tanya Giska, yang memperhatikan Jefri dengan heran.


Jefri mengedikan bahunya, "Ilmu apa gitu, lupa Ayah. Alam bawah sadarnya dia. Misalkan dinasehati gitu, dia kek ngerasa pernah keulang lagi. Jadi ingat terus di otaknya, malah tertanam dalam pikirannya." jawab Jefri, yang semakin membuat Giska kebingungan.

__ADS_1


Giska menggaruk kepalanya yang terlapisi hijab, "Tanyanya ke abi, jangan ke ayah. Pusing kau nanti dibuatnya." ucap Adi yang membuat Jefri terkekeh geli.


Uhuk, uhuk...


Suara batuk, membuat mereka semua memusatkan perhatiannya pada Zuhdi.


Adi reflek memiringkan kepala Zuhdi, saat batuk Zuhdi semakin hebat. Kemudian Zuhdi langsung memuntahkan cairan dari dalam tubuhnya.


Membuat Jefri langsung bergegas keluar, untuk memanggilkan dokter jaga.


"Kasih ruang, Bu." ujar Adi, saat mendengar ada derap langkah yang begitu terburu-buru.


"Perasaan baru kemarin Giska dilahirkan Dinda, udah ramai mau nikah aja dia." ucap Jefri, saat mereka semua sudah berada di luar.


"Jangan dulu lah. Aku sama Dinda lagi mikirin nanti Giska diunboxingnya, takut papah-papahan terus nanti. Kan kasian suaminya, nanti dia malu sendiri." sahut Adi, yang membuat orang tua Zuhdi ikut menyuarakan tawanya.


"Haid aja nangis-nangis, minta dielus-elus sama papahnya itu Bu. Sering betul aku nganterin plester buat perutnya, kalau dia lagi haid. Drama betul, satu keluarga dibuatnya susah." ujar Jefri, yang membuat Giska menjadi pusat perhatian.


"Memang sebelumnya Teungku bilang apa ke Zuhdi? Maaf-maaf, pagi tadi saya emosi." ungkap pak Zuhri, dengan langsung menepuk pundak Adi pelan.

__ADS_1


Adi mengangguk, "Tak apa, Pak. Saya maklumi."


"Awalnya itu... Ngobrol biasa aja. Namanya orang tua dari pihak perempuan, saya mau tau lebih dengan pilihan anak saya. Apa lagi, Zuhdi ini udah mengarah ke hal yang lebih serius. Dia minta tunangan gitu kan, mungkin pikirnya buat ngikat Giska, biar Giska tak diambil laki-laki lain. Tapi pikir saya, itu percuma aja, buang-buang biaya aja. Mending biayanya ditabung, buat nambahin jumlah mayam nanti. Karena saya sendiri, ngerasain sendiri rasanya gagal tunangan. Saya selalu ngelarang, kalau anak-anak saya ada niat buat tunangan. Karena tak mau mereka dicap jelek, kelak nanti tak berjodoh sama tunangannya." Adi mengambil nafasnya lebih banyak.


"Terus, dia nanya-nanya mahar Giska gitu. Saya tak jawab itu, Pak. Saya alihkan lagi pembicaraan mayam itu, karena pikir saya dia terlalu cepat. Baru juga kemarin, mereka ketahuan punya hubungan. Masa beberapa kali ketemu, udah main tentuin mahar aja. Nah, terus datang kawannya abangnya Giska. Niat ngajak Ghavi main bola, tapi dia malah isengin Giska. Biasa, namanya juga anak laki-laki. Dia godain Giska, ngelapor ke istri saya bahwa Giska selalu nolak kalau diantar balik dia. Gurau juga dia, katanya Giska 15 mayam dapat tak. Terus akhirnya istri saya ngomong tuh, jeulame Giska 50 mayam. Terus tiba-tiba, Zuhdi pamit pulang. Mungkin dia kepikiran terus, dia takut Giska diambil itu laki-laki mungkin. Padahal, kalau memang kek gitu. Rasanya, saya pun pasti nimbang balik itu laki-laki. Apa lagi, anak saya juga yang udah abang-abangan aja ke Zuhdi. Saya baru cerita ke istri saya tentang Zuhdi pagi tadi, karena saya takut dia marah besar. Masalahnya, istri saya orangnya tega. Dari awal Giska udah dikasih peringatan, jangan mainan laki-laki sebelum jadi sarjana. Tapi nyatanya dia ngelanggar itu kan? Takut-takutnya dia dipindah lagi macam Icut, kakak lain ibu sama Giska. Nah, kan yang rugi saya juga. Saya bakal tak bisa liat anak saya tiap hari, kalau sampek istri saya mutusin Giska buat tinggal sama neneknya." ungkap Adi panjang lebar, dengan sesekali diangguki oleh kedua orang tua Zuhdi.


"Oh, jadi Icut sekarang sama neneknya? Pantesan tak pernah nampak lagi." sahut ibu Robiah. Umumnya wanita, ia pasti juga mendengar akan kabar Icut yang tak tinggal bersama mereka lagi.


Adi mengangguk, "Itulah istri saya, Bu. Awalnya saya coba tutupi ini Giska sama Zuhdi, tapi akhirnya kebongkar tadi pagi. Untungnya Dinda lagi bisa berpikir positif, mungkin kasian juga denger Zuhdi sampek minum racun serangga." balas Adi kemudian.


"Itulah, Teungku. Makanya saya mohon, ini anak-anak diambil jalan tengahnya aja. Misal memang Giska belum diizinkan menikah, ya biar Giska dikhitbah dulu sama Zuhdi. Biar Zuhdi tenang, fokus kerjanya. Nampaknya cuek, tak peduli juga. Tapi aslinya ini anak pusing betul, kalau udah menyangkut tentang Giska. Waktu lebaran aja, dia kan selama bulan puasa tahun kemarin nganggur. Buat belikan baju lebaran Giska, sampek ribut utang ke sana ke mari. Nyari kerjaan yang ada, sampek dadakan jadi tukang cuci motor. Dibayar dia empat puluh ribu sehari, dilakuinnya biar dapat uang. Padahal waktu itu, pacaran baru-baru sebulan dua bulan." ucap pak Zuhri, yang membuat Adi geleng-geleng kepala.


Ia tak sampai berlebihan seperti itu, untuk pacar-pacarnya dulu. Mungkin memang Zuhdi sudah menginginkan Giska untuk ke jenjang serius.


"Untuk maharnya, tolong jangan diberatkan Teungku." tutur ibu Robiah, terdengar seperti memohon.


"Kelak nanti, masalah mahar ini diomongin. Tolong jangan tersinggung, dengan patokan saya dan istri saya nanti kalau pada akhirnya kita mutusin terlalu tinggi. Demi Allah, semata-mata saya cuma pengen tau kesungguhan Zuhdi. Kalau memang Zuhdi tak mampu kasih segitu, sampek waktunya tiba. Ya kita obrolin balik, kita juga pengen tau ceritanya dari Zuhdi langsung. Toh, aku juga bakal cari tau, macam mana usahanya Zuhdi ngusahain jumlah mayam, jumlah uang yang kita minta. Saya mohon pengertiannya di situ. Jangan malah bersikap negatif, atau nyumpahin anak saya. Bapak, Ibu pun. Pasti ngerasain kan? Saat anak perempuannya di minta pihak laki-laki. Pasti kalian ngerasa berat ngelepasnya. Nah, untuk Giska. Kami pun sama Pak, Bu. Saya berat, karena memang Giska anak perempuan satu-satunya yang istri saya berikan. Meski Icut juga sama anak perempuan saya, tapi ibu Giska ini istri saya sampek sekarang. Istri yang kasih enam keturunan dari saya." tukas Adi, membuat pak Zuhri dan ibu Robiah saling beradu pandang.


......................

__ADS_1


Yang dimaksud Jefri itu dejavu, tapi otaknya bebel. Gak ketemu-ketemu itu kata.


__ADS_2