Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS157. Instrospeksi diri


__ADS_3

"Kau cuma anak Papah, Giska. Orang tua masih hidup sehat begini, kau bawa-bawa warisan." ucap Adi lirih. Dari nada suaranya, ia terlihat begitu kecewa mendengar ucapan anaknya barusan.


Adi kini merasa gagal kembali, dalam mengurus dan mendidik buah hatinya.


Ia meninggalkan Giska yang masih berada di ruang keluarga, kemudian ia menghampiri istrinya yang berada di kamar tamu.


"Lagi makan, Kin?" tanya Adi, setelah dirinya membuka pintu kamar tersebut.


Kinasya mengangguk, kemudian meraih gelas berisikan air putih. Ia meneguknya perlahan, lalu menempatkan kembali gelasnya di atas nakas.


"Kau sama bang Givan dulu ya, sama kak Canda juga. Ada Icut juga, sama anaknya. Cuma memang lagi jalan-jalan keluar, lagi nyuapin Memei." Adi menarik oksigen lebih banyak.


"Papah sama Mamah tinggal dulu ya, mau ada urusan di luar buat beberapa hari. Jangan ke umi dulu, tenangin aja dulu diri kau." lanjut Adi membuat Adinda bingung.


Adi memahami reaksi bingung dari istrinya, kemudian ia memberikan kode agar istrinya mengikutinya.


Adi membawa istrinya dalam rangkulannya, ke teras rumah mereka.


"Ke kota M*dan yuk, Dek. Kita cari mojito yang enak di sana." usul Adi tiba-tiba.


"Mojito yang pakek rum? Teler nanti Abang. Kita cari mojito versi halal aja, rum diganti soda. Ada di resto yang biasa kita lesehan itu, yang nuansa rumput-rumput futsal." ucap Adinda membuat Adi sedikit dingin di hatinya.


"Mojito yang Adek suka aja. Kita liburan dulu di sana. Tiga hari sampek satu minggu. Kalau Canda sama Givan sudi, kita titipkan Gavin sama Gibran ke mereka. Tapi kalau tak, kita antar mereka ke Zuhra." sekian lama, Adi baru teringat akan salah satu adiknya yang begitu sayang pada anak-anaknya.


Sayangnya, tanpa Adi ketahui sifat dasar Nahar. Ternyata laki-laki itu cukup posesif, dengan memiliki sifat pengekang luar biasa. Alhasil, Zuhra jarang berkunjung ke rumahnya. Saat berkunjung pun, Nahar pasti mengekori Zuhra ke kediamannya.


"Nahan marah kah?" tanya Adinda lirih, dengan memperhatikan tatapan kosong suaminya.


Adi mengangguk samar, kemudian menoleh dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Abang butuh waktu berdua sama Adek. Abang mau sama Adek terus, sampek di penghujung usai." rasa haru menyelimuti Adinda, dengan ungkapan sensitif dari suaminya.


"Yuk masuk, kita packing pakaian." ajak Adinda.


Ia mencoba memahami akan beban pikiran suaminya, karena ia pun merasakan sendiri akan beban yang ada di hadapan matanya.


Masalah terus silih berganti, Adinda merasa tahun-tahun belakangan sampai sekarang, begitu menjadi tahun ujian untuk mereka berdua.


"Abang kecewa sama Giska, rasanya sakit kali Dek. Coba pahami, bahwa anak tak bisa macam yang kita inginkan. Tapi... Lama-lama, kok Abang ngerasa ini anak keterlaluan. Apa sih dosa kita? Sampek anak-anak kok nasibnya tak sesuai yang kita harapkan. Givan, kasusnya mirip Abang dulu. Putra pertama Abang, hilang tanpa kabar. Orang mati aja, ada kuburannya. Tapi Ghifar hidup, kabar pun tak sampai ke telinga kita. Jangankan tempat dan aktivitasnya sekarang. Icut luar biasa, bikin Abang gagal didik dan jagain anak perempuan paling cantik." ungkap Adi, saat Adinda tengah menaruh beberapa pakaian di atas tempat tidurnya.


"Mungkin ini karma, karena tingkah laku kita dulu. Abang pezina, aku pun pezina. Judi kita tak tanggung-tanggung. Mabuk, foya-foya, aurat.... Astaghfirullah... Keknya ini balasnya, ke anak-anak kita. Abang sadar, setelah dapat akibatnya. Abang dipenjara gara-gara ganja, kena santet, hampir aku tinggalkan juga. Aku pun sama, dipenjara udah ngalamin, diselingkuhi suami, jadi janda. Lebih-lebih saat itu aku tak sadar, kalau memang balasan lagi aku terima saat itu. Malah aku tambah-tambahin judi, godain laki-laki, buat menuhin rasa balas dendam aku ke Hendra dulu. Aku puas, liat laki-laki tersiksa li*idonya sendiri, pas mereka liat kemolekan aku yang saat itu udah istiqomah berhijab. Aku terkendali, lepas nikah sama Abang. Abang stop rokok, demi aku stop rokok juga. Abang ajak aku lima waktu, Abang bikin jadwal ngajar aku sama Givan ngaji. Apa.... Apa hidayah itu datang, pas kita nemuin orang yang tepat?" sifat cengeng Adinda menguasai dirinya sekarang.


"Adek betul kali. Givan, Icut, pezina. Giska... Dia penjudi handal, Dek. Bisnisnya judi, dia jual chip." mata kecil Adinda membulat, ia tak mempercayai pernyataan suaminya barusan.


"Ghava patah hati hebat, dia ngajak Icut nikah. Untungnya... Icut tak tertarik sama itu anak. Icut lagi hijrah, dia lagi ngerubah hidupnya sendiri sama anaknya. Kenapa... Kenapa manusia kalau udah dapatkan akibatnya, mereka baru sadar bahwa mereka salah? Terus bertaubat setelahnya. Kenapa anak-anak kita kek kita? Kenapa mereka tak lebih baik dari kita?" tandas Adi membuat Adinda memeluknya begitu erat.


Mereka hancur, saat memiliki keturunan yang tak sebaik harapannya.


Adi menggeleng pasrah, "Ini yang orang tua kita dulu rasain, pas tau ternyata kita serusak itu waktu itu. Apa ini memang zamannya? Kita dilahirkan Islam, tapi kita tak bisa mengislamkan diri kita sendiri." ujar Adi kemudian.


Obrolan mereka tak berlanjut, karena merasa amat pasrah dengan keadaan. Adi maupun Adinda, mau tak mau harus menerima kenyataan akan hal ini.


"Mah....."


Tok, tok, tok.....


"Pah....."


Tok, tok, tok.....

__ADS_1


"Aku mau cerita."


Suara anak sulung mereka, yang pagi tadi diutus oleh Adi dan Adinda untuk mengantarkan emas dan buku tabungan milik Zuhdi.


"Ya, bentar." seru Adi, kemudian ia mengusap bulir bening di pipi istrinya.


"Cuci muka dulu yuk." ajak Adi dengan tersenyum yakin pada istrinya.


Adinda mengangguk, lalu menuju ke kamar mandi pribadinya.


Kini mereka sudah berada di ruang keluarga kembali, dengan Givan dan Canda yang duduk beriringan.


Givan menghirup oksigen lebih banyak, lalu ia menghembuskan kasar.


"Gini Pah, Mah... Adinya... Eh, maksudnya Zuhdinya. Tak ada di rumah, dia udah berangkat merantau jam satu malam tadi. Terus.... Orang tuanya kaget, ibu Bi'ah sampek dadakan asmanya kumat. Mereka tak tau, bahwa malam tadi kita ke sana, buat mutusin pertunangan Giska. Soalnya Zuhdi tak cerita ke orang tuanya, mana kan orang tuanya tak ikut nimbrung sama kita waktu itu." ungkap Givan, membuat Adi dan Adinda saling beradu pandang.


"Terus kau udah balikin emasnya?" tanya Adinda. Ia sejujurnya tak menginginkan ini semua, dari awal pun sebenarnya tak menghendaki pertunangan anaknya. Ia iba dengan Zuhdi, ditambah lagi itu sudah menjadi keputusan suaminya.


Givan mengangguk samar, "Udah, Mah. Aku balikin, aku minta maaf juga sama Canda, atas nama Mamah sama Papah. Mana tau, orang tua Zuhdi sakit hati. Bapaknya kek kacau betul, dia nutupin mukanya terus. Ibunya langsung ditolong sama anaknya, untungnya asmanya tak parah." jawab Givan, ia menyadari bahwa ibunya baru saja mengeluarkan air mata. Terlihat dari kelopak matanya sedikit bengkak, juga batang hidung yang memerah.


"Terima mereka?" ujar Adi yang baru buka suara.


"Yaaa.... Terima tak terima. Kan udah keputusan kita juga." tutur Givan, yang diangguki oleh istrinya yang menemaninya tadi.


"Papah sama Mamah mau ke luar kota dulu, Van. Kau bisa tak ngurus dan jagain adik-adik kau?" tukas Adi, memberikan efek netra anak sulungnya bergulir untuk melihat reaksi teman hidupnya.


Canda dan Givan berkomunikasi dengan mata. Canda teringat akan suaminya, yang keberatan pasal dirinya membantu mengurus Givan dan Gibran.


"Aku......

__ADS_1


......................


__ADS_2