
Acara hari ini sudah selesai. Beberapa orang menanyakan keberadaan Ghifar, yang tak terlihat sejak acara tersebut selesai.
"Keluar kali, Mah. Tadi janjian makan bakso sama Icut, tak tau jadi atau tak." ucap Kenandra, yang tengah bermain ponsel dengan bocah umur lima tahun tersebut.
"Ganti, Bang." pinta Gavin, yang membuat Kenandra mencari video menarik lainnya.
"Icut lagi di belakang, makan sama omah sama tante Bena." jawab Adinda, yang baru keluar dari arah belakang.
"Itu di samping, Dek. Lagi sama Gibran, Kin sama Aca." jawab Adi, yang baru mengetahui keberadaan putranya.
"Makan A." lanjut Adi, berucap pada kakak dari istrinya tersebut.
"Ya, Di. Nanti aja." sahut Arif, yang ikut berkumpul bersama di ruangan tersebut.
Tiba-tiba muncul Ghifar dengan Gibran terlelap dalam dekapannya. Ghifar bersenandung, dengan mengusap-usap punggung Gibran.
"Pakiban keuh lon, rakan eu… Hom hai intan boh benci. Wate lon pike.. sabe-sabe. Lon ro ie mata. Pakiban keu lon, hai dek eu… hom hai intan boh hate. Wate lon Pike.. sabe, sabe. Rosak lam dada. Uuu… uhh… Peulheuh layang… Peulheuh layang… angen pih get uroe pih trang. Peulheuh layang… euuuu…. Angen pih get uroe pih trang… ohh lon timang… ho ho ho, bahgia… bahgia, bahagia… jak lon timang, jak lon timang… ho ho ho ho lon timang. Ho ho ho ho… bahagia.. bahgia… bahgia….." suara mendayu dengan cangkok melayu terdengar sangat membasahi hati.
"Diem aja! Siapin tempat tidur Gibran." ucap Ghifar pada ibunya, dengan suara yang ditekan.
"Seulayang lon manyang… Taloe pih panyang… Geuneurhap ngon awan… Tapi angan-angan." Ghifar mengulang kembali lagu berbahasa daerahnya.
"Tapi teuka kilat…. Aaahaaa… Layang lon h'an meupat. Benci susah hancoe. Jiwoe bak teumpat." suaranya membuat semua orang terdiam. Terlebih Canda, menurutnya lagu tersebut seperti menggambarkan hati seorang Ghifar. Meski dirinya tak paham, dengan arti lagu yang Ghifar nyanyikan.
"Di sini aja dulu katanya, Far." pinta Adinda, dengan menunjuk kamar pengantin Canda dan Ghifar.
Tuan rumah tengah mempersiapkan tempat untuk mereka tidur. Karena rumah seperti kapal pecah, jika tengah ada hajat besar-besaran seperti ini.
Ghifar mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar tersebut diikuti dengan Adinda.
__ADS_1
"Hm hm hm hm… bahagia… bahagia… bahagia…" Ghifar mencoba menaruh Gibran di atas tempat tidur dengan begitu hati-hati.
Lalu setelahnya, Adinda langsung menyelimuti Gibran. Karena nyamuk di sini, tengah berpesta ria menikmati darah tinggi Adi dan keluarganya.
"Patah hati ya? Seulayang terus." celetuk Haris, saat Ghifar berada di ambang pintu kamar pengantin tersebut. Yang terletak di bagian depan, persis di sebelah ruang tamu rumah keluarga Canda.
Ghifar yang bertelanjang dada, memperlihatkan otot kekarnya yang basah karena keringat. Tiba-tiba kedua tangannya naik ke atas kepalanya, dengan tubuhnya yang sedikit ia goyangkan.
"Linting daun labat sangat lambat laon goyang-goyang, bikin manyong… buat hati makin bimbang…" Ghifar bernyanyi kembali, dengan goyangannya yang begitu menggoda.
"Jooo… Jo, ojo…. Jo, ojo…." tambah Kinasya, seperti menyerupai bunyi musik dari lagi tersebut.
Membuat tawa mereka pecah seketika, karena tingkah Ghifar dan Kinasya tersebut.
"Aih, Abi itu. Segala nyambung-nyambungin ke patah hati." ucap Ghifar kemudian, dengan menghampiri Kinasya yang merebahkan tubuhnya di tempat yang paling dekat dengan tembok.
"Sayang…. Sayang… sunggoh hate lon malang…. Saket cinta nyoe putoh di teungoh jalan. Cinta meusangkot bak………" Ghifar bersenandung kembali, dengan merebahkan tubuhnya di samping Kinasya. Lalu memeluk tubuh Kinasya.
"Dari tadi itu, Bi. Ngeledekin aku terus, bahagia betul dia ledekin kakaknya sendiri." adu Kinasya, dengan melirik malas pada Ghifar.
"Kenapa sih pada patah hati berjamaah?" tanya Haris, dengan mendekati Ghifar dan Kinasya yang berada dalam satu bantal.
"Aku tak, Kak Kin yang patah hati." jawab Ghifar begitu mantap.
"Kau tak patah, tapi hancoe." timpal Kenandra, yang menciptakan tawa renyah kembali.
"Tadi aku makan sate kambing tiga tusuk. Pening kali ini kepala, Bi. Coba obati aku, mana tau darah tinggian juga macam Papah." ucap Ghifar mengalihkan perhatian, dengan memunggungi Kinasya dan menghadap ke arah Haris.
"Keknya apolo kau terkocok, pas kau jatuh beberapa kali itu. Jadi timbulnya memang pening di kepala." sahut Haris, yang membuat mereka berdua tertawa geli.
__ADS_1
"Macam telor ayam aja otak aku, Bi! Abi ini, macam ayah. Tak becus sebetulnya jadi dokter." balas Ghifar kemudian.
"Becus lah! Makanya digaji mahal." tukas Haris dengan menoyor kepala Ghifar.
"Coba, Bi. Pijat bagian ini, sampek aku tidur. Tidur ya, Bi. Aku di sini sama Kak Kin, berdua kelonan." ungkap Ghifar dengan memunggungi Haris, lalu memeluk Kinasya yang sudah nyaman dengan posisinya.
"Kepala bawah kau, jangan terlalu nempel ke anak Abi. Nanti kau nyari tempat lagi." ujar Haris, saat melihat kaki Ghifar naik ke atas paha anaknya.
"Tak berdiri, Bi." jawab Ghifar membuat Haris terheran-heran.
"Kok bisa?" tanya Haris kemudian.
"He'em, capek soalnya. Biasa kerja, terus mulai nganggur lagi rasanya capek kali ini badan." sahut Ghifar, yang masih anteng memeluk Kinasya.
Haris mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa khawatir, karena malah teringat akan cerita kawannya yang berprofesi sebagai psikiater.
"Kok bisa?" tanya Haris dengan memperhatikan temannya yang tengah bercerita tersebut.
"Trauma, jadinya malah doyan batangan. Tak sedikit kasusnya kek gitu, Ris." jawab Hendrik, psikiater di rumah sakit tempat Haris dinas.
"Dia kan awalnya doyan cewek kan?" sahut Haris, yang masih belum yakin dengan cerita temannya tersebut.
"Iya. Dia ini tunangan gagal dua kali, gagal nikah satu kali. Udah kesebar undangan, tiga hari lagi nikah. Tapi tiba-tiba orang tua calon pengantinnya, minta buat tak usah dilanjut. Karena ternyata, mereka seamin, tapi tak seiman. Terus tahun depan setelah kejadian itu dia nikah, beberapa tahun kemudian mereka cerai. Cerainya gara-gara anak dia bule, sedangkan dirinya pribumi. Sampek priksa segala macam, soalnya ada kan manusia albino kek gitu. Tapi anaknya beneran bule, keturunan bule. Serangan jantung tuh dia, bolak-balik rumah sakit di usia muda. Terus… lepas dia sehat. Dia ada niat kan, buat rumah tangga kembali. Tapi ternyata orientasi seksual dia bermasalah. Dia biasa aja setiap kali tengok perempuan, meski perempuan itu seksi kali lah. Dia masih tak ngeh nih, dia sampek jajan. Tapi, setelah dia diraba, e*ut, segala macam. Dia tak bereaksi sama sekali, dia nyuruh pulang tuh perempuan yang dibookingnya. Terus katanya… dia ini mainan T*itter, denger suara pria ngedesah kl*maks, dia langsung turn on." jelas Hendrik, yang membuat Haris geleng-geleng dengan menghela nafas panjangnya.
"Karena dia pengen normal, dia berobat tuh ke mana-mana. Tapi udah satu tahun sekarang, dia masih enggan sama perempuan. Jujur… sebetulnya aku takut ngobatin yang begini. Takut dia malah suka lagi sama aku." lanjut Hendrik, yang membuat Haris terkekeh geli.
"Jadi kek mana sekarang?" tanya Haris, setelah menyeruput kopi miliknya.
"Minta bantuan aku sama Susi. Seprofesionalnya aku, aku tetep takut diterkam sama dia. Aku bilang ke pasien… bahwa aku sekarang ditugaskan untuk ngerawat anak-anak yang kena trauma, karena kekerasan. Terus dia mau diambil alih sama Susi." jawab Hendrik, yang mendapat anggukan beberapa kali dari Haris.
__ADS_1
......................